![]() |
|
1. Padang Barat
Jl. Juanda No 8, RT 001 / RW 003
Telp : 0751 - 443694
2. Solok
Jl. Pandan Ujung No. 41 PPA
Telp : 0755-21038
Fax : 0755-325150
3. Bukittinggi
Jl. Nawawi no.8 Tarok Dipo
Telp : 0752-31796
Fax : 0752-628837
Matahari tepat berada di atas ubun-ubun. Hampir tengah hari saat beberapa orang berjalan beriringan menuju arena lapang tempat diadakannya tradisi Pacu Jawi. Pacu dalam bahasa Minang berarti balap dan jawi berarti sapi. Tradisi pacu jawi sacara harfiah bisa diartikan sebagai tradisi balapan sapi. Hampir mirip dengan karapan sapi di Madura atau makepung di Bali. Arena tradisi pacu jawi ini terletak di kaki Gunung Marapi, tepatnya di Parambahan Batusangkar. Sebuah kabupaten yang berjarak tempuh lebih kurang dua jam menggunakan kendaraan bermotor dari Ibukota Provinsi Sumatra Barat, Padang.
Suara Taelmpong talu-bertalu, memecah terik siang hari itu. Talempong merupakan alat musik tradisional Minangkabau. Bunyinya hampir mirip dengan gamelan tapi lebih sedikit nyaring, bentuknya berbeda dengan gamelan. Talempong berbentuk bulat seperti mangkok terbalik, namun di tengahnya ada tonjolan yang akan dipukul untuk menimbulkan bunyi. Orang-orang berlalu lalang di arena pacu jawi ini semuanya terneyum sumringah dan penuh keramahan. Tampak juga beberapa permainan anak yang sudah mulai lekang oleh waktu. Ada komedi putar namun semuanya terbuat dari kayu, ada gondola atau di Sumatera Barat di sebut buaian kaliang, anak-anak begitu terlhat gembira menaikinya. Teriakan mereka menambah hangat suasana. Dari kejauhan beberapa orang terlihat bermain layang-layang ditengah birunya langit dengar latar belakang Gunung Marapi. Orang-orang begitu menikmati acara budaya ini, mereka datang membawa anak dan cucu menyaksikan salah satu kekayaan yang budaya yang dimiliki oleh bangsa Indonesia.
Saya berkeliling di arena pacu jawi ini. Tepat ditepian arena pacu ada beberapa pondok kayu yang terbuat dari bambu beratap pohon rumbia tempat menjual berbagai macam makanan dan minuman khas Sumatra Barat. Ada yang berjualan ketupat gulai paku, ketupat pecal, ada galamai sebuah makanan khas Payakumbuh, sate dan berbagai macam makanan serta minuman lainya. Saya tertarik dengan minuman yang wadahnya terbuat dari tempurung kelapa dan dibawahnya diberi potongan bambu agar wadah tempurung tersebut bisa berdiri. Unik memang dan sayapun memesan 1 cangkir. Kopi Daun begitulah kira-kira minuman itu diberi nama. Jika sebelumnya saya meminum kopi dari hasil olahan biji kopi atau kopi sachet yang saya beli diwarung namun kali ini berbeda, saya meminum kopi dari olahan hasil daun kopi. Konon kopi daun ini pertama kali dikenal zaman penjajahan dimana dahulunya penjajah yang datang membodohi masyarakat Tanah Datar bahwa yang lebih berkhasiat dan lebih nikmat itu adalah hasil olahan dari daun kopi bukan bijinya. Jadilah masyarakat disini mengolah daun kopi untuk diminum. Rasa kopi daun sendiri tidak sebegitu kental seperti olahan biji kopi, warnanya pun tidak sepekat kopi yang diolah dari biji kopi.
Lewat tengah hari acara pacu jawi pun dibuka dengan tari persambahan yang dilakoni oleh beberapa gadis cilik. Mereka begitu elok menarikan tarian ini. Para penonton begitu terkesima oleh suguhan yang mereka hadirkan. Setelah tarian mereka selesai, akhirnya acara yang paling ditunggu-tunggupun diumumkan melalui pengeras suara. Pacu jawi akan segera dimulai.
Siang itu semakin terik. Kulit saya terasa meleleh di bawah teriknya sinar matahari, namun semua itu tak melunturkan niat untuk menyaksikan tradisi pacu jawi ini. Justru disinilah kenikmatan menyaksikan even ini. Ditengah terik panas, berbaur dengan penduduk lokal, menikmati pemandangan alam nan elok ranah Minangkabau, mencicipi berbagai makanan khas yang hanya ada di negeri indah tepat di kaki Gunung Marapi.
Banyak pengunjung dari beberapa Nagari datang untuk melihat helat budaya ini. Diantara mereka terselip beberapa turis asing yang terlihat membaur dengan masyarakat. Saya semakin senang, melihat antusiasme masyarakat dalam perhelatan ini, melihat turis datang berkunjung menikmati tradisi Indonesia sekaligus melihat kesederhanaan masyarakat Indonesia dengan balutan khas keramahan yang saya juluki dengan sebutan “Indonesia a trully Heaven in the World”. Bagi saya Indonesia memang Negeri Kaya yang memiliki ratusan suku, ribuan tradisi, jutaan suguhan kekayaan alam yang sepertinya tidak akan habis untuk kita nikmati sepanjang hidup kita. Apa yang tidak ada di Negeri kita Indonesia ? Mulai dari pantai dengan laut nan biru mengisi rata-rata seluruh pantai di pesisir setiap pulau di Indonesia, salju indah di Puncak Cartenz Pyramid di tanah Papua, danau indah tersebar dimana-mana, peninggalan tradisi nenek moyang seperti candi-candi yang bertabur, aneka satwa yang tidak dimiliki oleh Negara lain, tradisi unik dari berbagai macam suku yang ada di Indonesia dan masih banyak lag hal-hal yang membuat kita bangga sebagai sebagai warga negara Indonesia.
Kembali ke bahasan pacu jawi, tepian sawah semakin ramai oleh penonton yang ingin menyaksikan kehebatan para joki memacu jawinya. Petakan sawah yang akan dijadikan arena ini terlihat berair dengan takaran air setinggi lutut. Ternyata untuk tinggi genangan air di petakan sawah ini ada ketentuanya juga. Petakan sawah yang akan dijadikan arena pacu jawi sendiri memiliki panjang sekitar lebih kurang 100 meter. Tepat di bawah petakan sawah yang akan di jadikan arena utama ada juga petakan sawah yang berair hal ini di maksudkan untuk mengurangi kemungkinan sapi cedera jika sapi berlari keluar jalur pacuan. Sejajar dengan petakan yang dijadikan arena utama, terdapat petakan sawah yang sedikit berlumpur. Antara petakan sawah yang sedikit berlumpur dan petakan sawah yang dijadikan arena pacu jawi di pisahkan oleh pematang sawah. Penonton sendiri kebanyakan berdiri di tepian sawah yang lebih tinggi dari arena pacu jawi. Saya mengambil tempat persis dipematang sawah dimuka petakan sawah yang akan menjadi arena. Hal ini agar memudahkan saya mendapat sebuah frame foto ekspresi para joki dengan sapinya yang berlari kencang meski resiko dihantam sapi yang melaju kencang sangat besar. Disinilah salah satu daya tarik memotret pacu jawi.
Pacu jawipun di mulai. Pemilik sapi dan jokinya beranjak ke arah garis star dengan membawa dudukan yang terbuat dari kayu yang nantinya dudukan dari kayu berbentuk lonjong ini akan dipasangkan ke tubuh jawi. Diatas kayu inilah nantinya para joki berdiri untuk memacu sapinya tanpa alat apapun kecuali tangan dan gigi mereka. Mengapa begitu ? ya hanya tangan dan gigilah yang mereka gunakan untuk memacu jawinya agar berlari kencang. Tangan mereka digunakan untuk memukul bokong jawi supaya berlari kencang sedangkan giginya digunakan untuk menggigit ekor sapi tersebut tujuanya juga sama membuat sapi-sapi yang ditungganginya berlari semakin kencang. Peserta pacu jawi sendiri adalah para pemilik sapi yang mencapai puluhan orang dengan sapi-sapi yang memadati arena berjumlah lebih kurang 400 – 600 ekor. Dalam perlombaanya pun tidak ada lawan, yang ada hanya sepasang sapi dipasangkan di dudukan kayu yang ditunggangi joki tanpa ada pesaing. Untuk menilai sapi-sapi yang menang adalah sapi-sapi yang berlari kencang dan lurus, gerakanya dengan pasanganya yang beraturan, larinya tdak keluar dari lintasan serta selamat dari garis start hingga finish.
Menurut cerita yang saya dapatkan. Filosofi pacu jawi itulah yang berlaku juga di dalam kehidupan sehari-hari manusia. Mengapa harus membandingkan sebuah helat budaya dengan kehidupan sehari-hari. Untuk menilai sapi yang menang adalah seperti diatas. Begitu juga dengan manusia, manusia yang akan menjadi juara itu adalah manusia yang mampu berjalan lurus, tidak keluar dari tatanan agama, budaya dan norma yang berlaku. Manusia yang mampu mengatur jalan hidupnya untuk tetap dijalur yang benar dengan menyelaraskan aspek yang berlaku untuk diimplementasikan kedalam kehidupanya. Hanya dengan begitu manusia bisa menjadi juara sejati.
Sungguh Indonesia kaya dengan berbagai macam tradisi, budaya, serta kekayaan alam yang sangat berlimpah. Ini lah tanah tumpah darah kita yang akan selalu kita banggakan, Indonesia.
Labels: Budaya Indonesia , Pacu Jawi , Alam Indonesia , Culture of Indonesia
Artikel Menarik Lainnya
| 0 Komentar | Tampilkan |
Tidak ada komentar.













