Search Destination
Temukan artikel seputar tempat dan aktivitas wisata yang kamu sukai, mulai dari berenang di pantai sampai panjat tebing.

Daerah Wisata


Jenis Wisata


Kata Kunci





SPONSORED



Total Article
1519
Total Member
12419





Home > Article

11 April 2012 | Jambi | Wisata Kota
Mengejar Orang Rimba ke TNBD, Jambi
Lina Naibaho
Traveller
Rate
Share  

1. Jl. Hayam Wuruk No 49 - 50 Jelutung - Jambi
    Telp : 0741 - 24684
    Fax  : 0741 - 24697

 

2. Jl. Prof.Dr.Sri Soedewi,SH No.5-6 Rt 02 Rw 01
    Telp : 0747 - 323577
    Fax  : 0747 - 21834

Selamat senja, Indonesia! Maret 2011, saya meninggalkan Medan dan langit senjanya. Menumpang salah satu angkutan umum menuju Jambi! Aha, libur panjang pun tiba. Kali ini saya berniat ‘live in’ di komunitas Suku Anak Dalam (SAD), Jambi. Saya sudah ‘live in’ di banyak desa di Sumatera Utara, dan belajar banyak mengenai berbagai kearifan lokal masyarakat desa. Penasaran kali ini adalah menjelajah hutan lain di belahan negeri ini. Yang unik. Yang menarik. Yang satu-satunya! Begitulah.. Isi kepala pun menggapai-gapai potret orang-orang rimba. Terinspirasi dari tayangan iklan di televisi, tentang “Butet Manurung” dan sokola rimbanya, seorang perempuan Batak yang memberikan diri dan ilmunya untuk pendidikan masyarakat di pedalaman Jambi.

 


Perjalanan Medan-Jambi menghabiskan waktu dua hari satu malam. Cukup melelahkan memang, tetapi untuk pencinta jalan-jalan, tak begitu masalah. Saya menghabiskan waktu beberapa hari di Kota Jambi, mencari dan mengumpulkan berbagai informasi untuk mencapai komunitas Orang Rimba yang  belum saya ketahui sama sekali.

 

Komunitas mahasiswa pencinta alam (mapala) menjadi pilihan untuk memperoleh informasi. Hari ke sekian di Jambi, saya berkunjung ke “Oase”, Mapala Fakultas Hukum Universitas Jambi. Mapala ini mengaku lebih banyak mengeksplor macam-macam gunung di sekitar Jambi dan Riau, dan menawarkan untuk mendaki Gunung Kerinci saja. “Jauh-jauh dari Medan, kok mau ‘live in’ sama Orang Rimba, Mbak? Kami aja enggak berani ke sana.. Ke Kerinci bae, Mbak..” seloroh mereka. SAD memang sering disebut dengan Orang Rimba atau Suku Kubu. Saya menanggapi dengan senyum. Gunung kita memang cantik, tetapi melihat secara langsung kearifan lokal dan cara hidup masyarakat Indonesia yang masih bergaul dengan alam juga tak kalah cantik!

 


Besoknya, ditemani oleh salah seorang anggota Oase, saya mengunjungi Warung Informasi Konservasi (Warsi)-Jambi, salah satu lembaga sosial yang mempunyai program pendampingan pada SAD. Di pelataran Warsi, kami berdiskusi. Awalnya hanya bertanya bagaimana cara ke sana, tetapi keberuntungan sedang berpihak, kawan-kawan Warsi akan ke komunitas SAD sehari setelah saya bertamu. Beruntungnya lagi, ternyata salah satu staf Warsi adalah senior saya di kampus. Perjalanan semakin lempang, bukan? Bayang wajah Orang Rimba semakin jelas di mata!

 

Menurut kawan-kawan Warsi, SAD tersebar di beberapa tempat, yaitu di Taman Nasional Bukit Duabelas (TNBD), Taman Nasional Kerinci Seblat, Taman Nasional Berbak, dan Taman Nasional Bukit Tigapuluh. Namun yang paling dekat dari pusat kota adalah Taman Nasional Bukit Duabelas. Mengantongi banyak informasi, saya mengejar Orang Rimba! Menggunakan angkutan umum, melewati Kota Jambi, Kabupaten Batanghari, dan selang perjalanan kurang lebih tiga jam, bus tiba di Kabupaten Sarolangun. Di kabupaten ini, saya mengurus simaksi (surat ijin masuk kawasan konservasi) di Kantor Balai TNBD (BTNBD). Simaksi menjadi syarat wajib jika kita mengunjungi TNBD. Pengurusannya tidak lama dan tidak dikenakan biaya. Pasca membuat simaksi, bersama salah satu staf lapangan BTNBD, kami menuju TNBD!

 

TNBD berlokasi di Kecamatan Pauh, sekitar 25 km dari Kota Pauh. Atau sekitar dua jam perjalanan dari Simpang Pauh menggunakan kendaraan roda empat/roda dua. Sebagian jalan menuju taman nasional merupakan jalan aspal, tetapi mendekati lokasi, kondisi jalan mulai jelek dan berbatu. Di kiri-kanan jalan, ditemui perkebunan sawit, pohon-pohon rindang, dan tanaman karet. Desa yang berada tepat di pinggir TNBD adalah Desa Pematang Kabau.

 

Pagi-pagi, saya dan tim Warsi berkemas dan mempersiapkan bekal. Kami berencana menginap di hutan, dan saya mempersiapkan diri untuk menginap pada salah satu rumah Orang Rimba. Perjalanan yang kami tempuh tak begitu jauh, tetapi cukup melelahkan karena jalan mendaki dan menurun berulang kami lalui. Beberapa kali kami beristirahat untuk minum dan sekedar menarik nafas, akhirnya kami tiba di sebuah pondok, tempat di mana kawan-kawan Warsi mengadakan sekolah untuk Orang Rimba. Di sekitar lokasi inilah salah satu titik di mana Orang Rimba bermukim. Pondok ini semacam panggung yang diberi tangga dan atap, tanpa dinding, dibangun menirukan gaya rumah Orang Rimba. Ternyata orang asing tidak diperbolehkan menginap di rumah Orang Rimba, maka di sinilah kami menginap, bersama pemuda tanggung SAD yang sudah menunggu. Harapan saya untuk menginap dan ‘live in’ di rumah Orang Rimba pun pupus.

 

Sepanjang sore itu, saya dapat memperhatikan aktivitas Orang Rimba yang lalu-lalang. Meski jumlah mereka tak sebanyak yang saya bayangkan, tetapi menemui beberapa Orang Rimba sudah membuat saya mengetahui cara hidup mereka. Mereka berburu dan mengumpulkan hasil hutan. Berburu burung-burung, kancil, rusa, dan babi. Hasilnya mereka konsumsi sendiri, dan sebagian dijual kepada masyarakat transmigrasi yang bermukim di pinggiran TNBD. Sementara perempuan dan anak-anak nampak beraktivitas di sungai pada sore hari, mencuci peralatan rumah tangga yang sangat sederhana dan mengangkat air ke pondok masing-masing. Nampak juga perempuan-perempuan yang membuat keranjang/kerajinan dari bambu dan mengolesinya dengan pewarna alami (jernang). Mereka juga membuat gelang-gelang dan kalung dari biji-bijian yang terdapat di hutan. Saya tersenyum dan berusaha menyapa mereka yang lewat. Tetapi mereka nampak sangat pemalu, dan tidak begitu memahami bahasa Indonesia. Mereka menggunakan bahasa SAD dalam berkomunikasi.

 

Saya memperhatikan, secara fisik, Orang Rimba berperawakan sedang, gigi mereka cenderung tidak terawat karena kebiasaan mereka mengunyah sirih dan merokok, rambut agak keriting dan terlihat kusut. Orang Rimba ini ada yang berkulit coklat gelap dan coklat terang. Perbedaan kedua warna kulit ini sangat terlihat, dan mereka yang berkulit coklat terang secara fisik lebih terawat.

 

 

 

Kearifan lokal Orang Rimba

 

Berada di komunitas Orang Rimba, seperti mundur ke peradaban jutaan tahun lampau. Bagai masuk dalam pelajaran sejarah di bangku SMP, melihat nenek moyang manusia yang hidup di jaman batu, tidak mengenal pakaian dan teknologi. Orang Rimba hidup sangat sederhana dan sangat bergantung pada alam. Laki-laki mereka memakai cawat saja. Cawat dimaksud merupakan lilitan kain sarung. Beberapa sudah menggunakan baju tetapi celananya tetaplah cawat atau dalam istilah mereka disebut “kancut”. Sementara perempuan mereka menggunakan kain sarung yang dikaitkan sampai menutupi dada, tetapi untuk perempuan yang sudah menikah, hanya menutupi sampai pinggul.

 

Di hutan ini, Orang Rimba berinteraksi dengan alam, saling memberi, saling memelihara dan saling menghidupi. Mereka tidak seperti kita yang hidup di kota yang merasa nyaman jika tidur lelap dalam kungkungan rumah beton dan pintu tertutup. Mereka hidup di alam terbuka, selang-seling pepohonanlah yang menjadi dinding pelindung rumah Orang Rimba. Satu hari bersama Orang Rimba, tak cukup untuk mempelajari berbagai kearifan lokal yang mereka miliki.

 

Dalam kunjungan, saya juga bertemu dengan Temenggung Ngrip. Temenggung adalah pimpinan tertinggi dalam satu kelompok Orang Rimba. Kesempatan itu tak saya sia-siakan, saya memperoleh satu nilai lokal yang mereka punyai dalam menjaga kelestarian alam. Sembari menunjukkan jenis pohon setubung dan tenggeris di tengah hutan, beliau menjelaskan pada saya bahwa kedua jenis pohon tersebut adalah bagian dari jiwa Orang Rimba.

 

Bagi Orang Rimba, ketika bayi lahir, ubun-ubun dan tali pusar setiap bayi diolesi kulit pohon tenggeris. Kulit kayu itu dikerok, dikeringkan, lalu dioleskan pada ubun-ubun dan tali pusar. Dalam waktu tujuh hari, ubun-ubun akan mengeras. Sementara tali pusar akan tanggal dan mengering. Nah ari-ari tali pusar yang lepas ini ditanam bersama satu bibit setubung. Kelak, mereka mempercayai bahwa jiwa anak itu hidup dalam pohon tersebut.

 

Lokasi tempat mengubur ari-ari jarang dilalui oleh Orang Rimba, dan dikeramatkan layaknya pekuburan. Pohon tenggiris dan setubung, bahkan pohon-pohon yang berada di lokasi pekuburan ari-ari tak boleh ditebang atau dijadikan tempat berladang. Jika ditinjau dari segi pelestarian alam, hal ini sangat baik karena sebagian besar pohon tersebut tumbuh di sekitar sungai yang mengalir di TNBD. Dan setiap kelahiran bayi berarti ada satu pohon yang turut tumbuh. Sungguh kearifan lokal yang luar biasa. Menanam pohon dan tidak seenaknya mengeksploitasi lahan berarti menjaga kelestarian ekosistem hutan.

 

"Kalau ada yang menebang, bagaimana?" tanyaku pada tumenggung.

"Dewo marah," jawabnya.

 

Dalam kepercayaan spiritual Orang Rimba, ternyata mereka mempercayai Tuhan yang mereka sebut dengan Dewo-dewo. Mereka percaya pada kekuatan alam. Memuja roh nenek moyang. Menghormati ajaran turun-temurun sebagai bagian dari cara hidup jutaan tahun yang diwariskan nenek moyang.

 


Gelap menghampiri, dedaunan rimbun tak memberi celah yang banyak bagi cahaya bulan dan bintang. Kami menghidupkan perapian, mengobrol sampai larut bersama pemuda-pemuda tanggung SAD. Satu per satu dari kami mulai tertidur dalam kondisi yang sedemikian sederhana. Saya sudah mengunjungi banyak tempat dan tidur di alam bebas, tapi baru kali ini tidur berdindingkan udara hutan dataran rendah yang hangat.

 

 

Perapian sudah padam. Sunyi menghampiri seisi alam. Mereka yang di sekeliling saya sudah tertidur pulas. Saya masih terjaga memandang hitam langit. Ah siapa bilang saya sedang tak ‘live in’ di rumah Orang Rimba? Taman hutan inilah rumah mereka. Rumah ini hangat dan nyaman, hanya nyamuk yang sebentar usil menyapa. Dan di pucuk-pucuk pohon yang tinggi, angin bersenandung menghempas-hempas dahan dan ranting, saling bertabrakan di udara. Suaranya lembut dan segar, meninabobokkan kami yang sedang menelusuri lorong mimpi sendiri-sendiri. Kami terlelap di belantara Jambi. Ini lah rumah Orang Rimba.


Labels: Suku Anak Dalam , Jambi , Orang Rimba , Anak Rimba , Suku Kubu , Taman Nasional Bukit Duabelas (TNBD)



Artikel Menarik Lainnya

2 Day trip ke Martapura (Kalimantan Selatan )
 
#BudayaNegeriku Wisata Marathon di Kota Pelajar
 
#Budaya Negeriku - Jember Fashion Carnival, Budaya Modern masa kini
 
#BudayaNegeriku - Menengok Seni Berbalas Pantun Dalam Pernikahan Adat Melayu Karimun
 
#BudayaNegeriku Mengabadikan Eksotisme Keraton Ratu Boko di atas Prangko
 
0 Komentar Tampilkan

Tidak ada komentar.




User name
Password