Search Destination
Temukan artikel seputar tempat dan aktivitas wisata yang kamu sukai, mulai dari berenang di pantai sampai panjat tebing.

Daerah Wisata


Jenis Wisata


Kata Kunci





SPONSORED



Total Article
1521
Total Member
13626





Home > Article

26 May 2012 | Nusa Tenggara Barat | Wisata Alam
Menggapai Puncak Tertinggi Pulau Lombok
Wisnu Angga Firdy
Walker
Rate
Share  

1.  Mataram
     Jl. Pejanggik No 65 A-B
     Telp : 0370-673195
     Fax  : 0370-673139

 

2. Selong
     Jl. Prof. M. Yamin 45
     Telp : 0370-635550
     Fax  : 0376-21400

 

3. Sumbawa
     Komp. Pertokoan,
     Jl. Udang 8 C - D, RT 02 / RW 02
     Telp :  0371 - 625550
 

Hamparan awan yang bergulung tampak jelas di kejauhan pandangan. Angin masih kencang berhembus, menerjang tubuh kami yang sudah terbalut beberapa lembar pakaian. Rasa lelah pada tubuh sepertinya sudah berada di titik kulminasinya, namun puncak Rinjani sudah terlihat sangat jelas di depan mata. Tidak sedikitpun terlintas di pikiran kami untuk menyerah.

 

Jam di layar handphone sudah menunjukkan pukul lima pagi. Venus, sang bintang fajar, masih lamat lamat terlihat di ufuk sebelah timur. Langit mulai tampak merekah. Cahaya kemerahan yang muncul seperti titik api perlahan mulai mewarnai gelapnya langit. Meskipun begitu, masih terlalu dini bagi kami untuk mematikan headlamp yang terpasang di kepala. Langkah kecil kaki kami masih membutuhkan pemandu dalam meniti curamnya bibir kaldera.


Begitu sampai di sebuah dataran yang cukup landai, kami memutuskan untuk sejenak beristirahat. Nafas kami memburu, berusaha untuk menghirup oksigensebanyak-banyaknya. Suhu udara yang dingin dan rasa lelah yang luar biasa memaksa tubuh kami membakar kalori yang dimilikinya semaksimal mungkin.

 

Pagi itu adalah hari ketiga pendakian kami menuju puncak Rinjani, gunung berapi tertinggi kedua di Indonesia. Gunung Rinjani terletak di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat dan masuk ke dalam kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani. Secara administratif gunung ini berada dalam wilayah tiga kabupaten yaitu Lombok Timur, Lombok Tengah dan Lombok Barat. Kami memilih untuk mendaki melalui jalur Sembalun, dan kemudian turun melalui jalur Senaru. Jalur Sembalun memang lebih panjang dari jalur Senaru, tetapi jalur pendakiannya relatif lebih datar, sehingga tidak akan terlalu memforsir tenaga kami di awal pendakian.


***

 

Tersembunyi di kaki utara Gunung Rinjani, Desa Sembalun Lawang seolah bersolek dengan kecantikannya menyambut kedatangan kami. Matahari bersinar cerah, langit pun tampak bersih, membiru tanpa awan. Di pinggiran desa, satu dua orang penduduk terlihat sedang berladang, beberapa jenis sayuran adalah tanaman yang menjadi komoditas utama bagi mereka. Lokasinya yang berada pada dataran tinggi membuat hawa udara di Sembalun Lawang terasa sangat sejuk dan menyegarkan.


Setelah mengurus perijinan, kami pun segera memulai pendakian.Perjalanan menuju Pos 1 yang berketinggian 1300mdpl kami lalui sekitar dua jam perjalanan. Kombinasi dari jalur yang terbuka dan sengatan panas matahari membuat rasa haus cepat menyerang kami. Beberapa kali kami harus berhenti untuk sekedar beristirahat dan membasahi tenggorokan yang teramat kering. Medan yang dilalui menuju Pos1 berupa padang rumput, sempat juga melalui kawasan hutan meskipun hanya sebentar.

 

Kami tiba di Pos 2 saat matahari mulai terbenam. Pos 2 yang berada di ketinggian 1500mdpl terletak di dekat jembatan, di tepi sungai yang saat itu kering, tidak tampak ada air yang mengalir di bawahnya. Kami memutuskan untuk bermalam di tempat itu. Dengan jumlah anggota tim yang lumayan banyak, 15 orang, lahan di Pos 2 kami maksimalkan sebaik mungkin agar mencukupi kebutuhan tempat bagi kami untuk beristirahat malam. Berhiaskan temaram cahaya bintang, kami menikmati dinginya malam di kaki Rinjani. Tentu tidak lupa dengan secangkir kopi manis sebagai teman bercengkerama yang setia.


Keesokan harinya, perjalanan kami lanjutkan menuju Pos 3. Perjalanan menuju Pos 3 kami lalui dengan lancar. Sepertinya tubuh kami sudah mulai terbiasa dengan teriknya matahari gunung Rinjani. Sekitar dua jam kami berjalan menuju pos yang berketinggian 1800mdpl itu. Medan yang dilalui masih sama dengan hari kemarin, yaitu berupa padang rumput, hanya sekarang jalurnya sudah mulai menanjak. 

 

Pos 3 berada di lokasi yang cukup nyaman, terlindung oleh bukit, sehingga bisa sedikit mengurangi panasnya sengatan cahaya matahari. Menurut porter yang kami ajak mengobrol, Pos 3 menjadi lokasi istirahat siang yang favorit bagi para pendaki yang baru turun dari puncak Rinjani melalui jalur Sembalun.


Perjalanan dari Pos 3 menuju Plawangan Sembalun merupakan salah satu bagian terberat dari jalur Sembalun. Untuk menuju Plawangan Sembalun, kami harus melewati beberapa tanjakan yang curam, kira kira berkisar antara 30-45 derajat, Bukit Penyesalan namanya.Dengan carrier yang terhitung masih penuh dengan logistik, tenaga kami dengan cepat terforsir habis.

 

Sebelum mencapai Plawangan Sembalun, kami melewati pertigaan yang merupakan pertemuan antara jalur Sembalun dengan jalur Senaru. Pemandangan dari lokasi tersebut sangat menakjubkan. Jika cuaca cerah, kita bisa menyaksikan dengan jelas keindahan dari Danau Segara Anak. Kami menghabiskan waktu sekitar empat jam perjalanan untuk menuju Plawangan Sembalun.


Plawangan Sembalun biasanya menjadi tempat camp terakhir bagi para pendaki sebelum memulai summit attack ke puncak Rinjani. Lokasinya cukup luas, memanjang di atas punggungan, sehingga mampu menampung dome dalam jumlah yang lumayan banyak. Selain itu terdapat sumber air di tempat ini, banyak pendaki yang memanfaatkannya untuk mandi ataupun sekedar membersihkan diri.

 

Kondisi cuaca di Plawangan Sembalun sore itu cukup ekstrim. Suhu udara yang dingin terasa menusuk-nusuk tulang. Angin berhembus dengan kencang. Suara berisik dari angin yang menerpa dome menjadi lagu pengantar tidur malam itu. Kami harus tidur cepat karena esok dini hari kami akan melakukan summit attack ke puncak Rinjani. Tenaga yang terkuras harus cepat dipulihkan.


***

 

Pukul 01.00 malam bunyi alarm mulai terdengar bersahutan. Suhu udara sangat dingin. Segala jenis pakaian penghangat kami manfaatkan semaksimal mungkin, dari jaket, sweater, balaclava sampai kain sarung telah terpasang di tubuh kami. Seolah telah menjadi jadwal yang disepakati bersama, para pendaki di camp yang lain juga telah bersiap untuk memulai summit attack. 


Hampir seperti antrian, para pendaki tampak bagaikan barisan semut yang meniti jalan setapak menuju puncak Rinjani. Headlamp ataupun senter menjadi perlengkapan yang wajib dipakai. Jalur yang curam dan berpasir menjadi salah satu tantangan dalam menaklukan puncak Rinjani. Beberapa puluh meter menjelang puncak kondisi jalur semakin menantang, satu langkah naiknya kaki kita akan segera diikuti dengan setengah langkah lagi turunnya kaki kita karena terperosok kerikil dan pasir yang sangat licin. Selain itu, di kiri kanan jalur summit attack merupakan jurang yang dalam. Terpeleset dan mungkin nama pendaki akan menjadi headline surat kabar di seantero Indonesia. Akhirnya setelah melalui perjuangan yang tidak mudah, sampai juga saya di Puncak Rinjani. Rasa syukur pun segera terpanjatkan, masih diberi keselamatan menjejakkan kaki di titik tertinggi Pulau Lombok Ini.

 

Puncak Rinjani tidak begitu luas, sempit dan berbatu batu. Di puncak tegeletak sebuah papan triangulasi penanda ketinggian, 3726 mdpl. Dari tempat ini kita bisa melihat dengan jelas daratan Pulau Lombok dan Pulau Bali. Danau Segara Anak juga terlihat dengan indah. Seperti ingin mengundang kami untuk segera bermain main dengannya.


***

 

Perjalanan turun dari puncak menuju Pelawangan terasa sangat menyenangkan. Jalur di bibir kaldera yang berupa pasir halus dan kerikil kecil berubah menjadi jalur seluncuran. Memang berbahaya, tapi sebuah keasyikan tersendiri bagi kami bisa bergerak turun dengan kecepatan yang lumayan tinggi, apalagi mengingat summit attack tadi pagi, perjalanan 3-4 jam dengan jarak yang sama dapat ditempuh dalam 45-60 menit saja.


Hari ketiga kami memilih untuk sekali lagi mendirikan camp di Pelawangan Sembalun. Kondisi fisik yang sangat terkuras menyebabkan salah satu personel tim mengalami masalah kesehatan, sehingga akhirnya kami memutuskan sekali lagi bermalam di tempat itu untuk sedikit memulihkan kondisi tubuh. Tidak berbeda dengan kemarin, cuaca di Pelawangan Sembalun benar benar berangin.

 

Keesokan harinya, sekitar pukul sembilan pagi kami telah bersiap melanjutkan perjalanan menuju Danau Segara Anak. Jalur menuju Segara Anak lumayan panjang, melipir punggungan di sekeliling danau. Selain itu, jalur ini juga memiliki kemiringan yang lumayan curam. Perjalanan kami pagi itu ditemani kabut yang menghalangi hangatnya sinar matahari. Jarak pandang tidak begitu jauh, sekitar 5-10 meteran saja. Di sepanjang perjalanan kami melewati beberapa anak sungai kecil yang tampak kering, hanya terlihat kubangan air. Kami sempatkan berhenti untuk mengambil air minum. 


Sekitar pukul 11.00, samar samar akhirnya mulai terlihat Danau Segara Anak. Kabut dan awan mendung yang sedari tadi menemani kami telah menghilang. Berganti dengan langit yang tampak biru, bersanding dengan hangat cahaya sang mentari. Kami mempercepat gerak langkah kami, perut kami yang keroncongan sudah tidak sabar untuk menikmati makan siang di pinggir salah satu danau vulkanik terbesar di Indonesia ini.

 

Danau Segara Anak memiliki luas 11.000.000 m persegi dengan kedalaman sekitar 230 m. Di Segara Anak banyak terdapat ikan mas dan mujair sehingga sering digunakan untuk memancing. Bagi Suku Sasak Danau Segara Anak merupakan tempat yang disakralkan. Mata air panas yang mengalir di sekitar danau dipercaya bisa menyembuhkan berbagai macam penyakit. Di sisi timur Danau Segara Anak terdapat anak gunung baru, yang bernama Gunung Barujari. Sampai sekarang aktivitas vulkanik di kawasan ini masih terjadi, salah satunya ditandai dengan suara gemuruh yang kadang terdengar dari arah Gunung Barujari.Saya pun berkesempatan untuk mendengar dentuman tersebut, pengalamanyang menarik sekaligus mengerikan. Di dekat Danau Segara Anak juga terdapat satu objek menarik lain yang tidak boleh dilewatkan, yaitu Gua Susu. Jaraknya tidak terlampau jauh, sekitar satu kilometer. Dengan berbagi macam keindahan alamnya, tak salah jika Gunung Rinjani pernah dinobatkan sebagai salah satu lokasi trekking terbaik di Asia Tenggara.


Setelah mendirikan camp dan mengisi perut dengan sajian istimewa, soto ayam dengan lauk ikan goreng, satu persatu anggota tim mulai sibuk dengan keasyikannya masing masing. Ada yang memancing, ada yang menuju pemandian air hangat, ada juga yang hanya menghabiskan waktu sekedar bengong menikmati keindahan danau. Hari itu kami benar benar bebas untuk memanjakan badan kami dengan berbagai aktivitas yang menyenangkan.

 

Hari kelima rencananya kami akan menuju Pelawangan Senaru dan bermalam di sana. Kami memulai perjalanan sekitar pukul dua siang dan sampai di Pelawangan Senaru sekitar pukul lima sore. Medan yang dilalui cukup berat. Beberapa tanjakan sangat curam, selain itu di beberapa bagian jalur tampak ada bekas longsoran, menandakan bahwa kondisi tanahnya labil.


Pelawangan Senaru tidak begitu luas, berada di atas sebuah bukit. Cuacanya hampir sama dengan Pelawangan Sembalun, dingin dan berangin. Dari Pelawangan Senaru pemandangannya sangat indah. Jika cuaca cerah kita bisa melihat landscape Danau Segara Anak dengan Gunung Barujarinya, dikelilingi oleh tinggi dinding dinding kaldera.

 

Hari keenam merupakan hari terakhir dalam rangkaian pendakian kami. Kami memulai perjalanan dari Pelawangan Senaru sekitar pukul sembilan pagi. Cuaca hari itu sangatlah terik. Perjalanan yang kami lalui didominasi oleh merupakan turunan serta jalan setapak yang berbatu-batu melewati beberapa punggungan. Sekitar 30 menit perjalanan kami telah sampai di Pos Cemara Lima. Pos ini terletak tepat di bawah jalur punggungan turun dari Pelawangan Senaru. Sekitar empat jam kemudian, kami pun sampai di Pintu Gerbang Pendakian jalur Senaru.


***

 

Sungguh betapa beruntungnya kita lahir sebagai warga negara Indonesia. Tempat dimana matahari bersinar sepanjang tahun, kekayaan alam yang begitu menakjubkan, keanekaragaman budaya yang begitu majemuk dan begitu banyak hal lainnya yang bisa kita syukuri. Dan Pulau Lombok ini adalah salah satu bukti nyatanya.

Percayalah :)


Labels: Lombok , Rinjani , Segara Anak , Plawangan



Artikel Menarik Lainnya

Senja di Banda Aceh
 
Potensi Wisata Alam Sukabumi
 
Tanjakan Tiada Maaf Gunung Cikuray
 
berkunjung ke bandung timur
 
Mengikuti jejak \
 
0 Komentar Tampilkan

Tidak ada komentar.




User name
Password