|
1. Semarang
Jalan Imam Bonjol No.180
Ruko Imam Bonjol Blok C-D, RT05/RW03
Telp : 024-3584041 (Hunting)
Fax : 024-3584042
2. Kudus
Jl. A. Yani No. 128 A
Telp : 0291-441442
Fax : 0291-444390
3. Pati
Jl. Dr. Susanto No. 56 A Pati, Rt.3/1,
Kota Pati Propinsi Jateng - 59119
Telp : 0295-386400
Fax : 0295-382546
4. Tegal
Jl. Jend. Sudirman No. 23 / 25 RT.01 RW.04
Telp : 0283-322383
Fax : 0283-320714
5. Pekalongan
Jl. KH Mansur 108 Kel Bendan Pekalongan
Telp : 0285-422008
Fax : 0285-431095
6. Purwokerto
Komplek Ruko Satria Plaza Blok BC - 3-4,
Jl. Jendral Sudirman
Telp : 0281-626028
Fax : 0281-626030
7. Solo
Jl. Raya Solo Permai JA No. 7-9
Solo Baru
Telp : 0271-626626
Fax : 0271-626623
8. Klaten
Jl. Pemuda Utara No 113
Telp : 0272-322561
Fax : 0272-322546
9. Yogyakarta
Jl. H.O.S. Cokroaminoto No. 221 Rt. 10/04
Telp : 0274 - 555007
FaX : 0274 - 555062
10. Magelang
Jl. Ahmad Yani No. 40
Telp : 0293-363109
Fax : 0293-361246
Yogyakarta punya angkringan Malioboro, Solo punya Galabo, maka Semarang punya Pasar Semawis. Pasar Semawis, atau dikenal juga sebagai Waroeng Semawis, adalah pasar malam yang terletak di sepanjang Gang Warung di jantung Pecinan Kota Semarang. Semawis merupakan sebutan bahasa Jawa halus (kromo inggil) untuk Kota Semarang, namun juga dijadikan akronim dari Semarang Untuk Pariwisata.
Pasar malam yang buka setiap hari Jum’at, Sabtu dan Minggu malam mulai pukul 6 sore ini berawal dari gagasan perkumpulan Kopi Semawis (Komunitas Pecinan Semarang untuk Pariwisata). Pasar Semawis yang pertama kali digelar adalah Pasar Imlek Semawis pada tahun 2004, dan hingga saat ini merupakan pusat jajanan terpanjang di Semarang, dengan berbagai pilihan jajanan dan makanan berat, baik makanan tradisional maupun modern.
Suatu akhir pekan, saya berkesempatan mengunjungi Pasar Semawis. Tepat pukul 18.40, saya turun dari taksi di ujung Gang Warung yang berbatasan dengan Jl. KH Wahid Hasyim di daerah Kranggan, tepat di depan gerbang besar gaya Cina bertuliskan “Pecinan Semarang”. Perjalanan saya lanjutkan dengan berjalan kaki masuk Gang Warung. Dari mulut gang yang berlapis pavement ini, terlihat tenda-tenda beratap seperti kerucut berjajar di sepanjang Gang Warung. Umumnya tenda-tenda ini menjajakan makanan dan minuman. Beberapa tenda ada yang menjual pernak-pernik seperti perhiasan dan pakaian. Di salah satu tenda bahkan menyediakan karaoke untuk hiburan bagi para pengunjung yang hobby bernyanyi.
Sambil menelusuri Gang Warung, saya melihat-melihat makanan apa saja yang dijual di tempat ini. Rupanya tak hanya makanan khas Semarang seperti pisang plenet, lunpia dan tahu gimbal yang ada di tempat ini. Beberapa makanan Nusantara lainnya juga tersedia di tempat ini, seperti gudeg Wijilan Yogyakarta, pecel dan tumpang asli Nganjuk, dan pempek Palembang, Jika ingin makan berat, tersedia berbagai makanan khas Pecinan seperti nasi ayam hainan, hiwan tahu, baikut, dan bakwan. Tersedia juga berbagai jenis makanan lainnya seperti bento, ayam goreng, iga bakar, siomay, aneka sate, dan lain sebagainya. Jika ingin kudapan ringan, terdapat manisan buah, serabi, kue pukis, kentang puntir dan sosis bakar. Berbagai jenis minuman tradisional dan modern juga tersedia di tempat ini, seperti wedhangan, es teh, teh liang, susu kedelai, dan lain sebagainya. Dengan begitu banyak makanan, sulit memilih makanan mana yang akan saya santap malam ini, karena semua terlihat begitu menarik.
Setelah memilih iga sapi bakar bumbu bali dan es teh untuk hidangan makan malam, saya pun memilih tempat duduk dan mulai melihat suasana di sekitar Waroeng Semawis. Di belakang deretan warung-warung tenda terlihat bangunan toko yang sebagian besar sudah tutup, hanya beberapa yang buka sampai malam seperti Toko Cahaya Bintang yang menjual keperluan sembahyang penganut kepercayaan Kong Hu Cu, sebuah toko mebel, serta beberapa restoran. Di antara bangunan-bangunan yang mengapit Gang Warung, terlihat lampu berwarna-warni memberikan nuansa festival di sepanjang Gang Warung. Sayup-sayup terdengar bunyi burung walet yang bersarang di antara rumah-rumah tua di sepanjang jalan ini.
Semakin malam, terlihat suasana Waroeng Semawis semakin ramai. Walaupun terletak di kawasan Pecinan, namun pengunjung tempat ini berasal dari berbagai kalangan, dan bahkan saya menemukan beberapa wisatawan mancanegara yang berjalan di sepanjang Waroeng Semawis. Beberapa di antara mereka adalah keluarga, sebagian ada yang datang berpasangan, dan ada juga yang datang bersama teman-temannya. Semakin malam, suasana semakin ramai. Dan ketika saya meninggalkan Gang Warung, saya melihat Jl. KH Wahid Hasyim yang semakin padat karena banyak pengunjung yang baru berdatangan sedang mencari parkir untuk pergi ke Gang Warung.
Labels: semawis , semarang , kuliner
Artikel Menarik Lainnya
| 1 Komentar | Tampilkan |
![]() |
M Rizki Darmawan 26 August 2012 07:08:25 wah enak2 yah makanannya?? salam kenal... mampir juga yah |
Balas Laporkan |
|
Pertama Sebelumnya Selanjutnya Terakhir |
||








