![]() |
|
1. Bekasi
Ruko Grand Mall Blok C 20,
Jl. Jend. Sudirman No. 1
Telp : 021 - 89119761
2. Bekasi
Jl. Gatot Subroto No. 36 - 38,
Kp. Pilar RT 02 / RW08
Telp : 021 - 89119761
Fax : 021 - 89119765
3. Depok
Jl. Margonda Raya No 88 A-C
Telp : 021-77204222
Fax : 021-77200022
4. Bogor
Jl. Raya Tajur No. 162 D
Telp : 0251-378862
Fax : 0251-310543
5. Bandung
Jl. Terusan Pasir Koja No. 98 Rt 011 / 08
Jamika - Bojong Loa Kaler - Bandung
Telp : 022-6041945
Fax : 022-6041947
6. Sumedang
Jl. Mayor Abdurachman No 103
Telp : 0261 - 208258
Fax : 0261-208256
7. Subang
Jl. Letjen.Suprapto No. 3
Telp : 0260-421172
Fax : 0260-421167
8. Karawang
Jl. Sorokunto No 52, RT 01 / RW 08
Telp : 0264-304703
9. Tasikmalaya
Komp. Ruko TST
Jl. Ir. H. Juanda No 18 Rt.01/04
Telp : 0265-327525
Fax : 0265-327528
10. Garut
Jl. Cikuray No. 38 Rt. 001 / Rw. 006
Telp : 0262-240969
Fax : 0262-243307
11. Banjar
Jl. Mayjend. Didi Kartasasmita 3, 5, 6
Telp : 0265-744336
Fax : 0265-745290
12. Cirebon
Jl. Dr. Wahidin No. 63
Telp : 0231-230750
Fax : 0231-232481
13. Indramayu
Jl. Raya Bangkaloa Ilir No. 25
Telp : 0234-352919
Fax : 0234-353300
14. Sukabumi
Jl. Pabuaran No. 12 Rt. 005 / Rw. 002
Telp : 0266-215366
Fax : 0266-217203
15. Cianjur
Jl. IR. H. Juanda No. 19, RT 01 / RW 13
Telp : 0263-282723
Fax : 0263-282726
Dari kejauhan, bentuk bangunan yang terlihat seperti bongkahan-bongkahan batu besar berwarna hitam langsung menjadi pusat perhatian yang sekaligus menggambarkan kesan misterius dan cukup horor dari Taman Goa Sunyaragi ini.
Hingga saat ini, masih banyak situs-situs bersejarah di dunia yang menyimpan misteri dibalik pembuatannya. Angkor Wat di Kamboja dan Candi Borobudur merupakan dua contoh situs yang menjadi pusat perhatian dunia.
Sebagai Negara yang memiliki sejarah dan budaya yang begitu panjang, Indonesia ternyata juga memiliki satu situs di kota Cirebon yang penuh dengan misteri dan kebudayaan namun sayangnya luput dari perbincangan. Tidak heran kalau masih ada orang-orang di kota Cirebon yang bahkan tidak tahu dimana lokasi komplek taman goa yang penuh misteri dan cukup angker ini.
Taman yang lebih dikenal dengan nama Goa Sunyaragi ini adalah sebuah komplek Taman Sari yang konon mulai dibangun pada tahun 1703. Sepintas, semua dinding yang ada hanya tampak seperti tumpukan batu kali yang ditempel secara acak. Bentuk arsitektur bergaya Eropa, Hindu, Timur tengah dan China ini menjadi daya tarik utama bangunan di lokasi seluas 15 hektar ini.
Pada salah satu bale, dapat dilihat susunan tembok yang diisi oleh keramik berwarna biru dengan latar dinasti China dan keramik berwarna coklat dengan latar perumahan Belanda. Bahkan, ada satu kuburan yang dinamakan “Monumen Cina.” Kabarnya, kuburan tersebut didiami oleh seorang keturunan China yang cukup berkuasa dimasanya.
Cirebon memang banyak dipengaruhi oleh sejarah dan budaya dari bangsa China dan Belanda.
Dalam bahasa Sansekerta, Sunyaragi terdiri dari kata “sunya” yang berarti sepi dan “ragi” yang berarti raga. Dari namanya saja, sudah tergambar bagaimana sepi dan “dinginnya” keraton ini. Sejak pertama kali memasuki area ini, saya tidak bisa berhenti mengagumi dan cenderung bertanya-tanya bagaimana bangunan ini dibuat.
Di hari itu hanya satu dua pengunjung saja yang datang ke area Sunyaragi ini. Sambil terus mengagumi kekaguman komplek Sunyaragi, tiba-tiba kami dikejutkan dengan kedatangan seorang Bapak bertubuh agak besar dan perut cukup gendut serta berkepala plontos.
Tanpa perkenalan dan basa basi, kami berdua langsung dijelaskan mengenai nama dan alasan mengapa masing-masing goa dinamakan seperti itu. Tiba-tiba kami langsung diajak menuju satu goa yang dari depan saja sudah terlihat begitu menyeramkan. Saya dan @stefansantoso langsung saling melihat satu sama lain, apakah bapak tersebut merupakan orang sungguhan atau hanya imajinasi kita.
Awalnya kami ragu dan cenderung takut untuk mengikuti bapak misterius itu memasuki goa yang begitu kecil. Namun rasa penasaran dan ingin tahu pun menepis ketakutan kami. Bahkan saking kecilnya lorong goa, kami harus menundukan kepala untuk memasuki goa yang lebarnya hanya sekitar 60 sentimeter.
Seperti terhipnotis, kami terus saja mengikuti sang Bapak memasuki goa melewati lorong bawah tanah. Tiba-tiba saya jadi teringat saat bersama @stefansantoso dan @Billyanto memasuki goa sempit bekas perang dunia kedua di Chu Chi Tunnel. Tanpa sempat bertanya siapakah nama beliau dan apakah beliau memang seorang pemandu wisata, kami menelusuri goa yang satu ke goa lainnya, relatif dalam keheningan.
Yang sangat menyeramkan yaitu ketika kami diajak turun ke tangga bawah tanah yang begitu sempit, bahkan tanpa ada sinar matahari sedikitpun. Udara yang cukup lembab dan suasana yang sangat hening di lorong goa semakin menambah tegang keadaan. Lagi-lagi, sang bapak yang memegang lilin sebagai penerang begitu sedikit berbicara dan herannya seringkali meninggalkan kami di kegelapan. Beberapa kali, kamipun menggunakan lampu penerang untuk mendekati jalan keluar.
Taman Sunyaragi ini didominasi oleh belasan goa. Masing-masing goa mempunyai penamaan yang berbeda sesuai dengan fungsi, kepercayaan dan cerita di balik sejarah goa tersebut. Ada goa bernama goa cermin yang kabarnya tidak dapat dilihat dari luar, kecuali melalui air mancur yang dipancurkan dari atasnya. Ada juga yang bernama goa Lawa yang konon dipenuhi kelelawar. Selain itu banyak goa-goa yang bernama cukup aneh seperti goa Peteng, goa Laxese, goa Argajumut, dan belasan goa lainnya.
Konon, tujuan awal dibangun goa tersebut adalah sebagai tempat pertapaan para sultan dan keluarganya. Mereka bisa menghabiskan waktu berhari-hari, bahkan berbulan-bulan hanya untuk bertapa di goa tersebut.
Selain goa-goa yang memang berada di lorong yang tertutup dan relatif begitu pendek, kami juga sempat memasuki area seperti Taman Sari, bangunan yang terdiri dari ruang-ruang seperti ruang pemandian, ruang rias dan bahkan ruang untuk berhubungan intim. Sekali lagi, sang Bapak turut menambah seram suasana ketika dengan ekspresi yang datar menunjuk ke satu sudut di ruang rias dan berucap, “sebagian orang dapat melihat makhluk halus di sudut tersebut.”
Ketika kembali ke area taman, kami berpindah ke sisi lain dan menaiki suatu reruntuhan bangunan yang sedikit berbeda karena didirikan dari bahan batu bata. Dari atas puncak bangunan tersebut dapat dilihat betapa mengagumkannya komplek taman Sunyaragi ini beserta beberapa reruntuhan bangunan lain yang konon hancur saat terkena ledakan ketika Perang Dunia Kedua.
Pada salah satu area reruntuhan tersebut terdapat sebuah meja mimbar yang dahulu dipergunakan untuk jamuan makan ataupun sebagai tempat bercengkerama. Dibalik meja itu, ada dua buah goa yang bentuknya serupa namun dengan kisah misteri yang berbeda. Goa yang pertama adalah goa yang biasa dipergunakan oleh para pertapa untuk dapat berpindah ke tanah Mekkah. Goa yang kedua adalah goa yang dipergunakan oleh para pertapa untuk berpindah ke dataran China. Percaya atau tidak, biarlah itu menjadi misteri.
Di tengah area Taman Sari ini juga terdapat susunan bebatuan yang berbentuk gajah. Konon, saat musim kemarau panjang, warga sekitar akan menyirami batu gajah tersebut dengan air, yang dipercaya dapat mendatangkan hujan. Selain itu ada juga batu berbentuk manusia yang dililit oleh seekor ular, tepat di depan pohon leci yang tertulis telah berumur lebih dari 300 tahun.
Reruntuhan bangunan yang tampak seperti bangunan megah yang belum selesai dibangun ini membuktikan bahwa Cirebon tidak hanya kota yang terkenal sebagai kota udang atau kota transit saja. Cirebon yang pernah menjadi pusat perdagangan dan lahirnya peradaban umat beragama islam di Jawa Barat melalui Sunan Gunungjati ini ternyata adalah sebuah bukti kekayaan sejarah dan budaya di jaman tersebut.
Sangat disayangkan jika pada kenyataannya, bangunan yang seharusnya menjadi warisan budaya dan sejarah penuh makna justru hanya benar-benar menjadi bongkahan batu besar. Sekal lagi, permasalahan klasik atas perawatan dan publikasi yang minim menjadi penyebabnya. Padahal bisa dibayangkan jika komplek candi ini bisa mendapat publikasi yang cukup, kawasan di area tersebut dapat hidup dan berkembang, dan menjadi pemasukan dan lapangan kerja bagi masyarakat sekitarnya.
Ketika akhirnya kami memberi tips untuk sang Bapak, beliau pun tetap tidak mengeluarkan kata-kata yang berarti. Selain Taman Sunyaragi yang menyimpan cerita dan kisah yang sangat misterius, kehadiran sang Bapak pun masih merupakan misteri bagi kami.
“If you want to understand today, you have to search yesterday.” Pearl Buck.
@ranggayudhika
www.ranggayudhika.multiply.com
Travelling while u r breathing
Labels: Cirebon , Sunyaragi , Backpack , Travelling , Indonesia
Artikel Menarik Lainnya
| 0 Komentar | Tampilkan |
Tidak ada komentar.








