Search Destination
Temukan artikel seputar tempat dan aktivitas wisata yang kamu sukai, mulai dari berenang di pantai sampai panjat tebing.

Daerah Wisata


Jenis Wisata


Kata Kunci





SPONSORED



Total Article
1535
Total Member
17330





Home > Article

21 May 2012 | Nusa Tenggara Barat | Wisata Kota
Gelitik Gili Trawangan
Lalu Abdul Fatah
Walker
Rate
Share  

1.  Mataram
     Jl. Pejanggik No 65 A-B
     Telp : 0370-673195
     Fax  : 0370-673139

 

2. Selong
     Jl. Prof. M. Yamin 45
     Telp : 0370-635550
     Fax  : 0376-21400

 

3. Sumbawa
     Komp. Pertokoan,
     Jl. Udang 8 C - D, RT 02 / RW 02
     Telp :  0371 - 625550
 

Pusuk.

            Apa yang kau pikirkan dari sebuah jalur pegunungan yang membentang di hadapanmu? Misteri, tantangan, ketakutan, gairah, kekayaan? Apapunlah! Hutan Pusuk sedang menanti di sana. Di sebelah utara dari Kota Mataram.

            Pagi, sekitar 09.30 WITA, kami bertiga – aku, Oki, dan Tomo – mulai membelah jalanan. Dari rumah, persiapan sudah cukup mapan. Baju ganti, bekal makan siang, snack, dan dua botol air mineral ukuran 1 liter. Tujuan yang pasti: Gili Trawangan. Mengapa tidak beli saja di sana? Mahal, alasan paling logis.

            Mengapa mahal?

            Coba kau bayangkan aliran distribusi barang ke pulau kecil itu. Dari mainland – Pulau Lombok – menuju gili paling ujung barat itu waktu tempuhnya sekitar 45 menit. Harus pakai boat ­– alias perahu. Bertolak dari Pelabuhan Bangsal. Kendati pasar sebagai sumber mengail barang-barang juga tak jauh dari pelabuhan penyeberangan itu.

            Alasan lainnya, Gili Trawangan adalah daerah wisata. Apalagi dengan bule dominan. Wajar, kan?          

            Nah, kembali ke Pusuk.

            Ini adalah semacam daerah sabuk pegunungan. Hawanya dingin. Jalannya berkelok-kelok. Naik turun. Agak rusak di bagian tertentu. Kiri kanan hutan, diselingi beberapa butir rumah penduduk di sebelah kiri.

            Saya pernah menonton ‘Panji Si Penjinak Ular’. Salah satu episodenya, saat nangkep ular di sungai di Pusuk ini. Sepertinya, sungai yang dimaksud adalah yang membentang mengular di seberang kanan saya.

            Nah, Pusuk ini bisa dikatakan urat nadi penting perekonomian masyarakat di sini. Orang-orang yang berkantor di Tanjong, ibukota Kabupaten Lombok Utara, tapi tinggalnya di Mataram, mau nggak mau harus melewati Pusuk ini. Aliran barang-barang perdagangan juga melalui akses jalanan di daerah yang banyak monyetnya ini.

            Omong-omong tentang monyet, Pusuk memang tempat turis biasa singgah sejenak memberikan makan para monyet. “Para” karena banyaknya mereka beranak-pinak di sini. Nongkrong di pinggir jalan. Kadang bayi menggelendot di gendongan induknya. Ada juga yang saling mengutu. Matanya selalu awas ke arah pengendara yang lewat. Ngarep dilemparin kacang, biskuit, atau pisang.           

            Lewat kode sein kiri yang ditujukan buat Oki dan Tomo yang berada di depan saya, kami pun meminggirkan motor. Foto-foto monyet Pusuk dulu. Juga foto pemandangan gili di kejauhan. Lanskap yang mantap!

            Tak lama berselang, tibalah kami di gerbang selamat datang di Pelabuhan Bangsal. Ada sekitar 1 kilometer sebelum akhirnya kami menitipkan motor. Parkir.

 

Bangsal

            Jangan bayangkan Bangsal itu pelabuhan ikan, tempat transaksi atau pelelangan ikan. Tidak! Jauh dari kesan itu. Karena menjadi titik tolak sebelum menyeberang ke gili, maka suasana hiruk-pikuk aktivitas turis, pedagang yang hendak membawa barangnya ke gili, para buruh angkot, tukang ojek, abang cidomo, dan kios-kios makananlah yang paling gampang kita jumpai di sana. Plus loket pembelian karcis, dong!

            Nyamannya, kita nggak perlu takut sama calo. Soalnya, tiket sudah diatur oleh koperasi. Harganya juga dipampang blak-blakan di papan samping penjualan tiket. Jadi, nggak usah khawatir bakal ketipu harga.

            Oya, harga tiketnya ternyata nggak berubah sejak September tahun lalu –terakhir saya ke sana. Ke Gili Trawangan masih Rp10.000,00. Kalo ke Gili Meno Rp9.000,00 dan Gili Air Rp8.000,00. Ayo, tebak, mengapa beda harganya cuma seribu rupiah?

            Saya pun beli tiket ke Gili Trawangan untuk tiga orang. Digabung semuanya dalam satu tiket. Hemat kertas, tentunya. Sayang pohon di hutan, pastinya. Cinta anak cucu, ya?

            Karena diatur sama koperasi, masing-masing perahu pun sudah ditentukan jatah penumpangnya. 20 orang per perahu. Tidak boleh lebih. Ada kalanya kelihatan penuh. Itu karena barang-barang penumpang, terutama para pedagang. Nah, pas giliran kami menaiki boat, barang-barang penumpang nggak seberapa. Paling banter backpack para turis. Itu pun dipangku. Jadi, nggak digeletakin di bagian belakang.

            Nah, berhubung kami nggak begitu lama nunggu karena kuota sudah terpenuhi, maka petugas pun memanggil pakai pengeras suara agar bersiap-siap naik. Nakhodanya memeriksa karcis dulu.

            Hup!

            Pengin duduk di buritan biar bisa ketampar angin laut. Tapi, panas juga euy! Maklum, sudah hampir jam sebelas. Matahari sedang garang. Rrrrrrraaawww!!!       

 

Antara Bangsal dan Gili Trawangan

            Perlu nggak sih diceritain pengalaman naik perahu? It’s so so. Nggak ada yang istimewa buat dikabarkan, semisal: perahu terbalik, paus yang muncul pakai kaos polkadot, atau pelangi berbentuk trapesium yang kadang-kadang muncul di langit – kalau langitnya lagi sensi dan mendung.

            Oya, ada tuh penumpang bertampang India. Duduk di sebelah kanan saya. Berjarak sih. Sewaktu saya nengok ke arah sandalnya, anjriiitt! Teva! Itu kan merk yang terkenal buat kegiatan outdoor. Ini sih tahunya dari Mbak Tita (matatita.multiply.com) – penulis buku-buku traveling yang di dua sampul bukunya: Tales from The Road dan Eurotrip – ada foto sepatu Teva-nya. Bikin iri, deh!

            Dan, si turis bertampang India (atau Arab, ya?) itu pun asyik baca novelnya Stephen King. Sementara, saya asyik menguping suara ombak dan mesin perahu yang berdenging. 

 

Gili Trawangan.

            Sekitar 35 menit kemudian, perahu yang kami tumpangi merapat dengan nikmat di bibir pantai Gili Trawangan. Ya Allah! Sensasinya masih sama dengan kunjungan terakhir saya. Airnya bikin saya merinding, ingin segera terjengking menyelam, mencari teripang keriting!

            Oh, saya jadi lemah di hadapanmu, wahai bening air pantai Gili Trawangan…

            Saya sudah tahu tujuan saya. Ke Turtle Bungalow. Karena ada seseorang yang hendak saya temui. Mudahan beliau panjang umur. Dan, Alhamdulillah… Panjang umur! Saya bertemu lagi sama bapak yang menjadi penangkar penyu di Gili Trawangan yang sekaligus pernah memberikan inapan gratis di tempatnya: Pak Marjan!

            Pertama hingga ketiga kali saya ke sana, saya selalu menitipkan ransel di tempatnya. Menyewa alat snorkelingnya. Pinjam kamar mandinya buat ganti dan bersih-bersih badan. Numpang duduk dan istirahat di berugak-nya. Itu satu paket pelayanan. Bayar Rp35.000,00.

            Jam 1 siang sampai setengah tiga saya, Oki, dan Tomo snorkeling. Lalu, istirahat makan siang. Oki dan Tomo memutuskan untuk berhenti. Mereka hendak memotret-motret. Saya, meski ragu dan pernah membaca bahwa dianjurkan untuk tidak berenang sehabis makan kenyang, ujung-ujungnya mengenyahkan larangan itu. Itu mitos! Setelah saya kroscek lagi (saat menulis jurnal ini) di buku The Book of General Ignorance yang diterjemahkan menjadi “Apakah Hitler vegetarian & Dari lantai berapa paling baik untuk melemparkan kucing?; dan 92 Pertanyaan Lainnya”, saya pun tahu kalau itu sungguh mitos betulan!

            Pukul empat sore, kami pun capcus dari Gili Trawangan. Sebelumnya, mungkin sebagai ungkapan terima kasihnya, Pak Marjan menolak bayar sewa alat snorkelingnya. Tapi, saya yang jadi nggak enak.

            “Saya ambil lima puluh aja deh kalo gitu,” ujarnya, setelah saya maksa-maksa membayar harga seharusnya Rp105.000,00.

            Tak lupa berterima kasih, kami pun segera menuju pelabuhan. Untung masih ada boat yang hendak menyeberang karena justru pemiliknya berkoar-koar menjemput penumpang. Jadi, kami nggak perlu ke loket.

            Dadaaaah… Trawangan!!! Kapan-kapan saya main ke Meno atau Air, biar ada selingan!

 


Labels: Gili Trawangan , Pusuk , Bangsal , Lombok , NTB



Artikel Menarik Lainnya

NORTHREN PEARL (MUTIARA DI UJUNG UTARA)
 
Kado Kota Kecil
 
2 Day trip ke Martapura (Kalimantan Selatan )
 
Mengenal Pulau Kaung
 
Budaya Dibalik Tenun Songket, Desa Sukarare, Lombok
 
0 Komentar Tampilkan

Tidak ada komentar.




User name
Password