06 November 2011 | Bengkulu | Wisata Kota
![]() |
|
Rumah Pengasingan Bung Karno
Soekarno, Presiden Pertama Republik Indonesia yang dikenal dengan panggilan Bung Karno, pernah diasingkan ke Bengkulu. Bung Karno diasingkan oleh Belanda ke Bengkulu pada tahun 1939-1942. Dan di Bengkulu-lah Soekarno kemudian bertemu Fatmawati, Ibu Negara Pertama Republik Indonesia.
Selama dalam pengasingan, Bung Karno tinggal di rumah di daerah Anggut Atas (sekarang Jl. Soekarno-Hatta). Rumah ini awalnya merupakan tempat tinggal Tan Eng Cian, salah satu penyedia bahan pokok untuk Belanda. Saat ini rumah tersebut telah dijadikan museum, dan dikelola oleh Depbudpar. Di rumah tersebut masih tersimpan beberapa perabot seperti kursi tamu, tempat tidur dan lemari yang dipakai keluarga Bung Karno, serta sepeda yang pernah digunakan oleh Bung Karno. Banyak juga foto-foto selama Bung Karno beraktifitas dalam pengasingan di Bengkulu. Selain itu terdapat 2 lemari yang berisikan seragam kelompok tonil Monte Carlo, grup sandiwara asuhan Bung Karno. Namun yang paling berharga dari koleksi tersebut adalah buku-buku Bung Karno yang mencapai ratusan buah, sayangnya kondisinya sebagian besar rapuh atau hancur termakan usia.
Di beranda belakang rumah ini, para penjaga menjual souvenir, oleh-oleh khas Bengkulu, dan buku-buku terbitan baru mengenai Bung Karno dan Ibu Fatmawati. Di bagian belakang rumah, kita bisa melihat sumur keramat, di mana banyak yang percaya apabila kita mencuci muka di sumur tersebut, kita akan dianugerahi kesuksesan. Benar atau tidak khasiat air sumur ini, wallahu alam…
Rumah Keluarga Ibu Fatmawati
Rumah Keluarga Ibu Fatmawati terletak di pusat kota, tepatnya di ujung Jl. Fatmawati, dekat Simpang Lima. Rumah panggung ini memiliki ciri arsitektur khas Sumatera, dan dikelola oleh Yayasan Ibu Fatmawati. Tempat ini kurang popular jika dibandingkan dengan rumah pengasingan Bung Karno, sehingga tidak banyak masyarakat yang tahu pasti di mana letaknya.
Koleksi benda di dalam rumah ini tidak banyak. Terdapat beberapa perabot dan foto milik pribadi keluarga Ibu Fatmawati. Ditampilkan juga dua set busana milik ibu Fatmawati yang dipasangkan pada manekin di dalam kotak kaca. Di salah satu kamar, terdapat mesin jahit yang digunakan ibu Fatmawati untuk menjahit bendera pusaka.
Untuk menghormati jasa-jasa ibu Fatmawati, maka pada tanggal 14 November 2001 Presiden RI Megawati Soekarno Putri meresmikan perubahan nama bandara Padang Kemiling di Bengkulu menjadi bandara Fatmawati Soekarno.
Masjid Jamik
Selama menjalani pengasingan di Bengkulu, Bung Karno juga melakukan banyak hal bagi masyarakat Bengkulu. Salah satunya adalah merenovasi Masjid Jamik pada tahun 1938. Masjid yang merupakan masjid tertua di Bengkulu ini terletak tepat di tengah persimpangan besar di pusat kota Bengkulu, yaitu antara Jl. Suprapto, Jl. Sudirman dan Jl. MT Haryono, kurang lebih di depan hotel Samudra Dwinka.
Rancangan atap mesjid ini agak berbeda dengan atap mesjid di Bengkulu yang umumnya bulat, karena lebih mengingatkan kepada atap mesjid Demak. Selain itu, keunikan lainnya adalah atap mesjid ini terbuat dari seng, seperti kebanyakan rumah (baik tradisional maupun modern) di Bengkulu. Konon atap seng lebih tahan terhadap gempa, sehingga mengurangi resiko kerusakan apabila terjadi gempa, mengingat Bengkulu merupakan wilayah yang sering dilanda gempa bumi.
Labels: bengkulu , bung karno , fatmawati , masjid jamik
Artikel Menarik Lainnya
| 0 Komentar | Tampilkan |
Tidak ada komentar.











