|
1. Bandar Lampung
Jl. Pangeran Antasari No 107 B - C, RT 002 / RW 02
Telp : 0721 - 242294
2. Bandar Jaya
Jl. Proklamator Raya No. 23 Rt. 001/002
Telp : 0725-25980
Fax : 0725 - 25981
Propinsi Lampung memiliki banyak potensi wisata bahari yang tidak akan habis-habisnya dieksplorasi. Dari tempat yang sudah mendunia seperti Gunung Krakatau sampai ke pulau-pulau dan pantai-pantainya yang masih perawan dan belum banyak dikenal orang. Semuanya menyimpan keindahan dan pesonanya masing-masing. Bagi yang suka menyelam, snorkeling, berenang, dan aneka olahraga bahari lainnya , maka Tanjung Putus merupakan tujuan yang pasti tidak mengecewakan.
“Ayo jalan-jalan ke pulau pribadiku”, demikian ajakan seorang teman lama melalui sms ketika saya sempat berkunjung ke Bandar Lampung beberapa waktu lalu. Mula-mula saya tidak percaya dan mengganggapnya ini hanya lelucon belaka, tetapi kisah pengalaman selama sehari penuh di Tanjung Putus memang membuktikan bahwa omongannya bukan bualan belaka.
Berlayar dengan Speed Boat yang Mendebarkan
Perjalanan ke Tanjung Putus dari Bandar Lampung dimulai dengan berkendara selama kurang lebih satu jam menuju Ketapang. Jarak Ketapang, yang terletak di Kecamatan Padang Cermin, Pesawaran ini hanya sekitar 35 km dari pusat kota Bandar Lampung. Walaupun kondisi jalan cukup baik, tetapi karena agak sempit dan melewati beberapa tempat wisata seperti Pantai Lempasing dan Pantai Mutun, maka ada sedikit hambatan , terutama kalau kita pergi sewaktu akhir pekan atau hari-hari libur. Di hari-hari biasa, perjalanan bisa lebih lancar.
Sesampainya di Ketapang, yang merupakan sebuah dermaga baik untuk nelayan maupun untuk bepergian ke pulau-pulau di sekitarnya , perjalanan dilanjutkan dengan speed boat ke Tanjung Putus. “Kapasitas speedboat hanya 6 orang dan waktu tempuh sekitar 25 menit. Kalau menggunakan perahu biasa, bisa dua jam lebih” , tambah sobat saya sambil tersenyum manis.
Akhirnya, sewa perahu disepakati 400 ribu pp dan pelayaran di Teluk Lampung yang menakjubkan sekaligus mendebarkan pun di mulai. Bagi yang duduk di depan bantingan perahu waktu membelah ombak cukup terasa, bagaikan mengendarai kuda atau pun mobil di jalan berlubang. Deburan ombak pun sekali-kali membasahi baju penumpang, terutama yang duduk di belakang. Tetapi perjalanan ini terasa sangat mengasyikan , apalagi suguhan indahnya pulau-pulau yang kita lewati.
Di sebelah kiri dermaga terdapat Pulau Mahitam, yang seakan-akan menyatu dengan pulau Sumatra, karena waktu laut surut dapat ditempuh dengan hanya berjalan kaki sejauh kurang lebih 500 meter. Selepas pulau Mahitam , masih di sebelah kiri terdapat pulau yang lebih besar, pulau Pelagian namanya. Dari kejauhan tampak pasir pantainya yang putih dan lambaian nyiur yang mempesona.
Mengintip Pulau Pribadi Sang Konglomerat
Pulau yang paling besar selepas Pelagian adalah pulau Puhawang. Pulau ini tampak sangat perawan dengan lindungan pohon bakau yang menjaga garis pantai. Sebagian pantai Nampak terbuka dengan pasirnya yang putih. Dari kejauhan tampak juga beberapa perahu dan speed boat sedang parkir di dermaga.
Pelayaran semakin jauh meninggalkan Ketapang. Sebelum sampai di Tanjung Putus di kejauahan terlihat sebuah pulau yang ukurannya lebih kecil. “Pulau Lelangga Kecil” tukas pengemudi perahu kami ketika saya bertanya nama pulau itu. Pulau itu konon milik pribadi salah seorang pengusaha terkenal di Lampung ini, tambah sang “nakhoda”. Wah asyik juga fikir saya dalam hati sambil membayangkan betapa nikmatnya punya pulau pribadi.!
Pulau yang terputus dengan Induknya
Akhirnya setelah melewati sebuah pulau lagi yaitu, Pulau Lelangga Besar, setelah waktu tempu berlayar sekitar 35 menit dari Ketapang, perahu kami pun mendarat di dermaga Tanjung Putus.
Sebuah dermaga yang cantik menyambut kami. Dermaga terapung ini menjorok ke laut dan ketinggiannya disesuaikan dengan ketinggian air laut. Di sebelah kiri, tampak sebuah kerambah ikan , sementara di tepi pantai ada beberapa bangunan yang memanjang terbuat dari kayu berwarna coklat.
“Selamat Datang di Tanjung Putus”, demikian sambutan pengelola pulau ini. Dulunya Pulau ini menyatu dengan Pulau Sumatra, namun karena erosi , tanah gentingnya tertutup dengan air laut dan menjadi selat sempi t yang indah. Sebuah foto udara dipajang di dinding yang dengan jelas menggambarkan pulau ini memang terputus dengan Pulau Sumatra.
Di bangunan utama terdapat semacam villa yang dapat disewakan. Terdapat tiga kamar dengan kapasitas masing-masing delapan orang. Selain itu masih ada dua kamar lagi di bangunan terpisah dengan kapasitas empat orang per kamar. Di sebelah bangunan utama , ada sebuah bangunan yang tampaknya masih dalam tahap penyelesaian, mungkin untuk menambah kapasitas kamar.
Sebuah pondok yang menjorok ke laut berfungsi sebagai balai pertemuan. Meja besar serba guna diletakkan di tengah ruangan dan dapat dijadikan meja makan. Bangku-bangu plastik tersusun rapi sehingga dengan praktis dapat digunakan untuk tempat duduk baik untuk makan maupun bersantai. TV dan kumpulan DVD untuk Karaoke juga tersedia . Sebuah antenna parabola kecil juga menghias pojok dekat pondok ini.
Tidak jauh dari pondok ini juga terdapat menara kayu berlantai tiga. Di atasnya ternyata terdapat kamar yang dapat digunakan untuk menginap dan juga sekalian menjadi menara pengintai. Tujuan utamanya adalah menjadi tempat perlindungan kalau-kalau bahaya Tsunami mengintai.
Berenang, Snorkeling, menyelam, atau berjalan santai di Pulau Pribadi
Di pinggir pantai, tersedia beberapa kayak dari fiberglass dilengkapi dayung dan juga pelampung yang dapat digunakan untuk bermain di pantai. Selain itu bagi yang hobi menyelam, biota laut di pulau ini pun sangat lengkap dan indah. Tempat ini merupakan markas salah satu klub penyelam di Lampung sehingga fasilitas menyelam dan snorkeling tersedia dengan lengkap.
Bagi yang hobi berenang, pantainya sangat landai dan airnya biru dan sangat bersih, sebagian pantai dipenuhi dengan karang yang indah, sehingga selain berenang kita pun dapat menikmati pemandangan karang , tentu saja harus hati-hati supaya kaki tidak terluka. Yang asyiknya, seluruh pantai benar-benar bagaikan milik pribadi, karena hampir tidak ada pengunjung lain kecuali rombongan kami yang enam orang.
Berjalan menyusuri pantai dengan pasirnya yang putih juga merupakan pengalaman yang unik. Selain pasirnya yang berkilau, barisan pohon kelapa yang melambai menambah indahnya pemandangan. Desiran angin dan sinar matahari yang lembut di senja hari menemani perjalanan. Warna-warni air laut yang bervariasi dari putih bening sehingga dasarnya terlihat di tepi pantai, lalu berubah kehijauan dan biru di kejauhan , nampak bagaikan permadani ombak yang menenangkan jiwa.
Di keheningan pulau ini, kebesaran sang pencipta benar-benar dapat kita resapi dan diri ini, secara tidak sadar dapat menyatu dengan alam sehingga hilang semua rasa penat dan lelah serta jiwa dapat menjadi tercerahkan kembali.
“Keliling pantai ini hanya sekitar 3 kilo meter dan dapat ditempuh satu jam berjalan santai”, tambah sobat saya ketika kami mengobrol sambil menikmati ayam bakar yang nikmat. Wah tadi saya sempat berjalan sekitar 30 menit , dan selama itu tidak seorang pun ada di pulau ini, benar benar bagaikan berada di surga pulau pribadi.
Setelah puas bermain dan berenang, sekitar pukul 5.30 sore, kami kembali dengan speed boat menuju Ketapang . Laut lebih tenang di sore ini sehingga pelayaran ditempuh selama kurang dari 25 menit. Rasa khawatir yang sempat terbersit waktu perjalanan pergi sama sekali sirna dengan sinar lembayung matahari di sebelah kiri. Deburan ombak yang lenbut, suara mesin yang meraung, perahu-perahu nelayan yang sedang memancing, puluhan bagan yang menghiasi laut dan kawanan burung camar seakan-akan mengawal pelayaran pulang kami.
Benar-benar suatu perjalanan yang mempesona dan tidak terlupakan di taman bahari tersembunyi Tanjung Putus.
Labels: tanjung putus , lampung
Artikel Menarik Lainnya
| 9 Komentar | Tampilkan |
![]() |
M. Aditya Setiajid 08 September 2011 15:49:43 Masih ada pulau yg dijual gak? mau beli nih |
Balas Laporkan |
|
Taufik Hidayat 07 September 2011 10:10:41 Sekali2 kesana asyik loh. wah boleh nihh jadi referensi... |
Balas Laporkan | |
|
Taufik Hidayat 07 September 2011 10:10:40 Sekali2 kesana asyik loh. wah boleh nihh jadi referensi... |
Balas Laporkan | |
|
Taufik Hidayat 07 September 2011 10:04:18 Kiluan belum pernah kesana Keren Mas... |
Balas Laporkan | |
![]() |
Ratna Dewi 06 September 2011 15:46:07 Wah main kanonya asyik berenag juga siip, cuma layaknya naik speedboat koq serem apalagi gak bisa renang ninh...kalo terbalik gimana>>>?? |
Balas Laporkan |
![]() |
oktavina febianti 06 September 2011 15:20:40 wah boleh nihh jadi referensi... |
Balas Laporkan |
|
Affandi Ismail 06 September 2011 15:14:24 serem yah naik speedboatnya?? berenangnya asyik tuh |
Balas Laporkan | |
![]() |
M. Aditya Setiajid 06 September 2011 14:44:50 bagus pantainya..asyik ada pulau pribadi? |
Balas Laporkan |
![]() |
Albert Hartono 06 September 2011 12:38:44 Keren Mas... |
Balas Laporkan |
|
Pertama Sebelumnya Selanjutnya Terakhir |
||












