|
Siapa bilang Jogja hanya terkenal dengan masakan manis?! Cobalah arahkan kendaraanmu menuju Jl. KHA. Dahlan Yogyakarta. Disana kamu bisa menemukan kuliner khas Jogja, bukan gudeg, tapi oseng-oseng mercon. Walaupun melihat ada beberapa penjual oseng-oseng mercon di sepanjang jalan, namun saya menghentikan motor di depan warung lesehan Bu Narti. Kenapa?! Karena menurut temen saya yang orang asli Jogja, lesehan ini adalah yang pertama mengenalkan oseng-oseng mercon ke masyarakat, pelopornya lah...
Suasana lesehan ini juga khas Jogja. Pemilik menggelar tikar di trotoar jalan. Tidak peduli pengunjungnya orang bermobil atau hanya pejalan kaki, semuanya makan di tempat yang sama. Ditambah adanya pengamen jalanan, aura Jogja semakin terasa. “...ramai kaki lima, menjajakan sajian khas berselera, orang duduk bersila. Musisi jalanan mulai beraksi...” Itulah sepenggal lagu dari KLA Project yang mampu menggambarkan apa yang saya rasakan ketika itu.
Terus, oseng-oseng mercon itu apa?! Mana mungkin mercon (petasan) dimakan?! Tenang, itu hanyalah sebuah istilah. Oseng-oseng mercon ini merupakan masakan super pedas! Karena rasa pedas yang tidak beraturan itu, sehingga dinamakan mercon. Mampu meledak di dalam mulut setiap penikmatnya, hehehe... Masakan ini terbuat dari kikil sapi yang dimasak dengan kecap dan gula merah tampaknya, bermacam bumbu serta tidak lupa cabe rawit.
Nah, karena penasaran, saya langsung memesan seporsi oseng-oseng mercon seharga Rp 12 ribu, nasi dan segelas teh hangat. Tidak lama saya menunggu untuk dapat menikmati hidangan “menarik” ini. Oseng-oseng mercon disuguhkan di atas nasi dalam sebuah lepek kecil. Pandangan pertama memang tampak menggiurkan. Kikil sapi berwarna coklat gelap, sedikit berminyak dan banyak terlihat biji cabe di atasnya. Hmm... mampukah saya menghabiskan menu ini?! We’ll see...
Begitu suapan pertama, rasa pedas belum menjalar di dalam rongga mulut. Rasa manis dari kecap dan gula merah masih menampakkan dirinya, kikilnya pun mudah dikunyah. Namun setelah lima kali suapan, baru terasa pedasnya! Mulut serasa terbakar sodara-sodara! Hangatnya nasi juga semakin membuat panas lidah. Walaupun udara malam itu dingin, namun keringat mulai menetes. Saya kesusahan mengunyah suap demi suap kikil dan nasi itu, hahaha... Setiap makan dua suap, diikuti dengan menyeruput sedikit teh hangat, untuk menetralisir rasa pedas. Tidak salah memang jika oseng-oseng kikil ini dinamakan oseng-oseng mercon. Rasa pedasnya benar-benar meledak di dalam mulut! Temen saya juga begitu, dia malah lebih parah. Tidak hanya keringat, air mata dan inguspun ikut-ikutan menetes! Hahaha... Bener-bener menikmati sepertinya.
Nah, buat kamu pecinta kuliner pedas, cobalah mencicipi oseng-oseng mercon dan ukur seberapa kuat kamu menahan pedas. Salam kuliner!
Labels: Yogyakarta , Kuliner , Oseng-oseng mercon
Artikel Menarik Lainnya
| 0 Komentar | Tampilkan |
Tidak ada komentar.







