![]() |
|
Memandang ke arah selatan dari Candi Prambanan, berdiri sebuah bukit. Bukit yang merupakan bagian dari pegunungan sewu yang membentang di selatan Yogyakarta hingga ke arah timur yakni Tulungagung. Berjarak sekitar 3km dari candi Prambanan, mencoba mengarahkan kaki ke bukit indah tersebut. Langkah kaki ini terus berpacu dengan sang surya yang juga berjalan ke arah barat. Bukit Ratu Boko, adalah tujuan perjalanan kali ini. Sebenarnya ada angkutan umum menuju ke sana, namun kaki ini sepertinya ingin napak tilas menuju masa lalu untuk berjalan setapak demi setapak.
Setelah hampir 40 menit berjalan akhinya sampai di gerbang utara dan langsung dihadapkan dengan tanjakan curam. Tangga berundak-undak yang kanan kiri ditumbuhi Tectona grandis dengan dedaunan yang berserakan. Pohon-pohon jati sepertinya sedang meranggas untuk mengembalikan kehidupan dan menyesuiakan diri dengan keadaan yang saat ini sedang kemarau. Usai menaiki anak tangga, akhirnya sampai juga dipintu gerbang untuk menebus administrasi masuk ke Istanan Ratu Boko.
Tiket sudah ditangan, dan saatnya melangkahkan kaki menuju pelataran candi. Saat langkah kaki pertama beranjak, disisi kiri nampak Gunung Merapi dan Candi Prambanan berdiri megah dan membawa ke masa lalu. Sebuah prasati dari MMT di tiang besi membawa saya untuk memutar waktu dan kembali kemasa lalu. Dari ketinggian 196mdpl mata ini nanar memandang pelataran seluas 250.000m2 seolah terbang ke masa silam. Istana Ratu Boko (Raja Bangau), dibangun pada masa Rakai Panangkaran yang merupakan salah satu keturunan Wangsa Syailendra.
Pada awalnya istana ini bernama Abhatagiri Vihara atau gunung penuh kedamaian. Udara yang sejuk, dan langit yang semakin temaram membawa suasana damai dan sepi. Tahun 1790 Van Boeckholzt melaporkan telah menemukan reruntuhan bukit. Dari sinilah kemudian FDK Bosch meneliti dan menyimpulkan sisa-sisa reruntuhan ini adalah Keraton va Ratoe Boko.
Sudah banyak yang menulis sejarah Istana ini, baik dari segi bangunanya hingga peruntukannya. Sejarah masa lalu memang luar biasa jika dihadapkan dengan sisa-sisa bangunan peninggalannya. Berdiri di atas bukit hampir 200mpl yang merupakan titik tertinggi di timur Yogyakarta adalah pengalam tak terlupakan saat menjelang senja tiba.
Tak salah jika pengelola candi membangun Andrawina, sebuah bangunan tepat disisi utara bukit yang menghadap langsung ke arah Yogyakarta. Bukit ini, memang tempat yang tepat untuk melihat kaki langit di ufuk barat. Saat paling indah adalah saat sang surya masuk dalam peraduannya menjelang senja. Dari pelataran istana Ratu Boko, atau Andarwina maka mata akan dimanjakan dengan lukisan alam yang indah luar biasa. Langit biru secara pelan akan berubah kekuningan, lalu keemasan dan merah merona. Warna-warni langit akan tergradasi menjadi cahaya yang hangat dan menghantarkan pada momen golden sunset. Inilah saat terindah dan paling indah matahari terbenan dari Istana Ratu Boko.
Menjelang senja tiba dan petang beranjak, seoalah tersadar untuk kembali kedalam dunia nyata. Kembali turun dibalik siluet Tectona grandis. Kembali menuju sisi utara, kali ini tujuan adalah halte bus Transyogya. Hampir 1 jam berjalan dengan tenaga-tenaga tersisa, untuk menikmati semalam di Yogya. Akhirnya sampai juga di halte bus Transyogya, dan saatnya menikmati suasana malam Yogya.
Tujuan perjalanan kali ini, lain daripada yang lain. Biasanya penikmat malam di Yogya pasti tidak jauh-jauh dari sepanjang jalan Malioboro. Memang tidak salah, berawal dari stasiun Tugu berjalan lurus menuju selatan. Jalan Mangkubumi menembus riuhnya Maliboro dan semakin ke selatan yang sepi. Berjalan masuk dalam benteng dengan suasana yang sepi dan damai, kadang terdengar kelakar warga sekitar.
Akhirnya setelah berjalan hampir 1 jam, sampai juga di Alun-alun kidul/selatan. Suasana malam Yogya nampak begitu ramai dan penuh sesak dengan pengunjung yang memeriahkan malam. Keramaian di alun-laun kidul malam itu terpusat pada dua pohon, yakni beringin kembar. Ada sebuah mitos, siapa yang bisa melewati celah rimbunya Ficus benjamina ini sambil mata ditutup bisa terkabulkan permintaannya atau hatinya bersih. Karena rasa penasaran, tak salahnya mencoba dan akhirnya berhasil setelah 3 mencoba. Benar saja keinginan saya terkabul, yakni untuk menuju destinasi selanjutnya, yakni Plengkung Gading.
Plengkung Gading adalah salah satu dari 5 pintu gerbang yang masih bisa diakses. Plengkung Gading atau Nirbaya adalah sebuah gerbang masuk kedalam kraton dari sisi selatan, sedangkan Plengkung Tarunasura/Wijilan di sisi timur alun-alun utara, Plengkung Madyasura ada di timur dan sudah ditutup 23 juni 1812. Di sisi barat ada Plengkung Taman sari dan sisi barat ada Plengkung Madyasura.
Saat ini yang hanya Plengkung Gading dan Wijilan yang masih terlihat aslinya. Disinilah letak keunikan gerbang kraton ini, dan memegang langsung peninggalan sejarah masa lalu. Dari pelataran Plengkung Gading, terlihat sebuah gerbang yang besar dengan tembok yang tebal. Suasana malam ini terasa dindah sambil menikmati sebuah mitos Plengkung Gading, yang konon gerbang ini hanya untuk menghantar Sultan yang wafat menuju Imogiri. Inilah keunikan tempat ini, hanya kita yang bisa keluar masuk, sedangkan Raja Yogya tidak diperkenankan, begitu cerita yang ada di Plengkung Gading. Malam makin larut dan mengakhiri perjalanan ini.
Labels: boko , plengkung gading
Artikel Menarik Lainnya
| 0 Komentar | Tampilkan |
Tidak ada komentar.














