![]() |
|
1. Bone
Jl. Ahmad Yani No 76
Telp : 0481-23335
Fax : 0481-23957
2. Makassar
Jl. Pangayoman No. FG 2 - 3
Telp : 0411-831054
Fax : 0411-831050
3. Makassar
Jl. Lanto Daeng Pasewang No. 18
Telp : 0411 - 831054
4. Palopo
Jl. Dr Ratulangi (Dpn Central Yamaha Palopo)
Telp : 0471-3311488
Fax : 0471-21311
5. Pare-Pare
Jl. Veteran (Depan SMKK Pare-Pare)
Telp : 0421-25555
Fax : 0421-27777
6. Sengkang Wajo
Jl. A. Panggaru No. 16
Telp : 0485-22663
Fax : 0485-22661
===============
Ditulis oleh : Dian Sundari
Seorang diri menyusuri rute jalan darat Makassar – Bira (Februari-2012) kemudian menyebrang ke Selayar ini aku lakukan tahun lalu. Hampir 6 bulan jaraknya dari “perjalanan besar” terakhirku merambah Timor Barat – Sawu – Rote (Agustus-2011).
Kekayaan alam dan budaya di Nusantara sungguh luar biasa. Kurasa, walaupun sepanjang hidupku kuhabiskan dalam perjalanan merambah sudut-sudutnya, tak kan mungkin “cukup” untuk mempelajarinya.
Seperti di Tanah Beru (Kabupaten Bira, Sulawesi Selatan), sekelumit waktu luang yang kuhabiskan di sana, malah memperbesar rasa penasaran dan kekaguman akan alam dan budayanya, terutama keahlian para seniman perahu pinisi yang sudah melegenda. Penasaran dengan ritual ritual adat yang harus dilakukan dari saat awal membuat perahu, hingga peluncuran perdananya ke lautan. Penasaran pula dengan Desa Adat nya yang disebut-sebut sebagai Desa Baduy – nya Bira. Juga penasaran dengan alam bawah lautnya.
Para seniman kapal pinisi terpusat di Desa Tana Beru, Desa Ara, dan Desa Lamo-lamo. Legenda menyebutkan bahwa ketiga wilayah itu adalah tempat terdamparnya pecahan perahu kayu milik Pangeran Sawerigading dari Kerajaan Luwu yang digunakan untuk mempersunting Putri We Codai di Cina sana. Badai memporak porandakan perahu, dan bagian-bagiannya terdampar di tiga tempat tersebut. Desa Tana Beru di Tanjung Bira kebagian layar dan tiang layar, sehingga mereka menjadi para pelaut ulung. Desa Ara kebagian lambung kapal, sehingga mereka pandai membuat perahu. Sedangkan Desa Lemo-lemo kebagian kepingan haluan dan buritan perahu, sehingga merekalah yang ahli rumus jitu pembuatan perahu.
Entah benar entah tidak legenda itu, akan tetapi dari ketiga tempat itu lah kapal-kapal pinisi jawara yang telah berhasil mengarungi 7 samudra , misalnya Kapal pinisi Ama na Gappa alias Bapak nya si Gappa yang berhasil berlayar mengarungi Samudra Hindia hingga ke Madakaskar di Afrika.
Pemandangan di sepanjang tepi pantai Desa Tana Beru , dipenuhi dengan perahu-perahu pinisi yang sedang dibuat. Ukurannya beragam. Saya sempat naik ke atas sebuah kapal pinisi besar yang merupakan proyek dari salah satu juragan kapal di Tana Beru ini bernama Haji Muslim Baso, selain dari pesanan lokal, beliau banyak mengerjakan pesanan kapal dari orang asing. Salah satu proyeknya sekarang adalah pembuatan kapal pinisi sepanjang 25 meter untuk Mr. Stuart ‘Minty’ Sutton alias Captain Minty ( www.calicojack-adventures.com ).
Kapal ini sungguh besar. Dua orang pekerja tengah asyik ngobrol dan ngopi-ngopi di bawah badan perahu sehingga terlindung dari hujan rintik-rintik. Seorang pekerja tengah tekun mengelas dan “mengikir” kayu-kayu pembentuk lambung kapal. Kayu-kayu itu katanya didatangkan dari Kendari (Sulawesi Tenggara), mungkin karena kini kayu-kayu pilihan bahan pembuatan kapal sudah semakin langka di sekitar Bira.
Bahan perekat antar kayu digunakan kulit pohon barruk, sedangkan untuk dempul digunakan campuran kapur dan minyak kelapa. Nah, hal yang ditunggu-tunggu adalah proses peluncuran pertama sang kapal pinisi ke laut. Suatu ritual adat yang disebut sebagai upacara “appasili” alias upacara penolak bala berupa pembacaan mantra-mantra oleh seorang “sanro” (dukun) diatas geladak kapal. Kemudian dilanjutkan dengan upacara “ammossi” yaitu pemberian pusat pada pertengahan lunas perahu. Prosesi ini melambangkan kelahiran perahu, pusat lunas perahu diibaratkan sebagai “tali pusar” bayi yang baru lahir. Baru kemudian perahu akan ditarik ke laut.
Nah si kapal pinisi Calicojack ini dijadwalkan untuk di luncurkan ke laut pada sekitar bulan April atau Mei 2012, kira-kira 10 bulan sejak pembuatan pertamanya. Uhhh..., andai saja aku bisa menghadiri acara ini...
Kapal-kapal pinisi cantik yang sudah “dilahirkan” tersebut biasanya di-finishing di Pantai Tanjung Bira. Ke sana lah tujuan ku selanjutnya, dengan menumpang ojek motor dibawah guyuran hujan yang semakin deras. Tidak jauh dari dermaga Tanjung Bira, 2 kapal pinisi cantik yang masih sedang “didandani” agar nanti lebih cantik lagi, tampak terombang-ambing di lepas pantai. Beberapa pekerjanya tengah mengayuh sampan untuk memulai pekerjaannya hari itu. Hujan yang terus mengguyur tidak menyurutkan semangat kerja mereka.
Di dermaga, sebuah kapal ferry penyebrangan Bira – Selayar baru saja akan berlabuh. Kapal itulah nanti yang akan membawa ku menyebrangi Selat Selayar. Di sana nanti kan ku buka lagi satu lembar baru dari buku indah berjudul Nusantara .
Sampai jumpa di lembar baru itu nanti, karena bukankah katanya “The world is a book, and those who do not travel, read only a page”...??? Jadi mari lanjutkan perjalanan..!!!
============
Labels: pinisi , tana beru , bulukumba , tanjung bira
Artikel Menarik Lainnya
| 1 Komentar | Tampilkan |
![]() |
dian sundari 14 June 2012 02:28:06 |
Balas Laporkan |
|
Pertama Sebelumnya Selanjutnya Terakhir |
||














