|
1. Samarinda
Komp. Sempaja Mas, Jl. K. H. Wahid Hasyim No 1
Telp : 0541-7770980
2. Balikpapan
Jl. Jend. Sudirman No 287 Rt / Rw. 06
Telp : 0542-744880
Fax : 0542-744870
3. Tarakan
Jl. Mulawarman Rt. 43
Telp : 0551-35999
Fax : 0551-35600
Selepas berkunjung ke pantai Manggar di Balikpapan, rencana selanjutnya adalah berkunjung ke penangkaran buaya yang jaraknya kira-kira lima kilometer di sebelah utara pantai Manggar ini.
Secara tidak sengaja di sebelah kanan jalan ada sebuah papan kecil penunjuk arah menuju “Makam Jepang”. Akhirnya, karena penasaran, kendaraan pun dibelokkan menuju jalan yang agak sempit. Sesampainya di ujung jalan yang terletak di tepi pantai tidak ada tanda-tanda dimana letaknya makam Jepang ini. Setelah sedikit bertanya, ternyata kami harus belok kiri menyusuri jalan setapak di tepi pantai.
Setelah sekitar 200 meter dan sempat melihat beberapa ekor sapi yang sedang bermain-main di pantai, barulah terlihat pintu gerbang yang bentuknya khas Jepang. Mirip dengan bangunan kuil di Jepang .
“Dilarang merusak atau mengubah bentuk dan memisahkan…….”, demikian bunyi sebuah papan pengumuman yang menjelaskan nama situs ini yaitu “Kuburan Jepang Benda Budaya Dilindungi”. Papan pengumuman dengan logo pemerintah kota Balikpapan ini menjelaskan nama resmi tempat ini.
Akta Notaris di Makam Jepang
Memasuki pintu , terlihat sebuah kawasan yang yang lebih mirip kebun atau taman yang cukup luas. Tidak ada tanda-tanda akan adanya sebuah pemakamam, sebuah gazebo ada di sebelah kiri, dan beberapa pohon sawo kecik juga ada di halaman. Selain itu, taman ini pun banyak ditumbuhi pepohonan kecil, bebungaan, dan juga pohon kelapa sawit. Di sebelah pojok bahkan terdapat sebuah sumur tua.
Tepat di depan Gazebo ada lagi sebuah papan yang berjudul “Pengumuman”. Di bawahnya dijelaskan “Bahwa makam Jepang PD II yang terletak di Lamaru dikelola oleh YaYasan Sakura Balindo berdasarkan akta notaris no 56 tanggal 17 Februari 2006. Dan bekerja sama dengan pemerintah Kota Balikpapan. Demikian agar pengunjung/peziarah maklum.” Wah baru kali ini ada akta notaris di pemakamam !
Ada Makam Lokal di dekat Tugu
Untungnya, ketika kami sedang sedikit celingukan seorang ibu berumur sekitar 50 tahunan, datang mendekati, sambil membawa sebuah buku. Rupanya ibu ini adalah sang penjaga atau “kuncen” makam ini. Dia dengan sopan mengharapkan kami mengisi buku tamu dan juga memberikan sumbangan secara sukarela.
“Tugu peringatan makam ada di sebelah dalam:, demikan ujar ibu tadi sambil menunjuk kea rah bagiam dalam kompleks ini. Dia juga menjelaskan bahwa di tempat ini pernah dimakamkan prajurit Jepang yang gigur sewaktu Perang Dunia ke Dunia. Namun pada tahun 1970an pemerintah Jepang mulai memendahkan makam mereka ke Jepang dan kemudian pada than 1990 didirikanlah sebuah Tugu yang merupakan memorial untuk menghormati para prajurit tadi.
Kami berjalan perlahan menuju Tugu yang tingginya kira-kira empat meter itu. Aksara Kanji yang tertulis di tugu tanpa tulisan dalam bahasa Inggris dan Indonesia membuat kami tidak mengerti apa yang tertulis. Tidak jauh dati tugu tadi, terdapat sebuah prasasti setinggi kira kira satu meter. Bentuknya hampir bujur sangkar. Untungnya tulisan di prasasti ini ada dalam dua bahasa yaitu tulisan kanji dan juga Bahasa Indonesia.
“Makam Warga Jepang, Kami senantiasa berdoa untuk perdamaian dunia dan kesejahteraan rakyat Indonesia, Juli 1990” demikian pahatan yang tertulis dengan tinta berwarna keemasan dengan latar belakang prasasti berwarna hitam.
Selain tugu peringatan tadi, tidak ada makam lain yang ditengarai sebagai makam Jepang, Lucunya beberapa meter dari tugu tersebut ada sebuah nisan berbebentuk kijing yang tampak sebagai makam muslim biasa. Makam ini juga kelihatan tidak terlalu tua. Tidak mungkin ini makam prajurit Jepang? Mungkin hanya makam penduduk sekitar.
Mencari leluhur ke Balik papan
Pada saat kami datang , tidak ada orang lain yang berkunjung, namun ketika kami sedang melihat-lihat tugu, tiba-tiba saja datang serombongan turis Jepang yang berjumlah kira-kira lima orang dan satu orang pemandu wisata.
Saya sempat bercakap-cakap denga Kobayashi San, yang juga membantu saya membaca bebeapa arti hurif kanji yang ada di prasasti dan tugu. Dari dialah saya tahu bahwa penulisan bulan di prasasti sedikit berbeda antara versi Jepang dan versi Indonesianya. Saya tidak tahu alasannya karena saya hanya membaca tanggalnya dan tidak sempat bertanya arti tulisan kanji yang lain.
Kobayashi San dan rombongan berasal dari Osaka dan bercerita bahwa ayahnya dulu adalah salalh satu prajurit Jepang yang tewas dan kemudian sempat dimakamkan di pantai Lamaru di kawasan Balikpapan ini. Dan karena itu, ketika sempat berkunjung ke Indonesia, dia dan keluarga pun menyempatkan diri untuk beraziarah kesini..
Dari perjumpaan dan percakapan singkat saya dengan Kobayashi San, memang terlihat bahwa orang Jepang sangat menghargai pahlawannya, walaupun menurut bangsa-bangsa lain prajurit Jepang pada masa jaman Perang Dunia II adalah sebagian dari tangan tangan panjang yang berlumur darah pemerintah Jepang yang ekspansionis pada masa itu.
Kalau anda sempat ke Balikpapan, jangan lupa berkunjung ke Makam Jepang juga.
Labels: makam jepang , balikpapan , lamaru
Artikel Menarik Lainnya
| 0 Komentar | Tampilkan |
Tidak ada komentar.












