|
“Belok kanan “, demikian arahan teman ketika kendaraan kami hampir mendekat ke daerah Prambanan. Kompleks Istana Ratu Boko memang terletak di daerah Prambanan dan kalau dari Yogyakarta menuju Solo, letaknya kira-kira 2 kilomter di sebelah kanan jalan dekat daerah Bogem yang terkenal dengan Bong Supit alias tempat khitanan.
Memasuki jalan menuju arah Wono Sari dan Piyungan, kendaraan tinggal mengikuti petunjuk arah menuju Ratu Boko. Akhirnya kendaraan kami berhenti di tempat parkir bus dan kompleks Ratu boko dapat ditempuh dengan naik tangga menuju bukit. “Wah curam sekali tangga itu” demikian ucap kami dalam hati. Untungnya petugas menjelaskan bahwa tempat ini adalah khusus parkir bus, kendaraan kecil dapat naik keatas, namun harus memutar dahulu sekitar dua kilometer.
Kompleks Istana dari abad ke delapan
Akhirnya kendaraan pun sampai di puncak bukit . Setelah membeli tiket rombongan pun memasuki kompleks istana. Pemandangan pertama yang menyambut adalah sebuah halaman yang luas berupa jalan berbatu . Nun di kejauhan terlihat tempat yang akan kita kunjungi, berupa dua buah gapura, serta pagar bebatuan yang maha luas. Sementara di halaman ada tiga ekor kambing atau yang sedang merumput. Sebuah kombinasi yang unik. !
Menurut brosur , kompleks ini terletak di atas bukit setinggi 196 meter yang merupakan kelanjutan pegunungan seribu. Kompleks istana ini, dibangun pada abad ke delapan dan merupakan istana dari kerajaan Mataram Kuno. Menurut prasasti yang dibuat oleh Rakai Panangkaran pada tahun 746-784 M, situs Ratu Boko ini dinamakan Abhayagiri Vihara yang artinya Tempat para bhiksu yang terletak di atas bukit yang penuh kedamaian.
Sementara itu nama Ratu Boko sendiri , berarti Istana Bangau. Kurang jelas apakah nama ini memang diambil dari nama Raja yang berkuasa di situ atau di ambil dari nama burung yang mungkin kerap hinggap di daerah bebukitan yang luasnya mencapai 250 ribu meter persegi ini.
Istana dengan dua Gapura
Setelah berjalan kian mendekat menuju kompleks Istana, dua buah gapura menyambut kami. Gapura pertama terletak di bawah. Ada tiga buah pintu pada gapura ini , untuk memasukinya kita harus beberapa anak tangga terlebih dahulu. Pada Gapura ini, ada tulisan “Panabwara”, yang merupakan nama Rakai Panabwara, salah satu keturunan Rakai Panangkaran. Tujuan penulisan namanya di Gapura ini adalah untuk menunjukan bahwa Panabwara adalah yang berkuasa di tempat ini.
Gapura kedua memiliki lima buah pintu dan setelah itu kita akan sampai ke halaman kompleks istana yang maha luas. Tentu saja sebagian besar bangunan yang ada di sini tinggal dasar atau reruntuhannya saja. Kemungkinan besar bangunan dan atap dahulu dibuat dari kayu.
Kedua Gapura ini merupakan gerbang berbentuk paduraksa dengan atap berbentuk ratna dan terbuat dari batu andesit. Sedangkan lantainya terbuat dari batu putih.
Candi Batu Putih ,Candi Pembakaran, dan Sumur Suci.
Tidak jauh darigapura kedua, kalau kita berjalan ke kiri, ada sebuah tempat yang disebut Candi Batu Putih. Disebut demikian karena Candi yang tinggal dasarnya saja ini memang terbuat dari batu berwarna putih. Sementara tidak jauh dari Candi ini, juga terdapat sebuah candi yang tampaknya sedang direstorasi. Candi ini disebut Candi Pembakaran karena konon banyak ditemukan abu bekas pembakaran jenazah. Candi ini terbuat dari batu andesit.
Tidak jauh dari Candi Pembakaran , terdapat sebuah sumur yang selalu mengeluarkan air. Sumur ini disebut Amerta Mantana yang berarti air yang mengandung mantra. Menurut mitos, air ini dapat memberikan berkah dan keuntungan bagi yang meminumnya. Air suci ini digunakan dalan upacara agama Hindhu yang dinamakan “Tawur Agung” yang diadakan setahun sekali sehari sebelum hari “Nyepi”.
Gua Lanang dan Gua Wadon
Uniknya lagi, di bagian timur kraton, terdapat dua buah gua, yang secara kebetulan disebut sebagai gua lanang (lelaki) dan gua wadhon (perempuan). Di dekat gua ini juga terdapat sebuah kolam dengan beberapa stupika atau stupa kecil.
Keberadaan stupa dan juga arca ganesha membuktikan bahwa di tempat ini keberadaan agama Buddha dan Hindhu diejawantahkan dengan harmonis dan saling berdampingan. Suatu pelajaran yang menunjukan bahwa nenek moyang kita pada jaman dahulu telah dengan sangat konsisten menjunjung tinggi keberagaman dan toleransi.
Di kompleks ini , kita juga dapat menyaksikan bangunan lain yang di sebut paseban, pendopo, dan keputren. Masih banyak tempat yang belum sempat dikunjungi, namun terasa kaki sudah mulai terasa lelah sehingga kami pun kembali ke arah pintu masuk.
Plaza Andrawina
Sebelum meninggalkan Kraton Ratu Boko ini, kami pun mengunjung tempat menjual cendra mata dimana dapat juga diambil beberapa brosur, baik dalam Bahasa Inggris, maupun Bahasa Indonesia. Selain itu diputarkan juga sebuah film dokumenter mengenai situs ini. Sementara di halamannya terdapat sebuah tempat yang dinamakan Plaza Andrawina.
Dari tempat ini kita dapat menyaksikan dengan leluasa pemandangan ke utara, berupa candi Prambanan dan juga Gunung Merapi. Di tempat ini juga tersedia panggung terbuka dimana dapat diadakan pentas dan acara dengan latar belakang kawasan Prambanan dan juga Sungai Opak yang membelahnya.
Di tempat ini, sambil duduk dan menikmati minuman dingin yang segar. Kita dapat kembali merenung akan harmonisnya hubungan agama Buddha dan Hindhu yang jelas merupakan warisan dan filsafat kehidupan yang diwariskan oleh leluhur bangsa kita. Semoga kita pun dapat melestarikannya.
Labels: istana ratu boko
Artikel Menarik Lainnya
| 2 Komentar | Tampilkan |
|
Taufik Hidayat 01 November 2011 21:36:19 Terima kasih mbak. Bayangkan kalau semua org mau menang senndiri$ yah jadinya berantem terus . |
Balas Laporkan | |
![]() |
Agni Pratistha Kuswardono 01 November 2011 21:30:52 setuju, kita bisa banyak belajar dari masa lalu :) artikel yg seru dan tertata baik, senang membacanya :) |
Balas Laporkan |
|
Pertama Sebelumnya Selanjutnya Terakhir |
||







