|
1. Batu Raja
Jl. DR. Moh. Hatta Komp. Simpang Baku RT. 11/05
Telp : 0735-322200 / 327129
Fax : 0735-323675
2. Palembang
Jl. R. Sukamto
Telp : 0711 - 310 511
3. Lubuk Linggau
Jl. Yos Sudarso No 75
Telp : 0733-452452
Fax : 0733-451558
Pulau Kemaro Palembang, Bukti Cinta Dua Insan yang berbeda
Salah satu wisata favorit di Provinsi Sumatera Selatan atau Palembang
adalah wisata kuliner yang biasanya berupa olahan ikan seperti pempek,
kerupuk hingga ikan pindang. Tidak lengkap kalau sampai meninggalkannya
tanpa membelinya sebagai buah tangan. Tetapi ada salah satu wisata yang
sangat populer khususnya menjelang Cap Go Meh dan hari besar umat
tionghoa lainnya yakni wisata religi ke Pulau Kemaro.
Alkisah, ada legenda seorang putri raja bernama Siti Fatimah yang
disunting oleh seorang saudagar Tionghoa yang bernama Tan Bun An pada
zaman kerajaan Palembang. Siti Fatimah diajak ke daratan Tiongkok
(Cina) untuk melihat orang tua Tan Bun An. Setelah disana beberapa
waktu Tan Bun An beserta Siti Fatimah pamit pulang ke Palembang dan
dihadiahi tujuh buah guci. Sesampai di perairan musi dekat pulau
kemaro, Tan Bun An melihat isi hadiah yang diberikan. Begitu dibuka,
Tan Bun An kaget sekali karena guci guci tersebut hanya berisi sawi
asin. Tanpa banyak berpikir langsung dibuangnya ke sungai, tapi guci
yang terakhir terjatuh dan pecah diatas dek perahu layar. Ternyata ada
hadiah lain yang tersimpan di dalamnya. Tanpa banyak berpikir lagi Tan
Bun An melompat ke sungai untuk mencari guci guci tadi. Turut serta
seorang pengawal yang ikut terjun membantu Tan Bun An. Tetapi setelah
ditunggu tunggu, keduanya tidak muncul lagi. Siti Fatimah yang sedih
melihatnya juga turut melompat ke sungai. Tapi pada akhirnya ketiga
tiganya tidak pernah muncul kembali. Penduduk sekitar pulau sering
mendatangi pulau kemaro untuk mengenang mereka dan sejak itu pulau ini
dianggap keramat.
Selain legenda pulau kemaro tersebut, banyak juga rumor yang beredar
bahwa pulau ini merupakan jelmaan dari pasangan muda mudi berbeda agama
yang bunuh diri karena tidak direstui hubungannya oleh orang tua.
Tetapi rumor lain mengatakan jika berdoa dengan sungguh sungguh di
pulau ini, maka kelak akan mendapatkan jodoh yang diinginkan.
Kebetulan, di pulau ini terdapat sebuah pohon besar yang dipercaya
dapat mengabulkan permohonan jodoh kita. Pasangan muda mudi menuliskan
nama mereka dan pasangan di pohon ini sambil berdoa bahwa mereka benar
benar adalah pasangan yang telah ditentukan. Tetapi mulai tahun ini,
pohon ini telah diberi pagar sehingga tidak ada lagi orang yang dapat
mencoret coretnya. Selain itu salah satu icon selain kelenteng adalah
pagoda dengan 9 lantai. Sayangnya tidak diizinkan untuk menaikinya.
Terlepas dari segala mitos dan legenda pulau kemaro, saya dan teman
teman dari Jambi berencana melihatnya langsung dengan mata kepala
sendiri pada peringatan hari cap go meh yang jatuh pada tanggal 4
Februari silam. Antrian panjang dan kemacetan adalah hal lumrah yang
terjadi tiap tahun. Jalan darat yang ditempuh dari tengah kota
palembang harusnya dapat dicapai dalam waktu 30 menit saja molor hingga
3 jam lamanya. Tetapi ini tidak membuat para pengunjung patah semangat.
Kepadatan pengunjung telah tampak mulai dari sore hari hingga menjelang
dini hari. Disarankan jika ingin berkunjung datanglah pada pagi hari
atau siang hari. Puncak acara diadakan menjelang tengah malam. Parkiran
mobil penuh sesak dengan mobil yang justru didominasi dari plat luar
daerah seperti jambi, pekanbaru hingga yang datang dari pulau jawa.
Atribut serta banner selamat hari raya Cap Go Meh ada dimana mana.
Warna merah juga tampak sangat dominan menyelimuti seisi pulau.
Banjirnya pengunjung dimanfaatkan oleh banyak pihak. Salah satunya
untuk meraup rezeki dari para pengunjung. Ada pedagang yang menjual
makanan dan minuman, alat sembahyang, pulsa, hewan hewan untuk
dilepaskan (berupa burung, dipercaya dapat membawa rezeki), hingga
pakaian dan souvenir khas palembang. Para pengemis juga tidak mau
kalah.Mereka berharap belas kasih pengunjung. Untungnya mereka telah
ditertibkan di satu pojok dan tidak berkeliaran di sepanjang jalan.
Pihak pengelola tahun ini pun nampak lebih siap dengan serangan ribuan
pengunjung. Jika di tahun kemarin akses menuju pulau harus ditempuh
dengan menyewa perahu kecil, maka tahun ini telah disiapkan semacam
jembatan penghubung dari besi. Sayangnya masih dapat dilihat sampah
yang bertebaran di mana mana serta antrian panjang di kamar kecil.
Semoga saja tahun tahun berikutnya pengelolaan akan lebih baik lagi
sehingga wisata religi ini dapat terus mempopulerkan Palembang.
Labels: palembang ; cinta ; religi
Artikel Menarik Lainnya
| 0 Komentar | Tampilkan |
Tidak ada komentar.







