• Hubungi Kami
  • Tentang Kami
  • Daftar
  • Lupa Kata Sandi
Ingin liburan?
Ayo jelajahi kekayaan pariwisata Indonesia, mulai dari kedalaman laut hingga puncak gunung

Propinsi


Kodya / Kabupaten

Jenis Wisata


Kata Kunci



























Jumlah Anggota Adira FOI
21109
Beranda > Artikel > Wisata Bahari Di Ujung Jakarta
Wisata Bahari Di Ujung Jakarta
Selasa, 23/08/2011 09:11:12 | DKI Jakarta | Wisata Bahari

Oleh:
Ken Andari

Walker
Beri nilai:

Ide perjalanan ini bermula dari kegagalan rencana saya menikmati terbitnya matahari 2010 di Gunung Bromo, Jawa Timur. Ya, cukup menyesakkan sebetulnya. Betapa tidak, tiket pesawat Jakarta-Jogja (saya memang berencana ke Jogja dulu, baru naik kereta ke Malang), journey plan, bahkan baju-baju yang akan dibawa pun sudah saya siapkan. Saya sangat excited. Maklumlah, saya masih penasaran hiking, dan sudah berkali-kali niatan mendaki gunung gagal terus.

Tiba-tiba rencana yang ini gagal juga, gara-gara menjelang berangkat saya cekcok sama calon kawan seperjalanan, yang tak lain adalah adik saya sendiri, Niko. Lalu ibu saya memutuskan, “Daripada nanti sepanjang perjalanan berantem, mendingan gak usah berangkat sekalian!” Dan dunia saya pun hancur berantakan (majas hiperbola mode: ON). Walaupun sekarang kami sudah baikan lagi, tiket sudah terlanjur dibatalkan.

Ah, ya udah lah yaa...

Akhirnya sebagai ganti di-cancel-nya rencana ke Bromo, saya minta Ibu buat ngizinin saya tahun baruan sama teman-teman MIB. Ibu saya pun mengizinkan, dengan catatan, yang ikut mesti rame, kalau yang ikut sedikit mah lebih baik di rumah aja. Iya juga sih. Hmm... tapi ke mana yah?

Tahun baru, hampir semua orang pasti sudah punya rencana. Entah dengan keluarga, teman kampus, pacar. Entah itu belanja ke Bandung, bakar-bakaran di Puncak, main petasan di Monas, atau mungkin ikut doa bersama di masjid. Nah, kalau saya mau ngajak teman-teman, saya harus tawarkan ide acara yang berbeda! Tempat yang berbeda, dengan konsep yang berbeda, tapi tetap murah dan tidak terlalu jauh. Setelah share dengan beberapa orang teman, akhirnya ada ide menarik dari sahabat yang juga merangkap partner saya, Rezza. Camping di Pulau Untung Jawa!

Pulau Untung Jawa adalah sebuah pulau pemukiman di gugusan Kepulauan Seribu yang letaknya paling dekat dengan daratan. Dari Muara Angke, bisa ditempuh dengan naik kapal selama 30 menit. Dan dari Tanjung Pasir, bisa ditempuh dalam waktu 20 menit naik kapal motor, dengan ongkos 20 ribu rupiah (PP). Kebetulan dari rumah saya ke Tanjung Pasir bisa ditempuh dengan 45 menit perjalanan naik motor.

Ada ide bagus nih, tapi sebelum ngajak teman-teman, saya dan Rezza harus melihat langsung. Survei, istilahnya.

Keesokan harinya, kami berangkat ke Tanjung Pasir. Waktu parkir motor, kami dimintai uang Rp. 10.000. Wah, parkir macam apa tuh 10 ribu? Oh, ternyata itu sudah termasuk tiket masuk Tanjung Pasir untuk 2 orang. Sambil membeli makan siang di warung nasi setempat (perkiraan beli nasi di Pulau Untung Jawa bakal mahal), kami tanya-tanya sama si ibu penjualnya, soal tarif perahu. Biar nggak dikibulin, maklum baru pertama.

Ternyata tarifnya bener, sesuai sama yang dibilang si ibu, 10 ribu sekali jalan (20 ribu PP). Dan kami janjian dengan si abang-abang kapal untuk dijemput pukul 4 sore. Oke, let’s go!

Selama perjalanan, saya mabok. Perahu naik turun diterjang ombak. Padahal waktu itu, masih pukul 11 siang, kata abangnya “Lautnya tenang kok, Neng!” Untungnya diajak ketawa terus sama Rezza, jadi nggak terlalu kerasa. Tapi tetap saja pusing dan agak parno. Soalnya dulu pernah punya pengalaman buruk, waktu nyebrang Manado-Bunaken, kapal motor yang kami tumpangi mogok di tengah jalan. Eh, di tengah laut. Mending laut dangkal, ini laut dalam! Mending laut Jawa, ini laut Sulawesi! Sejak itu agak trauma naik perahu.

Perlahan air laut yang tadinya keruh kecoklatan berubah menjadi lebih hijau dan jernih. Setelah 20 menit diombang-ambing ombak, kami menepi di dermaga Pulau Untung Jawa. Di sisi barat tampak pulau cagar alam, Pulau Rambut, yang dilindungi pemerintah. Kelihatannya tidak terlalu jauh, silakan kalau mau coba berenang (lu aja sono sama ubur-ubur!)

Di dermaga, kami langsung disambut becak. Oh, ada becak juga di sini! Pulau tampak ramai, maklumlah hari Minggu. Banyak penjual suvenir kerajinan dari kerang, yang setelah kami tanya-tanya, ternyata harga standar, tidak terlalu mahal.

Kami menyusuri sisi barat pulau, banyak taman bermain. Di sisi pantai juga terdapat saung-saung yang tampaknya asyik sekali duduk di sana. Sayangnya penuh. Kami memilih untuk terus berjalan kaki sampai tiba di hutan mangrove, yang dari sana tampak jelas Pulau Rambut yang hutannya lebat, dengan berbagai jenis burung yang terbang rendah di pantainya. Indah sekali.

Anak-anak kecil berlarian di sisi pantai. Ada yang memancing, berenang, mencari kerang, atau main pasir. Saya dan Rezza memilih untuk makan saja. Walaupun wanginya ikan bakar dari restoran di samping kami betul-betul menggoda iman, karena keterbatasan kocek kami bersyukur bisa makan nasi plus telor dadar dan tempe yang kami beli di Tanjung Pasir tadi. Tapi wanginya ikan bakar masih kami nikmati juga.

Di aula dan masjid sedang ramai. Oh rupanya warga setempat sedang mengadakan pengajian dan santunan anak yatim. Kami menghampiri, dan tanya-tanya soal kemungkinan menyewa homestay (penginapan), atau camping pas malam tahun baru.

Homestay ternyata sudah penuh di-booking. Tapi kemudian ada seorang Akang, namanya Zulkifli, yang dengan baik hati bilang, “Ya kalau Neng mau nanti bisa tinggal di rumah saya. Satu rumah, dua kamar, nggak akan mahal. Paling mentok 500 ribu/malam, tapi nantilah, bisa dibicarakan lagi. Bisa dimurahin, lah. Neng simpen aja nomor saya,” katanya, yang diiringi dengan “ehem-ehem-an” temen-temennya. (catatan: waktu saya ngobrol dengan dia ini, si Rezza nggak ada)

Dengan nada bercanda, Kang Zulkifli bilang, “Neng kalau belum punya pacar nanti homestay-nya saya kasih murah lagi, hehehe...” Saat saya bersiap-siap mengeluarkan jurus maut, si Rezza nongol. Terus temennya langsung nyeletuk, “Wah...hancur harapan lu, Pli!”

Tapi nggak lah, kan cuma bercanda. Mereka juga langsung ngobrol akrab kok. Kami juga tanya soal kemungkinan camping, dan mereka bilang, bebas aja, yang penting bilang dulu sama warga setempat. Kang Kipli menyahut, “Udah, Neng sms saya aja nanti. Bisa juga kok saya sewain tenda, 50-60 ribu,” Hohoho...

Memang, pariwisata di pulau ini tidak dikelola pihak swasta, melainkan oleh masyarakat setempat. Jadi nggak kapitalis amat harganya. Homestay yang disewakan itu juga aslinya rumah-rumah penduduk yang disewakan. Dan kalau ada pasangan cewek-cowok, nggak boleh menginap bareng. Pokoknya masih diawasi dengan norma-norma setempat deh.

Setelah puas mengelilingi pulau, pukul 3 kami segera menuju dermaga di sisi timur. Kami ngobrol-ngobrol sambil membicarakan berbagai informasi yang sudah kami dapatkan tadi. Sambil menunggu kapal datang, kami menikmati suasana dermaga yang ramai. Melihat burung-burung yang terbang kembali ke Pulau Rambut, menikmati indahnya langit senja, mendengarkan deburan ombak laut yang sebentar lagi pasang. Banyak pasangan muda-mudi yang pacaran di tengah suasana romantis ini.

Saya dan Rezza memilih nongkrong di dermaga sambil jajan es pung-pung seribuan. Terus motret-motret, terus main jauh-jauhan ngelempar, terus nyari kerang. Kami nemuin kerang-kerang yang bentuknya aneh, koral juga. Kadang bentuk koral yang aneh-aneh itu bikin kami ketawa-ketawa kayak orang aneh dengan lelucon-lelucon aneh.

Kapal kami datang. Langsung penuh! Wuah...laut semakin bergolak. Ombaknya besar banget (kalo kata saya yah, kata abang-abang kapalnya mah enggak). Saya pusing lagi. Tambah pusing, karena di tengah perjalanan anak-anak kecil nangis teriak-teriak. Nggak tau, karena takut atau mual. Beberapa orang tampak pucat, bahkan ada yang jackpot. Oh My God, untung bukan di depan saya. Tapi ibu-ibu yang duduk di belakang saya memegangi lengan saya kencang sekali, rupanya ia juga pucat. Padahal anaknya ketawa-ketawa kesenengan, kayak si Rezza.

Ya, Rezza tampak seneng banget dengan ombak besar ini. Tiap ada ombak besar menghantam kapal, dia berseru, “Wow! Uhuuu... asiik men!” Mungkin dia merasa seperti tokoh-tokoh di komik bajak laut favoritnya, One Piece. Saya cuma bisa bersandar sambil memejamkan mata, berusaha untuk tidak jackpot. Perahu oleng ke kanan dan ke kiri. Ini lebih ngeri daripada naik kora-kora. Nek tumplek yo opo, rek.

Ah, tiba-tiba saya malu. Saya ini anak negeri maritim, masa takut naik kapal laut? Nenek moyangku seorang pelaut... mencari ikan yang gendut-gendut... Saya jadi teringat masa kejayaan Sriwijaya dulu. Dan membandingkannya dengan keadaan masa kini.

Negeri kita ini negeri seribu pulau. Lautnya luas, ikannya banyak, terumbu karang beragam. Negara kepulauan harusnya bisa maju dengan hasil lautnya. Tapi yang ada kini, nelayan masih dianggap sebagai profesi rendah. Faktanya memang masih banyak nelayan kita yang hidup di bawah garis kemiskinan. Di dunia pendidikan, jurusan ilmu kelautan pun belum jadi primadona. Orang lebih merasa bangga kalau masuk jurusan komunikasi, ekonomi, manajemen, atau sastra Inggris. Tidak jauh berbeda dengan nasib pertanian. Padahal kita ini negara agraris, tanah kita subur, tapi petani kita belum sejahtera. Lulusan fakultas pertanian juga ujung-ujungnya malah jadi pegawai bank.

Akhirnya setelah perjalanan panjang dan melelahkan (padahal nggak juga sih, cuma 2 kilometer), kami sampai di Tanjung Pasir. Kami nggak diturunin di dermaga, karena dermaga-nya udah nggak kelihatan lagi, karena laut sudah pasang. Kami diturunin di pantai. Walaupun sudah turun dari kapal, saya masih merasa dunia berputar-putar (lho?! Dunia kan emang berputar, haha). Rasanya masih naik-turun, pusing deh pokoknya. Dan, laper.


Label: untung jawa



0 Komentar

Tidak ada komentar.




User name  : 
Password  : 

Artikel Menarik Lainnya

Kantor Cabang Adira Finance

1. Jakarta Selatan
     Jl. Sultan Iskandar Muda NO 17 C  RT 011/RW 09   
     Kebayoran Lama Utara 
     Tel : 021-7233336
     Fax : 021-7233337

 

2. Jakarta Utara  
     Ruko Puri Mutiara Blok A 128 Jl.
     Sunter Agung 
     Tel : 021-65310836
     Fax : 021-65310838

 

3. Jakarta Barat
    Ruko Seasons City Blok A07,
    Jl. Latumenten No. 33
    Tel : 021 - 290 71 301 / 2