Search Destination
Temukan artikel seputar tempat dan aktivitas wisata yang kamu sukai, mulai dari berenang di pantai sampai panjat tebing.

Daerah Wisata


Jenis Wisata


Kata Kunci





SPONSORED



Total Article
1535
Total Member
17330





Home > Article

01 May 2012 | Daerah Istimewa Yogyakarta | Wisata Budaya
Pura Pakualaman, Istana Kecil di Kota Gudeg
Arini Tathagati
Explorer
Rate
Share  

Pura Pakualaman terletak di Jl. Sultan Agung No. 8, Yogyakarta. Bangunan ini merupakan istana milik Kadipaten Pakualaman yang menjadi tempat tinggal resmi para pangeran Pakualam antara tahun 1813 hingga 1950. Istana ini dibangun pada awal abad ke-19, dengan arsiteknya pangeran Natakusuma yang kemudian bergelar KGPAA Paku Alam I. Dibandingkan Keraton Yogyakarta, Istana Pakualaman merupakan istana kecil. Hal ini menunjukkan kedudukan Kadipaten Pakualaman, yang walaupun merupakan negara berdaulat, namun masih tetap setingkat di bawah Kesultanan Yogyakarta. Saat ini Pura Pakualaman masih menjadi kediaman resmi Sri Paduka Paku Alam IX, yang menjabat sebagai Wakil Gubernur Provinsi DI Yogyakarta.

 

Untuk memasuki kompleks Pura Pakualaman, anda akan melalui gerbang Wiworo Kusumo Winayang Reko, yang bermakna keselamatan, keadilan dan kemerdekaan. Saat memasuki gerbang Wiworo Kusumo, anda akan disambut 2 orang abdi dalem di sisi kiri, dan sebuah patung Ganesha di sisi kanan. Berhadapan dengan gerbang Wiworo Kusumo, anda bisa melihat pendopo terbuka atau Bangsal Utomo Sewotomo, yang memiliki 4 pilar utama. Pilar-pilar ini terbuat dari kayu jati khusus yang berasal dari desa Karang Asem, Paliyan, Gunung Kidul. Bangsal ini merupakan salah satu bagian Pura Pakualaman yang dapat dilihat oleh umum. Bagian belakang bangsal adalah kediaman Adipati Paku Alam IX dan keluarganya, yang tidak boleh dimasuki oleh wisatawan.

 

Bagian lain yang boleh dikunjungi wisatawan adalah Museum Pakualaman, yang terletak di sisi timur kompleks, atau di sisi kanan gerbang Wiworo Kusumo. Berbeda dengan Keraton Yogyakarta yang buka setiap hari, Museum Pakualaman hanya buka setiap hari Selasa dan Kamis, pukul 09.30-13.00 WIB. Untuk masuk ke dalam museum, anda bisa minta tolong penjaga museum untuk membuka, kemudian mengisi buku tamu. Tidak ada tiket resmi, namun anda diharapkan memberikan sumbangan sekedarnya.

 

Suatu hari Kamis, saya berkesempatan mengunjungi Museum Pura Pakualaman. Ketika masuk ke dalam museum, benda pertama yang menarik perhatian saya adalah patung Paku Alam V sedang mengetik surat. Koleksi unik ini merupakan hadiah pemerintah Hindia Belanda. Masih di ruangan yang sama, terdapat lukisan pohon yang berisi sejarah keturunan raja-raja Jawa sejak Nabi Adam A.S. Di ruangan ini juga terdapat beberapa benda pusaka kerajaan, antara lain singgasana KGPA Paku Alam I, payung “Songsong Bhavad” (melambangkan raja sebagai sumber kekuasaan dan kebijakan) dan payung “Songsong Tunggul Naga” (melambangkan raja dengan kehidupan yang sempurna yang mengayomi rakyatnya dengan pengetahuan, kebijakan dan keadilan). Masih di ruangan yang sama, terdapat alat musik rebab yang diberi nama Kyai Tandhasih, yang menjadi perlambang awal dan akhir kehidupan.

 

Di ruangan ini banyak koleksi foto-foto, antara lain foto adipati Paku Alam dari Paku Alam I hingga Paku Alam IX, serta silsilah Adipati Paku Alam. Dari silsilah tersebut kita dapat mengetahui bahwa Paku Alam I merupakan putra dari Sultan Hamengkubuwono I dari Putri Srenggorowati, dan keduanya merupakan keturunan dari Raja Majapahit terakhir Brawijaya V. Salah satu foto yang unik di ruangan ini adalah foto Adipati Paku Alam VII dan istrinya yang berasal dari Kasunanan Surakarta. Pada foto tersebut terlihat gaya busana yang dikenakan mengikuti gaya Surakarta yang terkesan lebih modern, dilengkapi dengan kipas bulu yang dikalungkan di leher. Foto lain yang juga menarik adalah dua buah foto 4 orang raja keturunan Mataram Islam dari masa yang berbeda. Foto pertama adalah foto adipati Paku Alam VII, Pakubuwono X, Sultan Hamengkubuwono VIII, dan Mangkunegara VII. Sedangkan foto lainnya adalah foto adipati Paku Alam VIII, Pakubuwono XII, Sultan Hamengkubuwono X, dan Mangkunegara VIII.

 

Ruangan berikutnya berisi senjata-senjata seperti tombak trisula, busana yang biasa dikenakan keluarga keraton dalam berbagai acara, peralatan dapur, serta terjemahan perjanjian politik antara Pangeran Natakusuma dengan Inggris pada tanggal 17 Maret 1813 yang menjadi dasar berdirinya Kadipaten Paku Alaman. Sedangkan di ruangan paling dalam, terdapat koleksi beberapa kereta kuda yang menjadi kendaraan resmi para pangeran dan adipati Paku Alam. Koleksi museum ini memang tidak sebanyak koleksi museum Keraton Yogyakarta, namun cukup mewakili sisi lain dari sejarah kerajaan keturunan Mataram Islam.


Labels: keraton , pakualam , yogyakarta



Artikel Menarik Lainnya

10 Hal Dilakukan di Mentawai
 
Semalam di Baduy Ditemani Sebungkus Mie
 
Pok Tunggal, Pantai Terbaik di Gunung Kidul
 
Kado Kota Kecil
 
Desa Trunyan, Tempat Buang Mayat Paling Legendaris
 
0 Komentar Tampilkan

Tidak ada komentar.




User name
Password