![]() |
|
1. Bone
Jl. Ahmad Yani No 76
Telp : 0481-23335
Fax : 0481-23957
2. Makassar
Jl. Pangayoman No. FG 2 - 3
Telp : 0411-831054
Fax : 0411-831050
3. Makassar
Jl. Lanto Daeng Pasewang No. 18
Telp : 0411 - 831054
4. Palopo
Jl. Dr Ratulangi (Dpn Central Yamaha Palopo)
Telp : 0471-3311488
Fax : 0471-21311
5. Pare-Pare
Jl. Veteran (Depan SMKK Pare-Pare)
Telp : 0421-25555
Fax : 0421-27777
6. Sengkang Wajo
Jl. A. Panggaru No. 16
Telp : 0485-22663
Fax : 0485-22661
Akhirnya aku harus meninggalkan Papua. Satu tahun mengabdi di Kabuten Teluk Wondama, Papua Barat, membuat aku sangat mencintai wilayah Timur Indonesia. Alamnya yang mempesona, seperti gadis cantik lagi perawan, mengagumkan dan sangat natural.
Wasior, tempatku bekerja menjadi wilayah terpencil di "kepala burung" Papua. Di sini, hanya ada satu jalan utama. Kalau aku ke luar rumah, bisa bertemu orang yang sama beberapa kali di hari yang sama. Meski kulit kami tidak sama hitamnya, dan rambut mereka nampak sangat berbeda denganku, tetapi mereka tak enggan menyapa. Mereka kenal betul dengan budayanya, Indonesia yang ramah.
Juni 2012, aku menginjakkan kaki di Rendani terakhir kali. Bandar Udara di Manokwari, Ibukota Papua Barat. Dan saat matahari di atas kepala, pukul 11.50 WITA, aku sampai di Ibukota Sulawesi Selatan. Makassar!
Rutinitas pekerjaan membuat aku tak pernah mempunyai kesempatan berjalan-jalan di kota terbesar di Indonesia Tengah ini. Kerap, Makassar hanya tempat persinggahan pesawatku sebelum aku berangkat ke kota berikutnya. Aku tahu, Makassar mempunyai Losari yang cantik. Maka kali ini, kutekadkan bulat-bulat, aku mau mencium bau laut Losari dari jarak 5 cm dari garis pantainya, dan memandang mentarinya. Aku pun memesan tiket pesawat Manokwari-Makassar dan Makassar-Jakarta, dengan rentang waktu 3 hari di Makassar.
Setiba di Makassar, aku dijemput salah seorang temanku yang bertugas di sini. Kami mengitari seluruh kota. Kotanya bagus, ada fly over dan tidak macet seperti kota-kota besar lain yang ada di Indonesia. Kantor gubernurnya dibuat di areal yang sengaja dibuat hijau, seperti berada di dalam kebun atau hutan. Bayangan tentang Kota Makassar yang keras dan mahasiswanya suka demo lepas dari anganku. Kota yang tertata dan asri.
Sebagai kota besar, Makassar tak hanya jadi kota tempat bisnis, tetapi juga kota wisata. Sore itu, aku dan beberapa temanku menuju arah Barat kota. Kami ke Pantai Losari! Di pantai ini, ada tulisan “L-O-S-A-R-I” yang besar, aku pun langsung mengabadikan momen dengan berfoto di depan tulisan itu. Losari menjadi tempat nongkrong warga Makassar. Luar biasa rasanya mempunyai objek wisata yang masih alami, tepat di pusat kota. Nampak pantai ini menjadi tempat wisata keluarga, juga ada yang kerap jogging di sekitar pantai, ada fasilitas wisata pantai seperti bebek-bebek untuk keliling pantai. Dan kalau sudah lelah berjalan-jalan di pantai, ada banyak tempat beristirahat sembari menikmati jualan di pinggir pantai.
Cahaya langit memendar, merah-kuning-jingga. Matahari bagai turun ke batas air di ujung laut Losari. Anak-anak berlari di sekitar pantai. Orang-orang muda berpasangan duduk-duduk sembari menatap mentari senja. Sunset pun merekah. Khayalku melayang memandang keindahan di depan mata. Aku mengambil beberapa foto sunset, dan tersenyum. Di batas langit dan laut, matahari seterang bola lampu kristal, mengecil seperti bola pimpong, di sekelilingnya tumpah cat merah, oranye, dan ungu. Laut di ujung sana setenang putri yang sedang melamun. Debur ombak tepat di hadapanku sangat menenangkan jiwa, dan angin yang sepoi-sepoi membelai dan menyejukkan wajahku. Losari, I got you!
Gelap menghampiri, aku masih belum beranjak dari Losari. Terlena oleh kurang lebih sepuluh menit sunset senja tadi, tak sadar kalau orang-orang di sekelilingku sudah berganti menjadi kawula muda warga Makassar. Kami lalu memesan pisang epe. Pisang mentah dibakar, dipipihkan, dan dicampur dengan air gula merah. Mmm, enak disantap saat masih panas. Waktu aku masih mahasiswa, di Medan (Sumatera Utara), kami menyebutnya dengan pisang bakar. Bedanya di Medan, pisang ini ditabur dengan coklat. Sebelum meninggalkan Losari, aku memandang ke seberang dan serasa melihat pemandangan Singapura di televisi. Dari pantai tempatku berdiri, lampu-lampu kota gemerlap dan cantik sekali. Wah romantis sekali.. Mungkin nanti, kalau aku mempunyai kesempatan mengunjungi Losari lagi, ada baiknya bersama kekasih! :)
Labels: Losari , Makassar , Sunset Losari , Wisata Kota Makassar.
Artikel Menarik Lainnya
| 0 Komentar | Tampilkan |
Tidak ada komentar.














