![]() |
|
1. Mataram
Jl. Pejanggik No 65 A-B
Telp : 0370-673195
Fax : 0370-673139
2. Selong
Jl. Prof. M. Yamin 45
Telp : 0370-635550
Fax : 0376-21400
3. Sumbawa
Komp. Pertokoan,
Jl. Udang 8 C - D, RT 02 / RW 02
Telp : 0371 - 625550
“Setelah ini kita akan kesana,” kata rekan saya saat berada di Puncak Rinjani. Dari puncak rinjani, terlihat danau segara anak membentang sejauh enam kilometer. Dengan ditambah gunung barujari yang berbentuk kerucut khas gunung zaman purba, keindahan danau segara anak tidak terelakan. Saya segera beranjak dari puncak dan tidak sabar untuk menikmati segara anak dari dekat!
Untuk mencapai segara anak dari Plawangan sembalun, saya diminta untuk menuruni lembah-lembah curam yang didominasi bebatuan dan pasir. Licin, beberapa kali saya terpeleset. Badan sudah terasa lelah sehabis singgah di puncak Rinjani 3726mdpl, sekarang saya harus turun hingga dibawah 2000mdpl. Tetapi rasa lelah tersebut terbayar ketika saya melihat sebuah telaga raksasa di kejauhan. “Seperti di film Jurrasic park,” saya bergumam. Kaki ini pun makin terpacu. Benar kata orang, pemandangan di pegunungan bisa mengalahkan rasa lelah!
Setelah menuruni punggungan yang cukup panjang, saya disambut oleh suara desiran air segara anak yang tenang. Angin berhembus dari lembah-lembah yang mengitari danau, seakan melindungi danau ini dari dunia luar. Tidak mudah untuk mencapai danau, dan tidak ada jalur datar langsung untuk kesini. Mau tidak mau kita harus mendaki puncak plawangan, kemudian baru bisa turun ke danau ini. Perjuangan yang tidak sia-sia karena dibayar dengan penatapan seperti ini.
“Silakan dicoba dek nanasnya,” seorang porter menawari saya sepotong nanas saat saya duduk keletihan sesampainya di pinggir danau. Mungkin melihat wajah saya yang sudah lesu terduduk bersandar di tas carrier, bapak porter tersebut menjadi iba. Dengan senang hati dan penuh haru saya menerima kebaikan hati sang porter. Sambil duduk memakan nanas saya melihat beberapa orang sedang bahagia karena mendapat ikan besar sekali, sementara di kejauhan gunung barujari berdiri dengan angkuhnya. “Ahh, negeri ini memang sangat indah,” saya bergumam.
“Kalau capek coba berendam di air panas, dijamin langsung seger!” sahut teman saya. Setelah mendirikan tenda sayapun bergegas ke arah selatan danau. Hanya sekitar dua ratus meter saya menemukan hot spring alami Rinjani. Beberapa orang terlihat sedang menikmati kehangatan di kolam alami ini. Lucunya, beberapa monyet liar mengawasi kita dari atas, mereka menunggu hingga kita lengah dan mencuri makanan! Saya mendengar ada beberapa yang kehilangan cokelat ataupun telurnya. Sungguh monyet yang cerdik.
Satu lagi ‘bonus’ dari Segara anak adalah Goa susu. Dinamakan demikian karena bagian dalam goa ini berwarna putih susu. Stalagnit di atap gua menetekan air panas sehingga uap-uap panas keluar dari mulut Gua. Sauna alami yang mempesona. Air panas dan gua susu menjadikan tidur saya sangat nyenyak pada malam harinya.
Momen-momen terindah di Segara anak adalah saat matahari terbenam. Seperti lukisan, semburat oranye membentuk garis melintang pada dinding-dinding lembah sekitar danau. Sebagian terkena cahaya keemasan, sebagian tetap gelap. Permainan cahaya yang benar-benar membekas di hati. Tiada kata yang bisa terucap, kamera saya pun tidak mampu melukiskan keindahan ini. Saya terpejam, menarik nafas dan memindahkan keindahan ini ke dalam hati. Sementara kabut mulai turun rendah. Semakin rendah.
**
Labels: rinjani , lombok , porter , segara anak , nusa tenggara barat
Artikel Menarik Lainnya
| 0 Komentar | Tampilkan |
Tidak ada komentar.














