Search Destination
Temukan artikel seputar tempat dan aktivitas wisata yang kamu sukai, mulai dari berenang di pantai sampai panjat tebing.

Daerah Wisata


Jenis Wisata


Kata Kunci





SPONSORED



Total Article
1535
Total Member
17330





Home > Article

13 April 2012 | Sumatera Selatan | Wisata Alam
Pulau Kemaro, Menyimpan Beragam Hal Unik
ILHAM BUCHORI
Walker
Rate
Share  

1. Batu Raja
    Jl. DR. Moh. Hatta Komp. Simpang Baku RT. 11/05
    Telp : 0735-322200 / 327129
    Fax  : 0735-323675

 

2. Palembang
    Jl. R. Sukamto
    Telp : 0711 - 310 511

 

3. Lubuk Linggau
    Jl. Yos Sudarso No 75
    Telp : 0733-452452
    Fax :  0733-451558

 

Meski saya lama tinggal Palembang, jujur saya belum pernah menginjakkan kaki ke Pulau Kemaro. Selama ini, saya hanya bisa mendengar dari cerita teman atau kerabat bahwa di Pulau Kemaro itu ada pagoda dengan bentuk yang unik. Ada pula pohon jodoh. Makanya ketika perayaan Cap Go Mee awal Februari 2012 silam, saya menyempatkan diri untuk mengunjunginya. Saya ingin sekali melihat dari dekat bagaimana bentuk pagoda dan pohon jodoh.

Saya dan warga lainnya memulai perjalanan dari Dermaga Gudang Garam, Kelurahan 16 Ilir Palembang. Dengan menumpangi kapal tongkang, akhirnya sang kapten membawa kami menuju ke Pulau Kemaro. Perlahan semakin perlahan tongkang berjalan pelan membelah Sungai Musi. Semilir angin tak bosan-bosannya menerpa wajah saya.

Selama menuju perjalanan, pengunjung dihibur dengan iringan musik orgen. Beragam jenis dan lagu dibawakan. Ada lagu  pop, dangdut sampai lagu mandarin. Selama itu pula, saya tak henti-hentinya memainkan kamera saya untuk mengambil gambar-gambar berupa bangunan lama yang ada di pesisir Sungai Musi, seperti PT Pusri, Masjid Lawang Kidul, aktivitas di Pelabuhan Boom Baru, dan lain sebagainya.

Berselang setengah jam kemudian, tongkang pun mulai merapat. Saya dan warga mulai berhamburan. Tentunya, bagi umat Budha mereka langsung melakukan ritual (sembahyang). Sedang agama diluar itu, hanya bisa melihat-lihat berbagai acara yang telah disuguhkan oleh panitia.

Untuk membunuh rasa penasaran yang telah lama bersemayam di benak saya, saya pun langsung melangkahkan kaki di mana pagoda berada. Ketika tiba di sana, hmmm… benar-ebnar eye catching. Saya perhatikan lamat-lamat bentuk dan ornamennya. Warna pagoda didominasi oleh warna merah terang dan kuning dibalut dengan arsitektur China – Palembang – Jawa – Arab – India. Jumlah lantainya ada sembilan. Di samping pagoda, bertengger pula patung budha berukuran besar berwarna kuning keemasan. Saya tak tahu – apa nama patung itu.

Ketika saya hendak mengambil gambar pagoda dari tepi Musi, tak sengaja mata saya tertuju pada beberapa patung budha ukuran serupa yang ada di tepi sungai. Bentuknya juga unik dan menarik hati. Setelah puas melihat dari dekat dan take picture pagoda dan patung tersebut, saya pun bergegas menuju Pohon Jodoh yang letaknya tak jauh dari pagoda.

Tapi sayang, saya tak bisa melihat dan mengamati Pohon Jodoh dari dekat pasalnya pohon ini telah dipagari oleh  pengelola Pulau Kemaro. Menurut cerita yang berkembang di masyarakat, setiap pasangan yang mengukirkan nama di pohon itu, diyakini bisa langgeng – bahkan akan sampai menuju ke pelaminan. Tak heran ketika saya ada di dekat pohon itu, banyak pasangan muda-mudi warga Tionghoa yang ikut memadati.

Dari sana, saya kemudian melihat berbagai pertunjukan yang telah disediakan oleh panitia. Saya berjalan dari satu panggung ke panggung untuk melihat pertunjukan-pertunjukan itu. Ada pertunjukan wayang orang, musik, barongsai, dan lain sebagainya. Dan tak lupa, tentunya saya telah siap dengan kamera untuk mengabadikan pertunjukan “langkah” itu.

Puas berkeliling, saya pun istirahat sebentar sambil menikmati pempek dan es tebu yang dijual oleh pedagang di sana. Saya lirik jam yang melingkari pergelangan tangan saya. Jarum pendeknya hampir merapat ke angka satu. Tak terasa hampir 4 jam saya berada di Pulau Kemaro. Namun ketika saya hendak berjalan pulang menuju tongkang berlabuh, saya sempat melihat batu yang bertuliskan sejarah singkat Legenda Pulau Kemaro. Sebenarnya saya telah tahu legenda tersebut dari berbagai sumber, namun sebagai manifestasi saya terhadap legenda tersebut, saya tak mau ketinggalan untuk mengabadikannya dengan memotonya.

Di batu itu, tertulis jelas bagaimana legenda terbentuknya Pulau Kemaro. Cerita bermula ketika seorang pemuda Tiongkok bernama Tan Bun An mempersunting seorang Putri Kerajaan Palembang, Siti Fatimah. Setelah itu, Tan Bun An mengajak Siti Fatimah ke Tiongkok untuk menemukannya degan kedua orangtuanya. Pulang dari sana, mereka Llalu diberi hadiah berupa 7 buah guci berisi emas yang di atasnya ditutupi dengan sayur-sayuran. Hal ini dimaksudkan untuk mengantisipasi para pembajak selama di perjalanan.

Sesampai di tengah perairan sungai Musi, lantas Tan Bun An memeriksa 7 guci tersebut. Namun alangkah marah bercampur kecewa Tan Bun An ketika mengetahui bahwa isi guci itu adalah sayur-sayuran. Tak menunggu lama, Tan Bun An kemudian membuang sayur dan guci tersebut ke sungai. Ketika guci yang terakhir hendak dibuang, guci tersebut terhempas pada dinding kapal dan pecah berantakan sehingga terlihatlah kepingan emas yang ada didalamnya.
Tan Bun Ann pun menyesal, lalu ia terjun ke dalam sungai untuk mencari kembali guci-guci tersebut. Namun sayang, Tan Bun An tidak muncul lagi. Melihat akan hal itu, Siti Fatimah menjadi sedih. Maka ia pun memutuskan untuk menyusul ke dalam sungai untuk mencari Tan Bun An.

Namun sebelum terjun, Siti Fatimah sempat mengatakan, bahwa bila ia tidak berhasil menemukan kekasih tercinta dan bila suatu saat ada gundukan tanah yang muncul dari dalam dasar sungai ini, maka di sanalah kuburan saya. Dan ternyata benar, tiba-tiba dari bawah sungai timbul gundukan tanah yang akhirnya sekarang diyakini oleh warga setempat menjadi Pulau Kemaro.

Ada sebuah kenangan yang tak terlupakan ketika saya hendak pulang menuju Dermaga Gudang Garam, 16 Ilir Palembang. Di tengah perjalanan, tongkang yang saya tumpangi hampir menabrak kapal pengangkut batu bara. Semua penumpang menjerit ketakutan. Tapi beruntung, sang kapten bisa mengatasinya. Akhirnya saya dan warga yang lainnya pun bisa pulang dengan selamat meski kaos yang saya kenakan dipenuhi keringat akibat teriknya matahari. Benar-benar pengalaman yang tak terlupakan. ^-^


Labels:



Artikel Menarik Lainnya

10 Hal Dilakukan di Mentawai
 
Taman Buaya Asam Kumbang, Taman Reptil Terbesar di Indonesia
 
Semalam di Baduy Ditemani Sebungkus Mie
 
DANAU BATUR AKAN DISULAP MENJADI GEOPARK PERTAMA DI INDONESIA
 
Danau Air Asin Napabale Pulau Muna ; Mutiara Timur  Kaki Tenggara Sulawesi Yang Terlupakan
 
0 Komentar Tampilkan

Tidak ada komentar.




User name
Password