Search Destination
Temukan artikel seputar tempat dan aktivitas wisata yang kamu sukai, mulai dari berenang di pantai sampai panjat tebing.

Daerah Wisata


Jenis Wisata


Kata Kunci





SPONSORED



Total Article
1521
Total Member
13524





Home > Article

14 May 2012 | Daerah Istimewa Yogyakarta | Wisata Alam
Sahara Selatan Yogya dan Taburan Bintang di Hargodumilah
Dhanang P
Explorer
Rate
Share  

Saat Sang Surya memancarkan cahaya dengan teriknya dan semribit Sang Bayu yang terus-terus menggempur, memaksa badan ini acapkali harus membungkuk dan menutup mata dari partikel lembut yang terhempas. Tubuh kecil ini seoalah tak apa-apa dibandingkan dengan keajaian alam di sisi selatan Yogyakarta. Gumuk Pasir, demikian masyrakat menyebutnya, sebuah hamparan luas yang penuh dengan pasir.  Sungguh aneh jika mengatakan ada gurun di daerah tropis, terutama Indonesia, tetapi bolehlah menyebutnya gurun mungil dari  Paris van Yogya.

Gumuk Pasir, sebuah fenomena alam ribuan bahkan jutaan tahun yang lalu mulai terbentuknya. Sebuah bukit pasir dengan gundukan, atau bukit-bukit kecil dengan aneka pola dan rupa. Pasir dari material vulkanis, lontaran Gunung Teraktif yakni Merapi yang kerap memuntahkan isi perutnya. Pasir dari lereng, terbawa arus hujan menjadi lahar dingin, kemudian mengalir menuju anak-anak sungai dan bersatu di 3 sungai besar; Kali Krasak, Kali Gendol, dan Kali Suci

Bentukan Gumuk Pasir dipengaruhi oleh 3 sungai, yakni: Opak, Oyo dan Progo. Matarial dari vulkanis yang terbawa oleh aliran sungai akan berakhir di pantai selatan, yang kemudian akan mengendap dan membentuk delta. Terpaan angin kuat dan suhu udara yang kering memudahkan pasir-pasir ini diterbangkan menuju daratan disisi utaranya. Akumulasi pasir-pasir yang terbawa angin inilah yang membentuk gundukan yang lama-kelamaan meluas.

Jika mata ini cermat, maka tiap  gundukan pasir ini sangat elok dengan aneka bentuk dan pola yang teratur. Ukuran pasir, dan kuatnya Sang Bayu adalah penyebab keindahan alam ini tercipta. Secara umum ada 4 model gumuk pasir, yakni: melintang, seperti bulan sabit, memanjang dan pola parabola. Alur-alur permukaan pasir juga sangat khas, dan kembali tergantung pada kreativitas angin yang bertiup.

Usai bercengkrama dengan teriknya Sang Surya diatas hamparan pasir yang luas diselimuti semilir Sang Bayu, saatnya beranjang diiring cahaya temaran dari sisi barat. Tujuan selanjutnya adalah bukit Hargodumilah di Patuk, Wonosari, Gunung Kidul. Anak-anak muda Yogyakarta menamai lokasi ini dengan sebutan bukit bintang. Akhirnya langkah kaki ini berakhir disebuah lereng bukit yang sudah ditata dengan pandangan luas ke sisi utara melihat keindahan malam Yogyakarta.

Benar saja, bukit bintang disematkan untuk lokasi ini. Kerlap-kerlip lampu kota dan pijaranya mampu menyulap malam kelam menjadi penuh warna dan cahaya. Cahaya pancang dari langit sisi barat dan mendarat di pinggiran Yogya, adalah hilir mudik pesawat yang melayani penumpang. Tepat dibawah bukit bintang, cahaya nampak jarang dan letaknya berjauhan sebagai indikator sebuah desa yang jarang perumahan.

Nan jauh disana, mata memandang akhirnya terpenjara pada sosok hitam yang beridiri tegak berdampingan. Gunung Merapi dan Merbabu nampak anggun bersebalahan disaat kilat-kilat menyambar dan menampakan sosok gunung yang terkenal ganas saat mengeluarkan wedus gembelnya. Jauh lagi, mata akan terusik dengan samar-samar gunung Sumbing dan Sindoro yang malu-malu menampakan dirinya dan  hanya terlihat samar.

Hari ini, 2 destinasi tentang keajaiban alam dan keindahan malam sudah disajikan oleh Yogyakarta. Dari ujung selatan Yogya, hingga merangkak di ketinggian bukit Hargodumuilah, untuk membingkai keindahan Yogyakarta disaat terik matahari hingga malam yang kelam. Siang malam seoalah tiada habisnya alam ini menyediakan keindahannya.


Labels: gumuk pasir



Artikel Menarik Lainnya

Senja di Banda Aceh
 
Potensi Wisata Alam Sukabumi
 
Tanjakan Tiada Maaf Gunung Cikuray
 
berkunjung ke bandung timur
 
Mengikuti jejak \
 
0 Komentar Tampilkan

Tidak ada komentar.




User name
Password