Search Destination
Temukan artikel seputar tempat dan aktivitas wisata yang kamu sukai, mulai dari berenang di pantai sampai panjat tebing.

Daerah Wisata


Jenis Wisata


Kata Kunci





SPONSORED



Total Article
1521
Total Member
13635





Home > Article

04 June 2012 | DKI Jakarta | Wisata Kota
Work-travelling balance ≥ work-life balance
Rangga Yudhika
Adventurer
Rate
Share  

1. Jakarta Selatan
     Jl. Sultan Iskandar Muda NO 17 C  RT 011/RW 09   
     Kebayoran Lama Utara 
     Tel : 021-7233336
     Fax : 021-7233337

 

2. Jakarta Utara  
     Ruko Puri Mutiara Blok A 128 Jl.
     Sunter Agung 
     Tel : 021-65310836
     Fax : 021-65310838

 

3. Jakarta Barat
    Ruko Seasons City Blok A07,
    Jl. Latumenten No. 33
    Tel : 021 - 290 71 301 / 2

Marissa Allegra Williams,” To travel is to live (well).”


Terperangkap dalam kepenatan, rutinitas, hingga tingginya tekanan dalam pekerjaan tampaknya menjadi akar permasalahan orang jaman sekarang. Minimal delapan jam dalam satu hari waktu bekerja untuk tipe karyawan nine-to-five termasuk saya. Lebih gilanya, sebagian perusahaan menganggap kerja lembur atau extra hour adalah hal wajib! Jumlah jam tersebut belum termasuk satu hingga dua jam waktu untuk menempuh perjalanan pulang pergi kantor.


Seiring dengan itu semua, ungkapan work-life balance sering muncul menjadi slogan untuk menemukan keseimbangan dalam hidup. Pemaknaan hidup masing-masing orang tentunya berbeda. Ada yang menyebut work-hard, party-hard. Ada yang menyebut enjoy the life. Namun bagi saya sendiri, work-life balance justru saya temukan ketika mengganti ungkapan tersebut menjadi work-travelling balance.


Rasanya sangat masuk akal jika terjemahan bahasa inggris dalam perjalanan dinas adalah business-travel, yang tentu lebih nyaman didengar dibandingkan dengan business-visit, business-duty, ataupun business-task. Business trip atau business travel menjadi bukti lain jika dalam perjalanan bisnis sekalipun, unsur travelling tidak dapat dipisahkan.


Ketika sedang di Jepara, saya mendengar cerita yang menarik dari satu pria bule asal Swiss yang sedang berlibur. Si bule ternyata punya kehidupan work-travelling yang balance, tepatnya sangat balance! Enam bulan dalam setahun dia bekerja di penginapan di pinggir danau di salah satu kota wisata di Swiss. Enam bulan kemudian, dia akan berkeliling dunia. Sangat balance bukan?


Masa ketika di bangku sekolah dan kuliah bisa dibilang merupakan masa-masa yang paling menyenangkan untuk melakukan travelling. Libur sekolah yang panjang  sangat memudahkan alokasi waktu untuk berpergian. Ketika kuliah, waktu kosong di tahun depannya selalu sudah saya jadwalkan untuk jalan-jalan. Tidak kurang dari empat kali dalam setahun waktu liburan yang saya pergunakan untuk travelling.


-Travelling ketika sudah bekerja? Why not!-
Meskipun ada beberapa hari libur jatuh di hari Sabtu atau Minggu, tidak kurang dari 13 penanggalan berwarna merah muncul dalam satu tahun kalendar Indonesia. Dengan jumlah hari libur sebanyak itu dan masih ditambah dengan cuti bersama, travelling ketika sudah bekerja tidak lagi mustahil.

Ada satu ungkapan, “ada waktu, ga ada uang. ada uang, ga ada waktu”. Padahal sesungguhnya waktu satu hingga dua hari sudah bisa dimanfaatkan dengan baik untuk agenda jalan-jalan. 


Ketika travelling biasanya saya menggunakan konsep backpacking. Dari jauh-jauh hari saya sudah memesan tiket dari low-cost airlines untuk penerbangan ke beberapa negara di Asia Tenggara. Alhasil, biaya penerbangan yang biasanya memakan budget sekitar 40-50 persen dapat dimimalkan menjadi 30-40 persen saja.

Ketika sudah bekerja pun saya tetap mengalokasikan waktu untuk travelling. Saya hampir selalu mengambil jatah cuti untuk keperluan travelling, termasuk ketika bekerja part-time di hotel saat bersekolah di negara dengan mata uang termahal itu. Selama bekerja hampir sembilan bulan disana, saya tetap bisa melakukan dua kali trip backpacking ke Eropa plus satu kali year end backpacking di Inggris Raya.


Teman saya @virtanlius biasanya menggunakan bahasa “sweet escape” untuk aktifitas liburan yang menggunakan jatah cuti di tengah sibuknya pekerjaan. 


Ada satu majalah di Australia yang bahkan secara khusus memiliki pembahasan  mengenai “life-work-travel”. Cover majalah yang digunakan adalah seorang berpakaian jas yang menikmati liburan dengan latar belakang laut yang terbuka.


-Work-travelling balance, not just work-life balance-
Bagi saya, travelling keeps me alive. Obat paling mujarab bagi saya untuk refresh up ketika sedang penat, ataupun butuh hiburan adalah travelling. Seperti tertulis dari judul tulisan ini, bagi saya skala kepentingan work-travelling lebih besar atau sama dibandingkan dengan work-life.

 

Bahkan bukan tidak mungkin jika ada seseorang yang melakukan travelling sambil bekerja. Agustinus Wibowo salah satunya; working while travelling. Sosok yang begitu menginspirasi saya ini menjadi penulis dan fotografer ketika travelling dari satu tempat ke tempat lainnya.


Ketika menginap di hostel backpacker di Roma, saya bertemu dengan seorang pemuda asal Inggris. Pemuda itu bahkan datang ke Roma khusus untuk jalan-jalan dan tinggal untuk sementara waktu sebelum memutuskan mencari kerja disana. Tujuannya yaitu satu, untuk merasakan suasana kehidupan dan kenyamanan tinggal sebagai masyarakat di kota itu terlebih dahulu.


Travelling memberikan saya inspirasi tanpa batas yang jauh lebih luas dibandingkan dengan makna berlibur itu sendiri. Ketika travelling, saya merasakan nilai-nilai sosial dan inspirasi budaya di tempat saya berada. 


Ketika hanya punya waktu yang singkat, perjalanan singkat pulang pergi ke pulau Untung Jawa pun bisa saya lakukan. Ketika agak jenuh dengan kehidupan kota, pilihan untuk bertenda dan menginap di pulau Tidung bisa kembali menyegarkan pikiran dan semangat diri. Juga ketika akhir pekan, saya bisa mengambil jatah cuti saya untuk backpacking ke Cirebon, bersantai di Desa Sawarna atau melihat lumba-lumba di pulau Kiluan. Baru-baru ini, teman kantor saya @lenbanget dan @noveeanne11 baru saja melakukan sweet escape di tengah-tengah waktu weekendnya.


So, keep calm and travel on, mudah-mudahan travelling dapat menjadi penyeimbang hidup anda.


“Travel is more than the seeing of sights; it is a change that goes on, deep and permanent, in the ideas of living.” – Miriam Beard
@ranggayudhika         -     Indonesia.Is.Me


www.ranggayudhika.multiply.com
Travelling while u r still breathing


Labels: Backpack , Travelling , Indonesia



Artikel Menarik Lainnya

Potensi Wisata Alam Sukabumi
 
Tanjakan Tiada Maaf Gunung Cikuray
 
Mengikuti jejak \
 
2 Day trip ke Martapura (Kalimantan Selatan )
 
Tanjung Layar, Si Karang Kembar
 
4 Komentar Tampilkan

Rangga Yudhika   15 March 2013 12:32:56
Artikelnya kereennn...

hello amanda dan yohana, thx u utk komen nya. lets keep travelling on
Balas  Laporkan 
amanda   14 March 2013 17:44:26
Setuju banget.. mau ah "keep calm and travel on"
Balas  Laporkan 
Yohana Tarigan   18 June 2012 19:02:54
Artikelnya kereennn...
Balas  Laporkan 
Yohana Tarigan   18 June 2012 12:01:26
Artikelnya kereennn...
Balas  Laporkan 

Pertama   Sebelumnya   Selanjutnya   Terakhir  
User name
Password