![]() |
|
Pagi ini saya berdiri disebuah pantai yang berbentuk ladam yang menjorok ke dalam. Ganasnya ombak pantai selatan seoalah bukan lagi barang yang menakutkan. 2 karang besar menghandang laju ombak sekaligus menjadi pemecahnya. Gulungan ombak yang menghempas pantai ini sangat bersahabat sekali, dan sangat kontras dengan pantai-pantai lain di selatan Yogyakarta. Kaki saya tepat berdiri di pasir putih pantai Ngrenehan.
Puluhan kapal nelayan, nampak tergolek menanti tuannya untuk mengarungi Samudra Hindia. Jaring-jaring kosong, sudah tertata rapi disamping kapal dan menanti untuk ditebarkan merangkap ikan yang bernasip naas. Bau amis, khas Tempat Pelelangan Ikan mengundang lalat-lalat ini untuk mengerubuti tumpukan cangkang-cangkang rajungan kosong.
Kehidupan di pantai ini nampak begitu melihat anak-anak kecil menyaksikan ayahnya yang sedang merapikan jaring ikan. Anak-anak ini nampak menikmati sekali lingkungannya yang jauh dari deru keramaian. Inilah pantai Ngrenehan, salah satu pantai unik yang berbentuk lagunan dan mungkin satu-satunya di Gunung Kidul.
Rasa penasaran ini menyeruak saat mendengar nama pantai yang unik, Ngrenehan, dari kata rene/jawa yang artinya mari. Dikisahkan, dahuku kala Prabu Brawijaya bersama 2 istrinya Dewi Lowati dan Bondang Surati lari karena Majapahit diserang oleh Raden Patah dari Demak. Cerita turun temurun dari masyarkat setempat, yang berbeda dengan Babad dan bukti sejarah tak menyurutkan minat untuk terus mengulik cerita dari masyarkat setempat.
Ngrenehan yang berupa ajakan, artinya ajakan Raden Patah kepada Ayahnya, yakni Brawijaya untuk memeluk Islam. Karena sang prabu yang kokoh pendirian dan keyakinanya, ajakan tersebut tidak diterimannya. Alhasil pengikut Raden Patah tidak menemukan sang Prabu dan istrinya di pantai ini. Entah kemana perginya Sang Prabu dan permaisurinya..?.
Langkah kaki ini kemudian membawa ke sisi barat pantai Ngrenehan. Sebuah tebing curam menghadang disertai dengan hantaman ombak segara kidul/laut selatan yang besar. Hujaman dan hempasan ombak yang besar menimbulkan suara menggelegar dari batu karang dan uap-uap air bak sauna yang membumbung ke udara. Pantai yang mirip Uluwatu Pulau Dewata, karena tebingnya yang curam dan ombaknya yang berar. Bukan itu saja yang menjadi persamaannya, namun sebuah bangunan mirip tempat ibadah agama Hindu itu yang menjadi pusat perhatian.
Sekarang saya berdiri dibukit sisi selatan, dan inilah pantai Ngobaran yang menjadi episode selanjutnta dari pantai Ngrenehan. Dikisahkan, Sang Prabu langkahnya terhenti di tempat ini karena ada bibir pantai yang curam. Masyarakat sekitar percaya, ditempat inilah Sang Prabu mengakhiri hidupnya dengan membakar diri.
Ngobaran, dari kata Kobaran atau terbakar menjadi kisah terakhir Brawijaya V dan Bondang Surati yang membakar diri. Sebelum membakar diri, Sang Prabu bertanya kepada kedua istrinya seberapa besar rasa cintanya. Dewi Lowati mengatakan, cintanya sebesar gunung, sedangkan Bondang Surati cinta sekecil kuku hitam. Akhiranya Sang Prabu memilih cinta Bondang Surati untuk membakar diri, walau cintanya kecil dan sederhana, tetapi tak kan habis walau di potong.
Cerita lisan dari masyarakat sekitar dan kini menjadi pelengkap cerita dari pantai indah ini. Ditempat ini didirakan banguan mirip Pura dengan stupa dan arca, yang digunakan sebagai tempat untuk beribadah. Ditempat ini juga, ada tempat untuk lelaku kejawen dengan bangunan masjid yang menghadap ke selatan yang konon cerita menjadi kiblatnya.
Dibalik cerita yang kadang tidak sinkron dengan bukti-bukti sejarah, namun setikdanya ada nilai-nilai filosfi yang bisa dipetik. Cerita yang menginspirasi betapa kokoh pendirian sang raja walau sudah dalam keadaan terdesak. Besarnya cinta, walau sederhana namun tak akan habis dimakan jaman disaat harus menemani membakar diri. Cerita biarlah menjadi penghias yang indah, dan sejarah biarlah menjadi bukti kejayaan masa lalu yang penuh rahasia dan intrik.
Sejenak diam sambil menikmati bukit yang sebenarnya dalah batu karang yang terangkat. Disisi barat pantai, dibalik bukit sebuah garis pantai terlihat cantik. Itulah pantai Nguyahan yang penuh cerita tentang sejarah kolonialisme Belanda saat menduduki tanah Jawa. Pantai Nguyahan adalah lokasi yang dulunya digunakan sebagai tempat untuk membuat garam. atau dalam bahasa jawanya Uyah. Dari kata Uyah, nama pantai ini disematkan menjadi Nguyahan.
Perjalanan belum terhenti, walau Sang Prabu dan Bondang Surati sedah menghentikan langkahnya. Kali ini melompat ke sisi timur mengkuti alur pantai selatan Yogyakarta. Pantai indah dengan tanaman Akasia, palem, dan waru laut menghentikan langkah kaki ini. Semilir angin laut membelai tubuh yang berjalan mencari sebuah jawaban dari cerita lisan penduduk. Air kelapa muda membasahi rongga mulut yang sudah kering, bak Kyai Giring yang meminum Degan saat ditakdirkan menurunkan raja penguasa tanah jawa.
Pantai Sundak, pantai dengan pasir putih yang menghampar luas. Pikiran ini menerawang, seolah menembus gulungan ombak laut selatan, gerangan apa makna dari nama pantai indah ini. Deburan ombak yang menghempas pasir-pasir putih tak juga memberikan jawaban, tetapi meninabobokan dalam ketidak tahuan. Sundak, nama yang sangat asing, dan tidak ada dalam kosakata Jawa, kalaupun pasti artinya aneh dan jarang dipakai.
Akhirnya, dedauan waru laut yang melayang karena hempasan angin laut memberi jawaban. Dikisahkan dulu, dipantai ini ada pertarungan sengit antar 2 hewan. Pertarungan yang entah memperebutkan apa, yang pasti sangat menegangkan. Anjing lawan Landak, itulah yang menyusun kata menjadi Sundak. Anjing dalam bahasa Jawa adalah Asu dan Landak, itulah yang digabungkan menjadi nama pantai ini, yang penyusunannya tak berbeda jauh dengan Roro Anteng dan Joko Seger dan menjadi Tengger.
Dibalik pertarungan yang akhirnya dimenangkan oleh Asu yang kemudaian memakan Landak tidak menjadi persoalan, sebab keindahan pantai ini yang menjad masalah jika tak diabadikan. Puas menikmati pertarungan Asu dan Landak, penyisiran berlanjut semakin ke timur. Pantai yang panjang dan dibatasi karang-karang tinggi adalah tujuan selanjutnya. Nama pantai yang cantik, Indrayanti demikian orang menyebutnya.
Dipantai ini, nama Indrayanti tidak lagi mengusik jiwa yang penasaran untuk mencari tau etimologisnya. Rasa penasaran itupun berpindah sudut pandang, yakni ada apa dengan pantai ini. Apakah yang menarik dibalik karang-karang yang menyembul saat laut surut, atau burung-burung camar yang berkeliaran menantang angin laut. Pantai yang dangkal menarik kaki ini untuk berjalan disela-sela karang, dengan air yang terjebak dan organisme laut yang naas. Inilah eksotisnya pantai ini, bisa bercengkrama dengan hewan dan tumbuhan air Segoro Kidul saat surut.
Puas bermain di laut yang dangkal, kaki ini seolah ringan kembali dan mata ini menunjuk sebuah bukit disisi timur. Kembali berjalan disela-sela karang yang tajam untuk mencapai kaki tebing. Hela nafas sesaat untuk mencari, gerangan dimana jalan untuk menuju atapnya. Alhasil ada sebuah jalan setap yang walau cukup curam mampu menghantar kaki ini untuk menggapai puncaknya. Luar biasa, sambil berkejaran dengan matahari yang kencang berlari kearah barat. Inilah pemandangan langka di pantai selatan, saatnya menikmati sang surya tenggelam.
Diatas batu karang, kaki ini gemetar saat melihat benda bulat dengan cahaya hangatnya bergerak pelan munuju kaki langit. Cahaya kuning keemasan semburat merah merona menghiasi laut selatan untuk menghantar menuju senja. Pelan dan kalem sang surya menuju peraduannya untuk memberikan sang malam menghias langit. Sunset Indrayanti, menghantar sang prabu menuju moksa dan keabadian laut selatan dengan sejuta keindahan dengan belaian cinta sang permaisuri yang cantik menawan.
Labels: brawijaya , ngrenean , ngobaran , sundak , indrayanti
Artikel Menarik Lainnya
| 1 Komentar | Tampilkan |
|
Taufik Hidayat 26 August 2012 17:27:05 Ceritanya seru |
Balas Laporkan | |
|
Pertama Sebelumnya Selanjutnya Terakhir |
||














