![]() |
|
1. Mataram
Jl. Pejanggik No 65 A-B
Telp : 0370-673195
Fax : 0370-673139
2. Selong
Jl. Prof. M. Yamin 45
Telp : 0370-635550
Fax : 0376-21400
3. Sumbawa
Komp. Pertokoan,
Jl. Udang 8 C - D, RT 02 / RW 02
Telp : 0371 - 625550
Niat hati memantai, apa daya mendung mengintai. Pantai Kuta sore itu kelabu, pemandangan di sekitar tampak suram. Ini adalah kunjungan perdana saya ke pesisir selatan pulau Lombok tsb, dan tampaknya harapan untuk melihat hamparan pasir putih dan laut biru pupuslah sudah.
Tapi mendung bukan penghalang. Jujur, pada awalnya mood kami sedikit drop mendapati suasana tak secerah harapan. Namun dalam situasi seperti ini kami cuma punya dua pilihan: mendung lalu manyun, atau mendung tapi tetap senang. Daripada liburan bersusah hati, maka mari nikmatilah yang ada.
Kuta bilang: "Pantaiku sepi."
Saya bilang: "Justru itu yang kami cari."
Kesan pertama saya akan Kuta-Lombok memang cuma satu kata: sepi. Terbiasa akan hingar bingar Kuta-Bali, di sini saya mendapati suasana yang sama sekali bertolak belakang. Sore itu sama sekali tak tampak sosok manusia kecuali kami bertiga. Bak sebuah pantai pribadi. Malah lebih banyak kehadiran anjing kampung yang tidur bermalas-malasan di pasir. See? Bahkan satwa liar pun masih dapat memanfaatkan cuaca teduh ini.
Selain sepi, suasana pun hening. Tak terdengar debur ombak atau desau angin. Air tenang, nyaris tiada ombak di pantai Kuta ini. Ternyata ombak samudera Hindia sudah pecah terlebih dulu di bibir pantai nun di kejauhan sana. Hasilnya adalah perairan yang tenang di pantai ini.
Sisi positif dari cuaca mendung adalah menciptakan efek dramatis di kamera khususnya untuk pemandangan alam. Pantai Kuta ini termasuk fotogenik, ia diapit gundukan karang tinggi di kedua sisi. Mendung ataupun cerah, saya yakin jika pemandangan di sini tetaplah indah meski dalam nuansa yang berbeda.
Kami menghabiskan malam di sebuah penginapan yang letaknya tepat berseberangan dengan pantai. Jika suasana pada saat masih terang saja sudah sepi, bayangkan suasana di sini pada malam hari. Cocok untuk menyepi atau mungkin berbulan madu. Lalu tebak apa yang terjadi? Mati listrik! Gelap gulita pun mengurung kami.
Ternyata di wilayah Kuta sedang kena pemadaman listrik begilir. Pemadaman listrik ini bukan cuma terjadi di Kuta, tapi juga bergiliran di seluruh pulau Lombok. Kami sampai berdecak prihatin, semoga saja kejadian seperti ini bisa lekas tertanggulangi. Tahun 2012 ini sudah dicanangkan sebagai tahun kunjungan wisata Lombok-Sumbawa. Jangan sampai kasus pemadaman listrik bergilir ini mengganggu jalannya program.
Daripada bergelap-gelap di kamar, kami pun turun ke jalan mengamati suasana sekitar. Baru kali ini kami mendapati turis-turis asing berkeliaran di jalan, dimana dari sosok dan penampilannya kami yakin sebagian besar mereka adalah peselancar. Lombok memang masih punya banyak pantai perawan yang ideal untuk berselancar. Dan di Kuta inilah tempat mereka singgah atau beristirahat. Pantas saja pantai Kuta tetap terlihat sepi namun penginapan hampir selalu penuh. Para turis asing ini lebih suka menghabiskan waktu di pantai-pantai tak bernama rupanya.
Esok paginya (beruntung listrik sudah menyala sejak tengah malam), kami pun kembali ke pantai. Cuaca hari ini sudah lebih cerah dibanding kemarin. Benar saja, pantai Kuta hari ini tampil lebih menarik, pasirnya terlihat lebih putih, lautnya terlihat lebih biru. Udaranya terasa bersih dan segar.
Satu hal yang mengganggu kedamaian ini adalah kehadiran pedagang asongan, dimana sebagian besar adalah anak-anak. Mereka umumnya menjual cinderamata dari kerang-kerangan. Tanpa sungkan mereka menyodorkan barang dagangannya ke hadapanmu, dan membuntuti kemanapun kau melangkah. Awalnya mereka bilang, "Beli pak, buat beli buku sekolah." Lama kelamaan berubah menjadi, "Kasih seribu saja pak, buat beli buku sekolah." Ini ujung-ujungnya kenapa jadi seperti mengemis, ya?
Kuta bilang: "Maaf, pantaiku ramai pengasong."
Saya bilang: "Tak apa, masih ada damai di sini."
Trik saya untuk menghindari pedagang asongan seperti ini adalah: tegas. Katakan tidak! Dan jangan pernah menatap mata mereka, abaikan saja. Dalam 5 menit toh pada akhirnya kerumunan pedagang cilik ini akan buyar dengan sendirinya, dan kita bisa kembali menikmati suasana pantai dengan santai.
Pantai Kuta ini memang cantik, meski belum begitu populer dibanding saudaranya di Bali sana. Tapi di sisi lain saya malah suka kondisi ini. Apa adanya. Ibarat kata, ia adalah seorang gadis pendatang dari pedalaman yang masih tersisa keliarannya. Eksotis.
Saya percaya lambat laun masyarakat sekitar akan 'sadar wisata' sehingga tabiat pedagang asongan yang suka memaksa akan berkurang. Kenyamanan wisatawan adalah prioritas. Selain itu potensi alam di sini sungguh besar
untuk berkembang.
Jika ada masa bagi saya kembali ke Lombok, pasti saya akan kembali menyambangi Kuta.
Labels: pantai , lombok , kuta , ntb , nusa tenggara barat
Artikel Menarik Lainnya
| 0 Komentar | Tampilkan |
Tidak ada komentar.













