Search Destination
Temukan artikel seputar tempat dan aktivitas wisata yang kamu sukai, mulai dari berenang di pantai sampai panjat tebing.

Daerah Wisata


Jenis Wisata


Kata Kunci





SPONSORED



Total Article
1521
Total Member
13612





Home > Article

13 April 2012 | Sumatera Selatan | Wisata Kota
Pulau Kemaro Palembang, Bukti Cinta Dua Insan yang berbeda
Lenny
Explorer
Rate
Share  

1. Batu Raja
    Jl. DR. Moh. Hatta Komp. Simpang Baku RT. 11/05
    Telp : 0735-322200 / 327129
    Fax  : 0735-323675

 

2. Palembang
    Jl. R. Sukamto
    Telp : 0711 - 310 511

 

3. Lubuk Linggau
    Jl. Yos Sudarso No 75
    Telp : 0733-452452
    Fax :  0733-451558

 

Pulau Kemaro Palembang, Bukti Cinta Dua Insan yang berbeda

Salah satu wisata favorit di Provinsi Sumatera Selatan atau Palembang

adalah wisata kuliner yang biasanya berupa olahan ikan seperti pempek,

kerupuk hingga ikan pindang. Tidak lengkap kalau sampai meninggalkannya

tanpa membelinya sebagai buah tangan. Tetapi ada salah satu wisata yang

sangat populer khususnya menjelang Cap Go Meh dan hari besar umat

tionghoa lainnya yakni wisata religi ke Pulau Kemaro.

Alkisah, ada legenda seorang putri raja bernama Siti Fatimah yang

disunting oleh seorang saudagar Tionghoa yang bernama Tan Bun An pada

zaman kerajaan Palembang. Siti Fatimah diajak ke daratan Tiongkok

(Cina) untuk melihat orang tua Tan Bun An. Setelah disana beberapa

waktu Tan Bun An beserta Siti Fatimah pamit pulang ke Palembang dan

dihadiahi tujuh buah guci. Sesampai di perairan musi dekat pulau

kemaro, Tan Bun An melihat isi hadiah yang diberikan. Begitu dibuka,

Tan Bun An kaget sekali karena guci guci tersebut hanya berisi sawi

asin. Tanpa banyak berpikir langsung dibuangnya ke sungai, tapi guci

yang terakhir terjatuh dan pecah diatas dek perahu layar. Ternyata ada

hadiah lain yang tersimpan di dalamnya. Tanpa banyak berpikir lagi Tan

Bun An melompat ke sungai untuk mencari guci guci tadi. Turut serta

seorang pengawal yang ikut terjun membantu Tan Bun An. Tetapi setelah

ditunggu tunggu, keduanya tidak muncul lagi. Siti Fatimah yang sedih

melihatnya juga turut melompat ke sungai. Tapi pada akhirnya ketiga

tiganya tidak pernah muncul kembali. Penduduk sekitar pulau sering

mendatangi pulau kemaro untuk mengenang mereka dan sejak itu pulau ini

dianggap keramat.

Selain legenda pulau kemaro tersebut, banyak juga rumor yang beredar

bahwa pulau ini merupakan jelmaan dari pasangan muda mudi berbeda agama

yang bunuh diri karena tidak direstui hubungannya oleh orang tua.

Tetapi rumor lain mengatakan jika berdoa dengan sungguh sungguh di

pulau ini, maka kelak akan mendapatkan jodoh yang diinginkan.

Kebetulan, di pulau ini terdapat sebuah pohon besar yang dipercaya

dapat mengabulkan permohonan jodoh kita. Pasangan muda mudi menuliskan

nama mereka dan pasangan di pohon ini sambil berdoa bahwa mereka benar

benar adalah pasangan yang telah ditentukan. Tetapi mulai tahun ini,

pohon ini telah diberi pagar sehingga tidak ada lagi orang yang dapat

mencoret coretnya. Selain itu salah satu icon selain kelenteng adalah

pagoda dengan 9 lantai. Sayangnya tidak diizinkan untuk menaikinya.


Terlepas dari segala mitos dan legenda pulau kemaro, saya dan teman

teman dari Jambi berencana melihatnya langsung dengan mata kepala

sendiri pada peringatan hari cap go meh yang jatuh pada tanggal 4

Februari silam. Antrian panjang dan kemacetan adalah hal lumrah yang

terjadi tiap tahun. Jalan darat yang ditempuh dari tengah kota

palembang harusnya dapat dicapai dalam waktu 30 menit saja molor hingga

3 jam lamanya. Tetapi ini tidak membuat para pengunjung patah semangat.

Kepadatan pengunjung telah tampak mulai dari sore hari hingga menjelang

dini hari. Disarankan jika ingin berkunjung datanglah pada pagi hari

atau siang hari. Puncak acara diadakan menjelang tengah malam. Parkiran

mobil penuh sesak dengan mobil yang justru didominasi dari plat luar

daerah seperti jambi, pekanbaru hingga yang datang dari pulau jawa.

Atribut serta banner selamat hari raya Cap Go Meh ada dimana mana.

Warna merah juga tampak sangat dominan menyelimuti seisi pulau.


Banjirnya pengunjung dimanfaatkan oleh banyak pihak. Salah satunya

untuk meraup rezeki dari para pengunjung. Ada pedagang yang menjual

makanan dan minuman, alat sembahyang, pulsa, hewan hewan untuk

dilepaskan (berupa burung, dipercaya dapat membawa rezeki), hingga

pakaian dan souvenir khas palembang. Para pengemis juga tidak mau

kalah.Mereka berharap belas kasih pengunjung. Untungnya mereka telah

ditertibkan di satu pojok dan tidak berkeliaran di sepanjang jalan.

Pihak pengelola tahun ini pun nampak lebih siap dengan serangan ribuan

pengunjung. Jika di tahun kemarin akses menuju pulau harus ditempuh

dengan menyewa perahu kecil, maka tahun ini telah disiapkan semacam

jembatan penghubung dari besi. Sayangnya masih dapat dilihat sampah

yang bertebaran di mana mana serta antrian panjang di kamar kecil.

Semoga saja tahun tahun berikutnya pengelolaan akan lebih baik lagi

sehingga wisata religi ini dapat terus mempopulerkan Palembang.


Labels: palembang ; cinta ; religi



Artikel Menarik Lainnya

2 Day trip ke Martapura (Kalimantan Selatan )
 
#BudayaNegeriku Wisata Marathon di Kota Pelajar
 
#Budaya Negeriku - Jember Fashion Carnival, Budaya Modern masa kini
 
#BudayaNegeriku - Menengok Seni Berbalas Pantun Dalam Pernikahan Adat Melayu Karimun
 
#BudayaNegeriku Mengabadikan Eksotisme Keraton Ratu Boko di atas Prangko
 
0 Komentar Tampilkan

Tidak ada komentar.




User name
Password