![]() |
|
1. Kupang
Jl. Irian Jaya No. 1 A
Telp : 0380-828822
Fax : 0380-824422
2. Flores
Jl. Anggrek No 18 Maumere Sikka Flores
Telp : 0382 - 22187
Fax : 0382 - 22524
Liburan panjang pertengahan bulan Mei 2012 kemarin tentunya tidak saya buang percuma. Jauh-jauh hari sebelumnya, saya sudah berencana untuk mengunjungi Pulau Flores. Ya! Pulau Flores tentunya menjadi pilihan yang menarik karena pesona alamnya masih banyak yang perawan dan rupawan serta terdapat Taman-taman Nasional yang tersohor namanya hingga sampai di telinga wisatawan mancanegara. Salah satunya ialah Taman Nasional Danau Kelimutu, pasti warga Indonesia tak asing dengan danau ini. Pasalnya dulu Danau Kelimutu dijadikan sebagai salah satu gambar mata uang kertas di Indonesia (uang kertas 5000 rupiah).
Danau Kelimutu terletak di Desa Koanara, Kecamatan Wolowaru, Ende – Nusa Tenggara Timur. Untuk menuju ke Danau Kelimutu kebanyakan para wisatawan singgah terlebih dahulu di Desa Moni, Ende. Desa Moni merupakan desa yang terletak di kaki Gunung Kelimutu dan menjadi pintu gerbang menuju Danau Kelimutu . Di Desa Moni juga ditemukan beberapa homestay/ penginapan dan rumah makan. Saya pun memilih untuk bermalam disini setelah melalui 9 jam perjalanan darat dari Ruteng (Kabupaten Manggarai). Masyarakat sekitar pun ramah. Tak jauh dari penginapan-penginapan kita juga bisa berkunjung ke perkampungan adat Desa Moni.
Dini hari sekitar 04.25 WITA, saya memulai perjalanan menuju Danau Kelimutu dengan menumpang ojek motor yang saya pesan lewat pengelola homestay semalam. Udara pagi itu terasa dingin sekali. Suasana di sekitar Desa Moni masih gelap dan tampak tenang. Hanya kerlap-kerlip lampu rumah penduduk yang meramaikan suasana. Saat melewati penginapan lainnya, saya melihat beberapa wisatawan asing juga bersiap-siap menuju Danau Kelimutu. Beberapa ada yang menggunakan mobil, sedang lainnya memilih untuk berjalan kaki dari Desa Moni.
Setelah meninggalkan Desa Moni lalu memasuki gapura jalan masuk utama menuju Danau Kelimutu, suasana benar-benar tampak gelap dan sepi. Selain jarangnya pemukiman penduduk, kabut tebal juga turut menyapa kami selama perjalanan. Medan jalan pun menanjak dan berkelok. Untungnya selama perjalanan kondisi jalan sudah bagus dan beraspal. Mata saya pun mencoba menembus tebalnya kabut sekitar, di sisi kanan-kiri jalan terlihat samar-samar pepohonan, tumbuh-tumbuhan, dan persawahan. Sekitar 25 menit berlalu, tibalah saya di loket pembelian tiket masuk Taman Nasional Danau Kelimutu. Di lokasi ini sudah ramai pengunjung, baik wisatawan domestik ataupun mancanegara sedang mengantri membeli tiket masuk.
Tiket masuk Taman Nasional Danau Kelimutu sudah saya dapatkan, perjalanan dilanjutkan. Setelah kurang lebih 7 menit berlalu tibalah saya di area parkir Taman Nasional Kelimutu. Disana sudah ditemui keramaian mobil dan sepeda motor yang parkir. Tanpa membuang waktu, saya langsung diantarkan oleh supir ojek menuju Puncak Gunung Kelimutu. Dengan berbekal senter, kami pun menelusuri setapak demi setapak jalur trekking yang telah dibuat. Tengok kanan-kiri yang saya lihat hanya tampak siluet pepohonan, kabut benar-benar tebal saat itu. Mata saya pun terfokus pada jalur trekking yang disoroti cahaya lampu senter oleh supir ojek.
Berjalan kaki melewati jalur trekking cukup melelahkan, karena melewati ratusan anak tangga serta medan jalannya menanjak. Tak berapa lama kemudian kami berhenti di sebuah gazebo. Saya pikir sudah sampai di puncak, ternyata belum. Supir ojek menginformasikan jika di lokasi ini merupakan salah satu titik untuk melihat danau. Tapi berhubung kabutnya tebal jadi disini tak terlihat apa-apa. Perjalanan menuju puncak dilanjutkan. Tampak dari kejauhan kerlap-kerlip lampu senter yang berasal dari puncak. Walaupun tampak terlihat dekat, saya harus menaiki ratusan anak tangga lagi. Perjalanan ini mengingatkan saya akan pengalaman menaiki tangga-tangga menuju kawah Gunung Bromo beberapa tahun silam.
Setelah 30 menit melewati jalur trekking, tibalah saya di tugu triangulasi Inspiration Point. Nafas saya terengah-engah, kaki juga terasa lelah. Saya pun duduk bersandar di undakan Tugu Inspiration Point. Disini saya melihat sekitar dipenuhi kabut tebal. Kemolekan danau 3 warna masih belum terlihat. Setelah cukup beristirahat, saya melaksanakan Solat Subuh di puncak. Angin yang berhembus cukup kencang, membelai lembut kulit saya. Udara dingin memeluk erat tubuhku,menemani melantunkan doa-doa pada Sang Pencipta Alam Raya. Tak berapa lama kemudian, kabut-kabut tebal mulai turun dari puncak. Perlahan-lahan kabut mulai menipis. Samar-samar terlihat langit subuh, pegunungan, dan pemandangan danau 3 warna.
Danau yang pertama kali saya lihat adalah Danau Tiwu Ata Mbupu. Danau ini berwarna hitam, memiliki luas 4,5 hektar, kedalaman airnya 67 meter, dan termasuk dalam klasifikasi kurang aktif. Di sekitar Danau Tiwu Ata Mbupu tampak hiaju karena banyak ditemui pepohonan pinus yang berjajar rapi.Setelah mengabadikan gambar Danau Tiwu Ata Mbupu, saya berpindah tempat melihat kedua danau yang berdekatan. Saat itu yang tampak hanya Danau Tiwu Nuamuri Koofai dengan warna biru turquoise, sedang Danau Tiwu Ata Polo masih tertutup oleh kabut. Tak berapa lama tiupan angin mampu menyibak kabut tersebut. Lambat laut Danau Tiwu Ata Polo menampakkan warna biru turquoise-nya yang eksotik, sama dengan warna yang ditampilkan oleh Danau Tiwu Nuamuri Koofai.
Sekitar pukul 06.30 WITA, kabut-kabut mulai turun. Langit tampak berawan. Sang surya mulai menampakkan sinarnya diantara gumpalan-gumpalan awan yang berterbangan memenuhi langit. Saya masih bertahan di atas tangga Tugu Inspiration Point memandangi Danau Tiwu Nuamuri Koofai dan Danau Tiwu Ata Polo. Warna biru turquoise kedua danau tersebut semakin eksotis karena pancaran sinar Matahari. Kondisi disekitar kedua danau tak sehijau seperti di Danau Tiu Ata Mbupu. Saya hanya menemui tebing-tebing berkerikil yang ditumbuhi sedikit tanaman liar di sekitar tebing. Dari Tugu Inspiration Point, saya juga disuguhkan dengan panorama permai di sekitar Puncak Gunung Kelimutu. Susunan anak-anak tangga pada jalur trekking tampak seperti pemandangan tembok besar cina yang membelah gunung. Sungguh menawan sekali.
Satu per satu wisatawan mulai bermunculan di Puncak Gunung Kelimutu. Di sekitar Tugu Inspiration Point menjadi ramai. Akhirnya saya memutuskan untuk turun. Tetapi sebelumnya saya sempat mengabadikan 2 gambar relief yang berada pada dinding tugu. Pada relief pertama terdapat gambar Danau Tiga Warna Kelimutu,babi, ayam ,burung, monyet,aneka tumbuhan dan pepohonan. Sedangkan pada relief ke-2 bergambar kegiatan warga seperti menari beramai-ramai diiringi musik tradisional, menenun kain, membuat gerabah, dan memahat patung. Jika saya ambil kesimpulan relief tersebut menceritakan kehidupan di sekitar Gunung Kelimutu, baik itu penghuni hutan maupun warga desa yang tinggal di sekitar Gunung Kelimutu.
Saat perjalanan kembali menuju area parkir, saya pun berbincang-bincang dengan Om Marthen (supir ojek yang mengantarkan saya dari Desa Moni) mengenai Danau Kelimutu. Ternyata Danau Kelimutu dipercaya sebagai tempat yang sakral dan mistis oleh warga sekitar. Danau Kelimutu merupakan tempat arwah seseorang meninggal dunia (maE) yang meninggalkan kampungnya dan tinggal di Kelimutu untuk selama-lamanya. Arwah tersebut masuk ke salah satu danau yang ada tergantung dari usia dan perbuatannya. Oleh karena itu para pengunjung diharapkan bersikap baik selama berkunjung, turut menjaga kebersihan wilayah Danau Kelimutu, dan menjaga kelestarian flora-fauna di sekitar dengan tidak merusak/ memburu mereka.
Om Marthen juga menceritakan jika warna ketiga danau sewaktu-waktu bisa berubah. Hal ini terjadi karena kandungan mineral yang ada pada danau dan faktor cuaca. “Danau Tiwu Ata Polo pun dulu pernah berwarna merah.”,terangnya. Perubahan warna danau juga dibuktikan pada papan Informasi yang terpampang di area Taman Nasional Danau Kelimutu. Sumber informasi yang berasal dari Direktorat Vulkanologi- Direktorat Jenderal Geologi dan Sumberdaya Mineral pada tahun 1990 menyebutkan bahwa danau tiga warna yang berada di Gunung Kelimutu (1640 m dpl) memiliki warna air yang berlainan. Danau Tiwu Ata Polo berwarna merah, Danau Tiwu Nua Muri Koo Fai berwarna Hijau, dan Danau Tiwu Ata Mbupu berwarna biru.
Perjalan saya menuju Puncak Gunung Kelimutu dan melihat keindahan danau 3 warnanya, menyadarkan saya bahwa Indonesia itu benar-benar kaya akan keanekaragaman hayati dan budaya. Sungguh beruntung tinggal di negeri ini. Keindahan alamnya yang tersebar di pulau-pulau sudah tak diragukan lagi kemolekannya. Walau berbeda suku, adat, budaya, dan agama kita tetap satu saudara.Oleh karena itu mari Kawan kita jaga kelestarian alam di sekitar kita dan hormati segala perbedaan yang ada. Jaya terus Indonesia, Salam Bhineka Tunggal Ika!
Labels: Holiday , Flores , Danau Kelimutu
Artikel Menarik Lainnya
| 0 Komentar | Tampilkan |
Tidak ada komentar.










