Search Destination
Temukan artikel seputar tempat dan aktivitas wisata yang kamu sukai, mulai dari berenang di pantai sampai panjat tebing.

Daerah Wisata


Jenis Wisata


Kata Kunci





SPONSORED



Total Article
1521
Total Member
13788





Home > Article

21 May 2012 | Nusa Tenggara Barat | Wisata Kota
Aura Plural di Taman Mayura
Lalu Abdul Fatah
Walker
Rate
Share  

1.  Mataram
     Jl. Pejanggik No 65 A-B
     Telp : 0370-673195
     Fax  : 0370-673139

 

2. Selong
     Jl. Prof. M. Yamin 45
     Telp : 0370-635550
     Fax  : 0376-21400

 

3. Sumbawa
     Komp. Pertokoan,
     Jl. Udang 8 C - D, RT 02 / RW 02
     Telp :  0371 - 625550
 

              Bali, Jawa, Lombok. Tiga budaya ini berpendar jelas dari sekujur Taman Mayura. Sebuah taman air seluas 244,60 m x 138,50 m yang terletak tidak jauh dari jantung Kota Mataram. Bila Anda berkendara motor, butuh waktu sekitar 15 menit untuk mencapainya.


              Begitu pula saya dan enam teman. Kelar sarapan nasi puyung, lokasi wisata yang pertama kali kami kunjungi adalah Taman Mayura. Sebuah pilihan yang rasional. Sebab, agenda pertama kami adalah Mataram city tour. Taman Mayura masuk dalam jangkauan 'radar' tersebut kendati ia sebenarnya masuk wilayah Cakranegara, Kabupaten Lombok Barat.

 

              Parkir di samping pintu masuk, seorang penjaga menyambut kami. Ia bukan guide. Ia seorang penjaja jasa. Jasa yang ia tawarkan adalah penyediaan selendang kecil panjang warna merah. Atas petunjuknya, kami diminta mengikatkan selendang ini di pinggang. Uniknya, status seseorang menentukan posisi simpul. Baik laki-laki ataupun perempuan, jika telah menikah, simpulnya terletak di sebelah kiri. Jika sudah punya pacar, simpulnya sebelah kanan. Jika masih single, simpulnya di tengah-tengah.

 

              Tentu, ada alasan di balik itu. Di dalam Taman Mayura ada pura. Laiknya umat Hindu yang masuk ke dalam Pura, mereka juga memakai selendang yang diikatkan di pinggang dengan maksud agar niat-niat buruk diikat saat masuk ke tempat suci.

 

              Menarik? Sudah pasti. Lebih-lebih bagi kami yang non-Hindu dan baru pertama kali masuk Taman Mayura.

 

              Masuk melalui gerbang, mata kami langsung bersirobok dengan pemandangan yang melegakan. Pohon-pohon manggis berjejer rapi di sisi kiri kanan jalan batu yang akan kami lalui. Di sisi kanan kami terbentang telaga dengan air kehijauan. Di tengahnya ada sebuah bangunan berdiri yang pada awal pembangunannya dijadikan sebagai rumah tahanan oleh Raja Singasari. Nanti akan kami jajaki pula.

 

              Kesan pertama, Taman Mayura ini bersih, rapi. Tiada rumput liar atau beluntas tak terawat sebagaimana kondisinya saat masih bernama Taman Kelepug saat dibangun tahun 1866 M. Bayangan hutan yang lebat melingkupi kawasan ini juga, kini sudah tidak terlihat lagi sisanya. Apalagi ceritera bahwa Taman Kelepug sempat dijadikan kandang burung merak yang didatangkan dari Palembang, untuk memangsa ular-ular berbisa saat pembukaan lahan.  Burung-burung merak inilah yang menjadi asal-muasal Taman Mayura. Sebab, dalam bahasa Sansesekerta, burung merak disebut mayura.

 

              Apakah burung meraknya masih ada hingga sekarang? Di tempat lain atau di kebun binatang, bisa saja Anda menjumpainya dengan mudah. Namun, di Taman Mayura yang tersisa hanyalah relief-reliefnya yang makin menguatkan pendapat bahwa burung merak ini memang benar-benar ada. Bukan kisah isapan jempol semata.

 

              Udara pagi yang sejuk dan pantulan sinar matahari di kolam, membuat mata yang memandangnya jadi segar. Belum lagi keteduhan yang dihadirkan oleh rerimbun daun pohon-pohon manggis yang saat kedatangan kami tersebut, masih berupa putik. Masih lama berbuah besar. Apalagi panen.

 

               Mendekati pintu masuk berukir khas Bali menuju bangunan di tengah kolam, seorang penjaga membukakan kami. Tak bisa ditampik, aura Bali kental sekali di taman ini. Selain karena keberadaan Pura, juga ukiran-ukiran yang ada di bangunan sekelilingnya. Hal ini tak lepas dari keberadaan orang-orang Bali di Lombok pada abad ke-19. Terutama, eksistensi Kerajaan Mataram saat diperintah oleh Anak Agung Gede Ngurah Karangasem, yang membangun Puri Cakranegara di atas bekas puri Kerajaan Singasari yang hancur hingga kelar pada 1886 M.

 

               Dari bale kambang yang terletak di tengah-tengah telaga, kami edarkan pandangan ke segala penjuru. Menurut informasi yang kami dapatkan, telaga ini berukuran 191,6 m x 81 m. Sementara itu, bangunan berlantai tegel teraso yang sedang kami pijaki tersebut luasnya 15,3 m x 8,1 m. Bangunan yang disebut pula Gili Kencana ini bergaya arsitektur tradisional Bali. Dulunya dipakai sebagai ruang sidang pengadilan pada masa penjajahan Belanda. Sekeliling Gili Kencana ini ada beberapa patung manusia dan hewan.

 

               Lagi-lagi keunikan kami jumpai. Patung manusia itu jika diamati saksama, menyerupai orang dari Asia Barat. Hal ini tampak dari surban, pakaian, serta bentuk wajah yang khas Timur Tengah. Keberadaan patung-patung berwajah Arab ini, tak lepas dari interaksi Kerajaan Mataram dengan para pedagang dari Asia Barat.

 

               Sungguh, keberadaan Taman Mayura tak ditampik lagi menjadi semacam cerminan multikulturalisme Nusantara. Sejarah dan budaya, bisa dipelajari secara langsung di sana. Tidak melulu dari buku teks. Tak perlu pula berpikir rumit apa itu Bhinneka Tunggal Ika. Datanglah ke Taman Mayura, kau akan temukan jawabannya.


Labels: Taman Mayura , Cakranegara , Lombok Barat , Mataram



Artikel Menarik Lainnya

2 Day trip ke Martapura (Kalimantan Selatan )
 
Mengenal Pulau Kaung
 
Budaya Dibalik Tenun Songket, Desa Sukarare, Lombok
 
#BudayaNegeriku Wisata Marathon di Kota Pelajar
 
#Budaya Negeriku - Jember Fashion Carnival, Budaya Modern masa kini
 
0 Komentar Tampilkan

Tidak ada komentar.




User name
Password