|
Siang menjelang sore. Saya berada di dalam mobil yang meluncur ke arah luar kota Batam. Seusai jalan-jalan singkat mengelilingi kota Batam, saya memutuskan untuk menapak tilas sejarah manusia perahu di Pulau Galang. Seperti yang kita tahu, gelombang manusia perahu dari Vietnam berdatangan pada sekitar akhir 70-an. Mereka adalah penduduk Vietnam yang mengungsi karena adanya perang saudara di negara mereka. UNHCR akhirnya menyediakan suatu area di Pulau Galang, Batam untuk menampung para pengungsi.
Untuk menuju Pulau Galang, saya harus melewati enam buah Jembatan Barelang. Pemandangan menuju Pulau Galang sangat indah. Sayangnya ada beberapa ruas jembatan yang digunakan para PKL untuk berjualan sehingga terlihat kumuh.
Tak lama kemudian sampailah saya di Pulau Galang. Kesan pertama ketika saya memasuki kamp Vietnam ini adalah bersih dan tertata, meskipun beberapa bangunan sudah mulai tampak sedikit rusak. Ketika saya mendapati kapal pengungsi yang terletak di salah satu sudut kamp ini, emosi saya sedikit teraduk. Sebuah kapal kayu yang tidak begitu besar digunakan oleh para pengungsi menempuh ribuan kilometer hanya agar dapat terletpas dari kemelut perang saudara yang berkepanjangan. Saya tak dapat membayangkan, bagaimana susahnya bertahan hidup selama entah berapa lama di dalam perahu kayu tersebut. Selain kapal kayu tersebut, ada pula bangunan-bangunan seperti gereja, kelenteng, penjara, barak, rumah sakit, dan makam. Meskipun hanya sekilas tetapi saya mulai dapat membayangkan bagaimana kehidupan para pengungsi tersebut di kamp ini.
Hingga senja mulai turun dan saya mulai meluncur kembali ke kota Batam, pikiran saya masih saja dipenuhi oleh kamp VIetnam tadi. Miris rasanya membayangkan bagaimana para pengungsi itu hidup. Ah, tampaknya wisata sejarah kali ini bakal menjadi wisata sejarah yang tak terlupakan!
Labels: Batam , Pulau Galang , Kamp Vietnam , manusia perahu
Artikel Menarik Lainnya
| 0 Komentar | Tampilkan |
Tidak ada komentar.











