Ingin liburan?
Ayo jelajahi kekayaan pariwisata Indonesia, mulai dari kedalaman laut hingga puncak gunung

Propinsi


Kodya / Kabupaten

Jenis Wisata


Kata Kunci

























Jumlah Anggota Adira FOI
22060
Beranda > Artikel > Wisata Kuliner di Tomohon dan Kawangkoan: Menikmati Biapong dan Kukis di Rumah Kopi
Wisata Kuliner di Tomohon dan Kawangkoan: Menikmati Biapong dan Kukis di Rumah Kopi
Rabu, 03/08/2011 15:48:42 | Sulawesi Utara | Wisata Budaya

Oleh:
Taufik Hidayat

Explorer
Beri nilai:

Bumi Minahasa memang memiliki kharisma tersendiri untuk dikunjungi. Dan setiap kali sempat berkunjung ke Minahasa, selalu ada pengalaman berkesan yang tidak muda dilupakan.  Sosok tanah air Indonesia nun jauh di utara ini memang pantas mendapat acungan jempol untuk keramahan masyarakatnya, budaya, bahasa, dan tentu saja kulinernya.


Tomohon City of Flower.


Pesawat Boeing 737 Garuda Indonesia yang membawa kami mendarat dengan mulus di Bandara Sam Ratulangi di Manado setelah sekitar tiga jam mengudara dari Bandara Soekarno-Hatta. Di Terminal kedatangan , teman dan juga sekaligus tuam rumah  kami di Manado sudah menunggu dan dengan segera kami segera meluncur menuju Tomohon .


Perjalanan ke Tomohon mula-mula melalui semacam jalan by-pass yang melewati daerah berbukitan di pinggiran kota Manado. Yang menarik ada sebuah patung Kristus Raja yang sangat besar tampak sedang mementangkan kedua tangannya.
 

Kemudian perjalanan terasa mulai kian mendaki dan banyak tikungan yang melingkar-lingkar seperti di daerah Puncak. Maklum Tomohon, memang terletak di daerah pegunungan sehingga menjadi tempat favorit untk berakhir pekan dan beristirahat bagi penduduk kota Manado. Perjalanan dengan santai dapat ditempuh kira-kira antara 35 sampai 45  menit  saja. Akhirnya sampai lah kami dengan selamat dan gembira di kota yang sejuk ini.


Kota Tomohon terletak dapit oleh  Gunung Lokon, dan Gunung Mahawu dengan ketinggian rata-rata sekitar 800 meter di atas permukaan laut yang menyebabkan cuacanya cukup nyaman dan sejuk.


Yang menarik adalah angkutan umum di kota Tomohon, selain sejenis mikrolet , juga masih terdapat bendi yang diias warna-warni dan tentu saja ditarik seeokor kuda.


Sambil melihat bendi, tiba-tiba saja teman saya cerita yang lucu  yaitu cerita orang dari Jakarta naik Bendi di Tomohon. Karena udara sore yang sejuk tiba-tiba orang Jakarta ini berfikir enak juga kalau ke Manado naik bendi. Kemudian dia bertanya ke kusir.”Om kusir, ngana bisa antar kita kamana saja?” Karena senang dan sering dikasih upah tambahan si Om Kusir menjawab “So pasti bisa!”. “Kalau begitu  antar kita ka Manado”..Sambil garuk-garuk kepala sang kusir menjawab.”Tapi sebentar dulu ya”..”Kenapa”..”Kita mo Tanya sama si kuda”……


Melihat Rumah Tradisional Minahasa di Desa Woloan


Dalam perjalanan ke kobong atau kebun dalam bahasa lokal, kami berkeliling kota Tomohon dulu. Kota ini juga terkenal dengan City of Flower karena ada Tomohon Festival of Flower yang diadakan dua tahun sekali. Kunjungan kami dulu hampir berdekatan dengan Festival di bulan Juli 2010. Festival ini diadakan dua tahun sekali. Semoga kami dapat berkunjung ke Tomohon di tahun 2012 mendatang.
 

Kemudian kendaraan diarahkan sedikit keluar kota dan 10 atau 15 menit sampai di Desa Woloan, dimana terdapat banyak sekali rumah Tradisional Minahasa dengan bermacam-macam model dan ukuran. Ternyata rumah-rumah ini tidak dihuni, melainkan hanya sebagai rumah contoh. Rumah yang dibuat dengan sistem bongkar-pasang atau knock-down ini memang sering dipesan oleh pembeli baik dari luar Minahasa bahkan dari luar negri. Tentunya pada saat pemasangan tetap diperlukan tukang yang sudah ahli dan khabarnya tidak menggunakan paku sama sekali.


Rumah tradisional ini disebut rumah tinggi karena berbentuk rumah panggung dan biasanya memiliki sepasang tangga di depan rumah. Dinding dan lantai biasanya terbuat dari kayu pohon linggu atau kayu cempaka. Atapnya kebanyakan terbuat dari seng. Menurut cerita teman saya , rumah selalu memiliki sepasang tangga sehingga kalau ada roh jahat masuk melalui tangga satu selalu bisa keluar melalui tangga yang lain…he he pintar juga yah.. Kalau kita berminat tinggal lihat-lihat, , negosiasi harga, dan pesan, rumah kemudian dapat dirakit lagi  dimana saja.


Makan Nasi Jaha di “kobong “


Setelah puas melihat rumah tradisional, kendaraan kembali menderu perlahan menuju  desa Ranatongkor. sedikit di luar kota Tomohon. Pemandangan kian indah dan kami harus berhenti di pinggir jalan karena mobil tidak bisa masuk. Ternyata kami menuju “kobong” atau kebun dimana banyak ditanam sayur-sayuran dan buah-buahan. Sebagian kebun juga ditanam cengkeh.


Kami segera menyusuri jalan setapak yang penuh pepohonan yang rimbun, ada juga semacam sungai atau mata air kecil yang mengalir dengan jernihnya. Sepuluh menit kemudian kami sampai di kobong dengan dua buah rumah atau pondokan, dan beberapa tempat untuk bersantai.


Banyak juga ternak seperti ayam yang bebas berkeliaran. Segera kelihatan bahwa pohon yang paling banyak tentunya adalah pohon kelapa sebagaimana ciri khas Minahasa sebagai negri Nyiur Melambai. Selain itu juga ada pohon nangka dan langsat., sejenis duku yang di daerah lain terasa masam namun disini ternyata rasanya sangat manis.


Di kebun. Kita bersantai sejenak dan kemudian menyiapkan nasi jaha, yaitu sejenis nasi ketan yang dibakar di dalam bambu. Wah rasa dan aroma nya membuat rasa lapar tergelitik. Lauk utamanya tentu saja ayam yang tadinya masih berlarian yang sekarang sudah  ada didalam tungku sedang dalam proses menjadi ayam rica-rica.
 

Selain itu sayuran-sayuran berupa daun gedi, werot dan pakis yang tinggal dipetik dan direbus atau lalap memang menambah nikmatnya makan siang di kobong. Tentu saja tidak ketinggalan ikan masak dabu-dabu, dan buah-buahan yang khas. Wah nikmat sekali makan siang di kebun setelah sedikit lelah berangkat dari Jakarta dan sedikit tur di Tomohon dan sekitarnya. Minumnya tentu saja air kelapa muda yang tinggal petik.


Selama di kobong ini saya berkenalan dengan beberapa buah yang khas seperti namu-namu, langsat manis, dan juga buah amu.  Buah amu ini seperti sukun yang enak kalau di goring sedangkan namu-namu adalah buah yang bentiknya seperti  panada (pastel khas Minahasa), warnanya kuning, bijinya pipih dan rasanya sedikit masam.

Ke Kota Kacang Kawangkoan dan makan Biapong di Rumah Kopi


Keesokan harinya, dari Tomohon, kami berkendaran di pagi hari dan tidak lama kemudian sampai di sebuah kota kecil yang namanya Kawangkoan. Sebelumnya saya tidak pernah mendengar nama tempat ini. Di sini, semuah bangunan terlihat dalam arsitektur yang cukup khas dan kelihatan model lama serta antik. Seakan-akan wktu berhenti . Mungkin pemandangan 50 tahun yang lalu tidak banyak berubah. Deretan toko-toko tua yang menjual makanan khas seperti kacang sangria kulit Kawangkoan yang gurih dan renyah. Banyak kacang kulit yang isinya sampai lebih empat butir dalam satu kulit.  Bahkan ada yang isinya tujuh butir.


Selain itu, di pusat kota banyak juga “Rumah Kopi”, di mana kita dapat duduk santai sambil minum kopi susu khas, ditemani oleh “Biapong” dan roti bantal. Biapong sendiri semacam bakpao yang isinya bermacam-macam, tetapi yang khas adalah isinya kacang tanah kawangkoan yang lezat . Biapong isi kacang yang lezat ini disebut biapong  isi temok. Roti bantal sendiri adalah roti besar model jaman baheula yang sekarang hampir tidak ada di Jakarta.


Tentu saja itu belum cukup, masih ada kukis (kueh) sinusuan atau kukis kopi-kopi. Kueh ini berbentuk seperti kueh bolu, tetapi warnanya merah tua karena pakai gula merah.  Dan rasanya tentu saja sangat enak.  Masih ada lagi kukis bobengka , yaitu kueh yang dipanggang dioven pake kelapa muda. Bahannya dari tepung ketan gula merah dan kemudian ditaburkan kenari dan kayu manis. Wah lama-lama saya bisa jadi ahli kukis nih.


Yang paling menakjubkan adalah proses pembuatan kukis, biapong dan roti bantal  masih secara tradisional, yaitu tidak menggunakan oven atau alat-alat modern melainkan dengan semacan  tungku yang menggunakan kayu bakar.
Bentuk rumah kopi ini juga benar-benar antik, bangunannya semcam ruko jaman sekarang, tetatpi setting dan juga perabotannya seperti meja dan kursinya membuat kita merasa kembali ke jaman kakek nenek kita .
 

Setelah puas menikmati biapong, kopi, dan bermacam-macam kukis, kami dengan santai menyebrang ke toko – toko di sekitar rumah kopi. Tidak lupa beberapa bungkus kacang pun dibeli. Kacang sangria Kawangkoan sangat renyah dan gurih. Ternyata ada dua jenis kacang sangrai, yaitu jenis biasa dan jenis belimbing. Jenis belimbing ini lebih lezat karena karena lebih padat dan berisi.


Selain kacang sangrai ada lagi beberapa macam penganan khas Kawangkoan. Sebut saja Halua dan kacang goyang. Keduanya merupakan penganan andalan Kawangkoan dan sekali lagi, juga dibuat dari kacang tanah yang disangrai. Kalau Halua dicampur gula merah dan bentuknya seperti gulali, sedangkan kacang goyang dicampur dengan semacam tepung bumbu kemudian dimasak di oven. Jadi semcam kacang berbedak, sedikit manis sebagimana manisnya dara dari Kawangkoan.


Selamat Tinggal Kawangkoan dan Patung Kacangnya


Sembari menikamti kacang Kawangkoan, kami berkendara mobil dengan santai seraya mengucapkan selamat tinggal kepada Patung Kacang yang memang ada di Kota Kecamatan ini.  Kacang sendiri baru berhenti dinikmati, ketika mulut sudah lelah dan tidak terasa kami sudah mendekati kota Tomohon lagi.
Suatu pengalaman yang mengasikan ke kota kecil di Sulawesi Utara.
 


Label: Tomohon , Kawangkoan , Sulawesi Utara



10 Komentar

oktavina febianti   15 March 2012 15:28:42
wah..biapong..kaya apa yah rasanya..jadi penasaran..hehe
Balas  Laporkan 
andreas agusta prima situmorang   04 January 2012 14:46:43
Balas  Laporkan 
Taufik Hidayat   12 September 2011 16:05:38
jangan lupa satu lagi cobain...mie cakalang nya yummy juga ...

asyik..pulang2 tambah endut makan melulu..asyik memang ke tomohon makan melulu
Balas  Laporkan 
Lena Suyanto   11 September 2011 10:02:00
jangan lupa satu lagi cobain...mie cakalang nya yummy juga ...
Balas  Laporkan 
M. Aditya Setiajid   08 September 2011 15:48:06
asyik..kenapa biapongnya gak dibawa pulang??
Balas  Laporkan 
load more comment ( 5 )
User name  : 
Password  : 

Artikel Menarik Lainnya

Kantor Cabang Adira Finance

1. Manado
    Jl. Ahmad Yani No 10 D - E
    Telp : 0431 - 88800443
    Fax  : 0431 - 8880440

 

2.Manado 2 (CAR)
   Jl.  Pierre Tendean Kawasan Megamas
   Blok I, C2 No.52
   Wenang Manado – SULAWESI UTARA
   Telp. 0431-879753
   Fax . 0431-879756