Search Destination
Temukan artikel seputar tempat dan aktivitas wisata yang kamu sukai, mulai dari berenang di pantai sampai panjat tebing.

Daerah Wisata


Jenis Wisata


Kata Kunci





SPONSORED



Total Article
1521
Total Member
13783





Home > Article

19 July 2012 | Jawa Tengah | Wisata Alam
Dieng, Keramahtamahan dan Pesonanya
Yohana Tarigan
Traveller
Rate
Share  

1. Semarang
     Jalan Imam Bonjol No.180
     Ruko Imam Bonjol Blok C-D, RT05/RW03
     Telp : 024-3584041 (Hunting)
     Fax  : 024-3584042

 

2.  Kudus
     Jl. A. Yani No. 128 A
     Telp : 0291-441442 
     Fax  : 0291-444390

 

3. Pati
     Jl. Dr. Susanto No. 56 A Pati, Rt.3/1, 
     Kota Pati Propinsi Jateng - 59119
     Telp : 0295-386400
     Fax  : 0295-382546

 

4. Tegal
     Jl. Jend. Sudirman No. 23 / 25 RT.01 RW.04
     Telp : 0283-322383
     Fax  : 0283-320714

 

5. Pekalongan
     Jl. KH Mansur 108 Kel Bendan  Pekalongan
     Telp : 0285-422008
     Fax  : 0285-431095

 

6.  Purwokerto
     Komplek Ruko Satria Plaza Blok BC - 3-4,
     Jl.  Jendral Sudirman
     Telp : 0281-626028
     Fax  : 0281-626030

 

7. Solo
     Jl. Raya Solo Permai JA No. 7-9
     Solo Baru
     Telp : 0271-626626
     Fax  : 0271-626623

 

8.  Klaten
     Jl. Pemuda Utara No 113
     Telp : 0272-322561
     Fax  : 0272-322546

 

9.  Yogyakarta
     Jl.  H.O.S. Cokroaminoto No. 221 Rt. 10/04
     Telp : 0274 - 555007
     FaX : 0274 - 555062

 

10. Magelang
      Jl. Ahmad Yani No. 40
      Telp : 0293-363109
      Fax  : 0293-361246


Perjalanan dimulai dari Terminal Rawamangun, Jakarta, sempet ngaret 3 jam akhirnya bis Pahala Kencana berangkat dan waktu menunjukkan jam 9.50 malam.
Macet di pantura, kemudian Bumiayu karena jalanan rusak (klise banget), jam 8.50 pagi kami tiba di Wonosobo. Ketika singgah untuk makan malam, saya sudah berpesan kepada kondektur untuk menurunkan kami di plaza sesuai dengan informasi pemilik penginapan yang saya telepon sebelum berangkat, entah plaza mana saya juga ngga tau, saya cuma bilang saya mau ke Dieng. Kondektur hanya bilang, iya. Sekitar 5 menit sebelum sampai, kondektur teriak-teriak memberitahu agar penumpang jurusan Dieng bersiap-siap. Dari belakang, ada seorang Bapak beserta anak laki-lakinya bersiap turun. Melihat kami juga bersiap, bapak itu bertanya apakah kami mau ke Dieng, lalu mengajak kami untuk bareng dengan mereka.

Dipertigaan lampu merah, kami turun. Supir beserta kondektur menunjuk ke bis kecil yang sedang mangkal jurusan Dieng langsung, kata mereka.
Setelah turun, saya dan suami celingak-celinguk cari tempat buat sarapan, ada toko mie, tapi masih tutup. Mau narsis dulu dipinggir jalan, tapi malu ada beberapa orang memperhatikan kami, hehehee...
Akhirnya kami menghampiri bus (yang disebut mikro), ternyata bapak tadi sama anaknya berdiri menunggu kami. Waahhh, baik banget.
Di mikro, ngga cuma bapak itu yang ajak kami ngobrol, penumpang lain, bahkan kenek bus, wuidiiihhh ramah banget. Apalagi mereka tau kami baru pertama kali kesana. Selain terpesona dengan pemandangan alamnya, yang sumpah bagus banget, saya juga terpesona dengan keramahan penduduknya. Sampe di pertigaan Dieng, kenek tanya apakah kami menginap di Penginapan Bu Jono, saya bilang Pondok Lestari, dengan baik hatinya pak supir menjalankan bus nya sedikit lalu menurunkan kami pas depan gang sambil mengarahkan kami ke penginapan. Hhhmmm, kalo di Jakarta udah kebayang kami disuruh turun dan suruh jalan :p

Di penginapan, kami disambut segelas teh panas yang ngga sampe 5 menit berubah jadi teh dingin, beserta Pak Haji Yanto, pemilik Pondok Lestari yang sangat ramah. Beliau menyediakan penyewaan mobil untuk keliling seluruh tempat wisata yang ada di kawasan Dieng beserta supir merangkap guide. Deal, perjalanan keliling Dieng dimulai jam 2 siang. Istirahat, bersih-bersih, sholat, bongkar ransel dan makan siang dipinggir jalan tepat diseberang penginapan Bu Jono.

Guide kami Mas Toha, kira-kira berumur 36 tahunan, ramah, dan dan benar-benar guide yang baik. Tujuan pertama yaituTelaga Warna, Telaga Pengilon, dan mengunjungi goa-goa yang tersebar disekitarnya. Goa Sumur, Goa Jaran dan Goa Semar merupakan tempat yang penuh dengan suasana mistis, terlebih ada dupa yang dibakar tepat dipintu masuk yang menandakan bahwa didalamnya sedang berlangsung, hhmm... pertapaan? Sepertinya begitu :D
Lanjut perjalanan melihat sisi telaga warna dari tempat berbeda, yang katanya pernah dibuat syuting video klipnya Katon Bagaskara. Saya masih terbawa susana mistis, jadi agak-agak ngga konsen disitu, hehehee...
Abis itu naik ke tebing, melintasi perkebunan kentang, wow, naiknya lumayan jauh, tapi dipuncaknya, dua telaga terlihat jelas. Telaga Warna berdampingan dengan Telaga Pengilon, berbingkai pohon cemara, latarbelakang perbukitan, ditambah birunya langit dan putihnya gulungan awan, indahnya tak bisa dilukis dengan kata-kata.
Diatas situ juga banyak terdapat batu-baru berukuran sangat besar, menurut guide kami, konon batu-batu tersebut dipakai buat membangun Candi Arjuna di Kawasan Dieng. Waduh, ngga kebayang bawanya bagaimana ya?

Dari sana, lanjut ke Dieng Plateau Theater, katanya disana kita bisa nonton sejarah Dieng, tapi saya ngga sempat nonton karena sudah menjelang sore dan sepi. Narsis sebentar, kami lalu pergi ke kawah Sikidang. Bau belerangnya menyengat, tapi menurut guide kami sebaiknya tidak perlu memakai masker karena malah perputaran oksigen jadi ngga lancar, bener juga sih. Jalan disini mesti berhati-hati, ada banyak lubang yang aktif, apabila didekati maka akan terdengar suara mendesis seperti air mendidih, ada juga suara seperti meletup, kayak kita masak bubur gitu, blup..blu..blup.
Abis dari Sikidang, lanjut ke Kawasan Candi Arjuna, oia berhubung kami kesana udah sore, jadi ga bayar, loketnya udah tutup, maaf ya...
Kawasan candi sudah sepi, yang menarik buat kami adalah ketika Pak Toha mengajak kami ke daerah padang rumput sebelah candi, tanahnya sih biasa aja, tapi ternyata kalo kita lompat-lompat keciiiilll saja tanahnya jadi goyang gitu. Seperti diatas spring bed. Saya sampe ngeri, takut jebol. Saya tidak tau persis mengapa tanah disitu seperti membal, tapi yang pasti setelah menginjak-injak sendal kita jadi basah seperti ada rembesan air dari dalam tanah, padahal sebelumnya tanahnya kering.

Puas bermain diatas tanah yang membal, kami istirahat sebentar, makan kentang goreng dan mencoba minuman yang paling tersohor di Dieng, yaitu purwaceng, viagra van java katanya, prikitiieewww....
Kalo yang pake susu itu mirip banget rasanya kaya sekoteng, enak dan hangat. Dari sana dianter beli oleh-oleh ke toko Trisakti, letaknya diseberang Bank BRI. Oh iya, di dalam kantor bank ini ada ATM-nya. Bukanya dari jam 8 sampe jam 3 sore kalo ngga salah, termasuk hari libur juga buka lho.
Di Toko Trisakti dijual macam-macam makanan, keripik kentang, keripik jamur, kacang, keripik tempe, manisan carica, purwaceng, dan masih banyak lagi. Menurut mbak yang jual, semuanya adalah buatan sendiri, tanpa pengawet dan sudah bersertifikat. Hebat ya.
Habis itu, kembali ke penginapan, istirahat. Coba-coba mandi dengan air panas, hiii.... dinginnya tetap menusuk tulang, sampe ngga bisa tidur.
Malam itu rencana berubah, kami memutuskan tinggal semalam lagi dan membatalkan rencana ke Semarang.

Besoknya kami turun ke Wonosobo. Tapi sebelum itu, kami jalan-jalan kesekitar penginapan sekalian ke atm, dan mampir ke toko oleh-oleh lagi. Duduk-duduk disana, ngobrol sama mbak yang kemarin, diseduhin purwaceng (sssttt pas mau dibayar mba-nya ngga mau) lalu cerita tentang pertama kali toko tsb berdiri. Yang menarik adalah cerita tentang musim peralihan dari musim panas ke musim hujan, sekitar bulan Juli, mereka biasa menyebut musim dingin, karena cuaca bisa dibawah 0 derajat celcius, dan paginya semua terlihat putih karena embun membeku yang biasa disebut upas. Upas adalah musuh petani karena akan membuat tanaman mati.

Dalam perjalanan menuju penginapan, tiba-tiba ada truk yang mengklakson kami, ternyata bapak yang kami temui di bus waktu pertama kali kami datang! Waahhh seneng banget deh bapak itu masih inget kami :), dipinggir jalan kami mencoba sate ayam dan lontong, rasanya enak, tp manisnya itu, khas masakan Jawa banget deh.

Jam 11 kami turun ke kota Wonosobo, mampir ke terminal yang cukup bersih dan rapi, menurut saya sih, untuk beli tiket pulang ke Jakarta, lalu makan mie ongklok. Modal tanya sana sini, sampe yang ditanyain bingung (apalagi yang nanya), akhirnya ketemu tempatnya. Lucunya tempat itulah yang saya tunjuk untuk sarapan pada saat kami turun dari bus. Waktu itu masih tutup. Hasil browsing bilang kalo mie ongklok yang enak dan terkenal adalah mie ongklok Pak Muhadi, beuuuhhh ramenya bukan main. Penyajiannya mie dengan sayur beserta kuah kental, dimakan bersama sate sapi. Rasanya enak, tapi bagi kami berdua yang asli Sumatera, kok rasanya terlalu manis ya?

Melanjutkan perjalanan ke Dieng, naik mikrobus ditempat yang sama ketika kami pertama kali datang, duduk disebelah pak supir, dan rencana mampir ke gardu pandang Tieng. Kali ini hujan sangat deras, dan ketika hujan reda, jreengg, kabut turun cepat dan tebal, jarak pandang hanya sekitar 3 meter ke depan, panduan hanya garis putih di tengah jalan, dan mikrobus jalan sangaaatt pelan. Deg deg an juga sih. Tapi semakin keatas, kabut semakin tipis dan hilang sama sekali.

Sampai di penginapan, sholat, lalu mampir ke warung makan Mba Yati, letaknya agak masuk ke gang, tempatnya enak dan seperti biasa, penjualnya ramah sekali. Rasanya juga enak. Coba nasi goreng jamur + ayam kampung gorengnya, hhhmmm nikmat...

Udah kenyang, kembali ke penginapan, duduk di dingklik mengelilingi tungku menemani Ibu Yanto, istri pemilik penginapan. Kami ngobrol asik banget, rasanya seperti dirumah sendiri. Ibu Yanto manawarkan kami untuk buat teh sendiri. Oh ya, cara minum teh disana bukan seperti kita, teh diseduh dicampur gula pasir lalu diminum, kalo disana tehnya panas dan tawar, pakenya gula merah, caranya gula digigit abis itu baru teh panasnya diseruput, jadi gulanya lumer dimulut, ditemani dengan penganan khas yaitu singkong yang direbus lalu ditumbuk trus dibentuk bulatan, kemudian dibakar ditungku. Sayang kami habis makan, jadi ngga sanggup makan lagi.

Malam kedua dinginnya ngga seperti malam sebelumnya. Cukup pake bed cover 2 lapis, ngga perlu pake kupluk. Istirahat untuk meneruskan keliling Dieng ring 2.
Jam 3.30 dibangunin Pak Yanto, kami siap-siap menuju Bukit Sikunir untuk menyaksikan matahari terbit, yang terkenal dengan sebutan golden sunrise.
Jam 4 teng, ditemani Mas Toha, mobil kijang kotak menelusuri jalan mulus melewati perkebunan, lalu perkampungan, mampir sholat subuh di mesjid. Kami datang telat, sholatnya baru selesai. Pas duduk, jamaah yang kebanyakan ibu-ibu menyalami saya, wow! Sekali lagi, keramahan yang membuat saya merasa betah disana.
Meneruskan perjalanan, mobil cuma bisa parkir dilapangan tepi Telaga Cebong, selanjutnya jalan menanjak bukit sekitar 800m. Cukup bikin ngos-ngos an.
Diatas bukit udah rame, tapi untungnya masih dapet tempat paling depan.

Mula-mula langit kehitaman, biru, lalu berwarna emas, latar belakang Gunung Sindoro. Saat itu udara cerah sedikit berawan, tapi golden sunrise yang dimaksud tampak sempurna! Subhanallaah! Kami berseru-seru memuji kebesaran Sang Ilahi, pencipta dan pemilik mutlak alam yang sempurna ini. Matahari perlahan naik sempurna dengan sinar redupnya, ratusan orang membidik keindahannya dengan kamera, dari kamera handphone sampai dslr, kami cukup dengan kamera pocket aja yang ngga ribet dibawa kemana-mana :D
Jauh dibelakang, tampak Gunung Slamet dan yag paling ujung lagi Gunung Merapi. Ini hanya dapat dilihat ketika cuaca benar-benar cerah. Ya Allah beruntungnya kami.
Tapi tak sampai 10 menit tiba-tiba kabut, matahari tertutup awan, hanya terlihat puncak Gunung Sindoro yang dibingkai oleh awan. Tetap terlihat indah. Dan ketika kabut tersingkap, cahaya matahari sudah pecah dan cukup menyilaukan mata. Narsis sebentar, lalu turun. Dekat telaga, ada mba penjual sagon, tepung ketan dicampur gula dan parutan kelapa, dimasukkan ke semacam mangkok kaleng, lalu dipanggang. Rasanya manis dan gurih. Abis itu lanjut ke Telaga Cebong, katanya sih karena bentuknya mirip kecebong? Masa sih?
Abis itu, perjalanan dilanjutkan melewati perkebunan kentang, wortel, kol, bawang daun, sampai ditempat yang letaknya persis dibelakang pengeboran gas alam, dari situ pandangan bisa diarahkan kesegala penjuru, Dieng sungguh indah, luar biasa hijau. Abis itu lanjut ke Sumur Jalatunda. Saya sih agak-agak serem aja disini liat airnya hitam dan tebing dipinggirnya, lalu dilanjut melewati Kawah Sinila yang pernah mengeluarkan gas beracun pada tahun 1979, lalu Kawah Candradimuka dan istirahat di semacam halte dideket Kawah Sileri. Abis itu, mampir dan duduk-duduk ditepi Telaga Merdada yang sepi dan damai. Hanya ada saya, suami saya dan Pak Toha yang bercerita tentang masa kecil yang dihabiskan dengan melintasi bukit yang mengelilingi bukit-bukit disana, waahh bahagianya...

Oh ya, saya dan suami sempet liat aliran sungai bening berbatu ketika kami ke Wonosobo dan niat pengen main di sungai sekitaran penginapan apabila ada. Kami bertanya ke Pak Toha dan ia menjawab dengan serius, kalo depan penginapan ada parit, hahahaaaa... Itu mah saya juga tau, Pak, tapi masa saya suruh main di parit, ogah banget biar airnya bening juga, bisa-bisa jadi objek wisata tambahan deh alias tontonan orang. Akhirnya kami dibawa ke sumber air belerang, dimana ada mata air langsung yang ditampung dibak buatan dari semen (seperti kolam) namun disisi lain bak dibuat cekungan sehingga air senantiasa mengalir dan berganti. Airnya dialirkan ke sungai dan sungainya berbatu serta bening! Akhirnya bisa juga main air disungai. Abis itu merendam kaki dikolam air belerang. Airnya agak panas, dan sangat putih seperti santan, sayangnya disekeliling bak banyak sekali sampah bekas bungkus sampo. Abis merendam kaki, uugghhh rasanya enteng banget dipake jalan kembali, makanya warga sekitar apabila lelah sehabis berladang, mereka mandi atau berendam disini untuk menyegarkan badan. Beruntungnya...

Lanjut perjalanan terakhir melewati Museum Dieng Kailasa, ngga masuk ke dalam, kami duduk-duduk dipelataran parkir sambil sarapan, wuihhh, Dieng saat itu sudah mulai ramai dikunjungi wisatawan, maklum long weekend.
Pulang menuju penginapan mampir sebentar ke toko dekat Telaga Warna untuk beli cabe Dieng yang katanya pedes banget tapi hanya pedes dimulut saja ngga sampe ke perut (ternyata memang bener lho).
Jumat setelah sholat, kami bersiap-siap pulang ke Jakarta, tapi sebelumnya mampir makan di warung Mbak Yati lagi. Siang itu agak rapi warungnya ditata karena wakil Bupati Wonosobo akan makan siang bersama Pak Yanto dan para pelaku pariwisata di Dieng. Dalam perbincangan kami sehari sebelumnya dengan Pak Yanto, kami sempat menitipkan pesan agar di Gedung Pusat Informasi Pariwisata Dieng, yang baru dibangun supaya dilengkapi dengan ATM dan fasilitas lain yang memudahkan wisatawan yang berkunjung kesana. Ternyata semua sudah direncanakan termasuk adanya money changer dan loket informasi wisata.

Semoga segala keindahan dan keramahtamahan Dieng tetap mempesona selamanya...


Labels: dieng plateau , wonosobo , dataran tinggi dieng , jawa tengah , mie ongklok , penginapan dieng , telaga warna



Artikel Menarik Lainnya

Senja di Banda Aceh
 
Potensi Wisata Alam Sukabumi
 
Tanjakan Tiada Maaf Gunung Cikuray
 
berkunjung ke bandung timur
 
Mengikuti jejak \
 
0 Komentar Tampilkan

Tidak ada komentar.




User name
Password