|
Museum Biologi terletak di Jl. Sultan Agung No. 22, Yogyakarta, kurang lebih 100 meter ke arah Barat dari seberang Pura Pakualaman. Museum ini diresmikan pada 20 September 1969, dan berada di bawah pengelolaan Fakultas Biologi Universitas Gajah Mada. Koleksi museum berupa koleksi benda hayati seperti fauna dan tumbuhan yang berjumlah 3.752 buah, terdiri dari awetan kering, awetan basah, kerangka dan fosil.
Ketika saya memasuki museum, hal pertama yang membuat saya kagum adalah bangunan museum yang berbentuk rumah bergaya Belanda. Hal ini dicirikan dengan pintu dan jendela yang berukuran besar, dilengkapi ornamen pada tiang besi, teralis besi dan lisplank. Setelah saya membeli tiket, saya langsung melihat-lihat peragaan yang ada di bagian depan museum, berupa koleksi awetan kering fauna di dalam lemari kaca, antara lain harimau dan kucing hutan. Di ruangan sebelah kanan, terdapat koleksi awetan tumbuhan khas Indonesia. Sebagian disimpan dalam bentuk awetan basah, sedangkan koleksi biji-bijian disimpan dalam bentuk awetan kering.
Saya pun melangkahkan kaki ke lorong dalam. Di pintu masuk ke lorong dalam, terdapat penjelasan mengenai berbagai jenis ular berbisa serta akibat yang bisa ditimbulkan akibat gigitan ular berbisa. Sungguh miris melihatnya, namun hal ini merupakan pengetahuan yang harus dibagi, agar kita berhati-hati jika berhadapan dengan ular berbisa. Di lorong dalam, koleksi pertama yang menarik perhatian saya adalah kerangka duyung. Dari kerangkanya, kita bisa mempelajari bahwa duyung bukan sejenis ikan, tapi mamalia air. Sayangnya, tidak ada penjelasan dari mana kerangka duyung ini berasal. Di kiri kanan lorong, terdapat beberapa koleksi di dalam lemari kaca, seperti awetan ikan hiu dan ikan hiu martil, kerangka sapi, awetan penyu, dan awetan ular. Awetan yang wajib dilihat adalah awetan komodo. Biawak besar ini sempat menjadi buah bibir ketika dicalonkan menjadi salah satu keajaiban dunia. Saya percaya, terpilih atau tidak komodo menjadi keajaiban dunia, kekayaan alam Indonesia yang satu ini memang luar biasa!
Di ruangan-ruangan yang terdapat di sisi kiri, kanan, dan ujung lorong dalam, terdapat koleksi kerangka dan awetan berbagai jenis binatang, termasuk burung-burungan, awetan basah ikan dan reptilia. Beberapa di antara awetan yang dipajang adalah fauna endemik Nusantara, termasuk burung kasuari, cendrawasih, dan berbagai jenis kucing besar. Salah satu peragaan yang menarik adalah awetan luwak, fauna yang sedang naik daun karena ketenarannya dalam "memproses" biji kopi. Beberapa peragaan dibuat untuk menunjukkan fauna tersebut sedang ada di habitatnya. Selain awetan berbentuk fauna, terdapat juga peragaan kerangka hewan, diantaranya adalah kerangka badak Jawa dan kerangka kuda.
Dengan luas bangunan induk museum 31 x 14 meter persegi, tidak mengherankan jika museum ini terlihat penuh sesak. Beberapa koleksi bahkan tidak diperagakan dan disimpan di dalam kotak-kotak. Namun keberadaan museum ini tetap menarik, karena hanya dengan melakukan kunjungan singkat ke museum ini, Anda bisa mendapat gambaran mengenai kekayaan flora dan fauna Nusantara.
Labels: yogyakarta , museum , biologi
Artikel Menarik Lainnya
| 0 Komentar | Tampilkan |
Tidak ada komentar.







