Search Destination
Temukan artikel seputar tempat dan aktivitas wisata yang kamu sukai, mulai dari berenang di pantai sampai panjat tebing.

Daerah Wisata


Jenis Wisata


Kata Kunci





SPONSORED



Total Article
1520
Total Member
12563





Home > Article

03 August 2011 | Kalimantan Timur | Wisata Kota
Penerbangan Roller Coaster dan Jamuan ala Berau
Rangga Yudhika
Adventurer
Rate
Share  

1. Samarinda
    Komp. Sempaja Mas, Jl. K. H. Wahid Hasyim No 1
    Telp : 0541-7770980

 

2. Balikpapan
    Jl. Jend. Sudirman No 287 Rt / Rw. 06
    Telp : 0542-744880
    Fax  : 0542-744870
 

3. Tarakan
    Jl. Mulawarman Rt. 43
    Telp : 0551-35999
    Fax  : 0551-35600
 

United Kingdom memiliki Gibraltar Island di teritori sisi selatan Spanyol dimana kawasan landing dan take-off nya menggunakan jalan raya (bahkan lampu merah jalan raya), yang mengharuskan kendaraan bermotor berhenti sejenak di lampu merah untuk menunggu sebuah pesawat bersiap terbang atau mendarat. Hongkong pun memiliki bandara di tepian laut yang katanya memberikan pemandangan yang cukup indah.

Indonesia tidak kalah, setidaknya Berau merupakan salah satu kota yang memberikan pengalaman “Indah” dengan “keunikan” landasan pesawat di bandara Kalimarau (singkatan dari Kalimantan-Berau).
 

Dalam rangka mempersiapkan kejuaraan PON Kaltim 2008 yang lalu, saya yang bergabung bersama tim DKI mengadakan try-out (baca: latih tanding) ke Berau, kota yang sedianya akan menjadi lokasi pertandingan untuk cabang olahraga kami. Dari Jakarta kita harus transit di Sepinggan Airport Balikpapan terlebih dahulu sebelum menempuh penerbangan berikutnya menuju Berau, kota kecil di Kalimantan Timur. Meskipun di Google Map sekalipun tidak tampak petunjuk kota Berau, namun kota berjarak sekitar 280km dari Balikpapan ini menjadi tujuan wisata yang menarik di Kalimantan Timur.
 

Alamak, betapa kagetnya kita begitu mengetahui bahwa pesawat yang akan kita tumpangi masih menggunakan baling baling di sebelah kanan kirinya, bukan menggunakan turbin seperti pesawat komersial pada umumnya. Baru kali ini saya pun merasakan wajib mengenakan sabuk pengaman erat-erat (dengan tambahan doa). Pesawat kecil ini pun hanya berkapasitas sekitar 40 orang, bahkan ada 2 kursi penumpang yang duduknya melawan arah terbang pesawat. "Bonusnya", kedua teman saya bahkan harus berpusing-pusing ria merasakan terbang mundur, walah !!!!
 

Penerbangan berdurasi 1 jam tersebut terasa begitu panjang karena pesawat kecil itu sangat bergoyang setiap kali menghadapi terpaan angin besar atau awan yang begitu tebal. Saya yakin di pikiran para penumpang yang terus melihat kebawah itu sudah terbayang bagaimana kalau pesawat jatuh ke hutan Kalimantan yang begitu luas bagaikan karpet hijau di bawah sana. Rasanya pendingin udara pun hanya dihembuskan melalui kipas angin, karena secara bersamaan kepala para penumpang menelurkan butir-butir keringat (dan “burket” pun bermunculan). Baru pertama kalinya saya tidak bernafsu untuk memakan kotak snack yang diberikan di dalam pesawat kecil karena kondisi penerbangan yang begitu mengerikan.
 

Ketika mendarat di bandara KALIMARAU (Kalimantan Berau) yang gedungnya tak lebih besar dari 1 kantor kelurahan di Jakarta, pesawat ini harus merasakan goyangan yang begitu besar ke kiri dan ke kanan akibat  begitu kecilnya pesawat ini.
 

Berau oh Berau, butuh pertaruhan nyawa untuk mencapai mu……
 

Setelah penerbangan pertama menuju Berau menggunakan pesawat yang masih berbaling-baling ria masih menyisakan pengalaman pertaruhan nyawa terbang melintasi hutan Kalimantan, kali ini pengalaman mendebarkan lainnya pun kembali saya rasakan pada kesempatan kedua mengunjungi Berau. Untungya ketika itu sudah menggunakan pesawat Boeing 737 yang seperti penerbangan komersial lainnya. Konon, itu merupakan periode pertama dibukanya jalur komersial Berau-Balikpapan menggunakan pesawat komersial berukuran sebesar itu.
 

Tentu saja penerbangan terasa jauh lebih aman dan nyaman dibandingkan dengan berbaling-baling ria. Namun mata saya terperangah ketika melihat ada kumpulan massa di dekat landasan pacu. Satu mobil pemadam kebakaran yang sedang menyala lengkap dengan lampu biru dan merahnya bahkan sudah menunggu di sisi landasan. Walah, ada apa gerangan ini! Ternyata semakin mendekat ke landasan, saya tahu apa alasan dari hal-hal tersebut. Pertama, kumpulan massa tersebut sedang bersiap menyambut kita, atlet-atlet dari luar kota, yang bertanding di kota kecil tersebut. Sontak, saya dan teman-teman serasa dielu-elukan sebagai juara Olimpiade saja.
 

Seketika, perasaan bangga tersebut sirna ketika pesawat sedang mendaratkan rodanya ke landasan, seketika pula mesin pesawat mengeluarkan percikan api. Setelah saya perhatikan, hal tersebut karena landasan pesawat begitu pendeknya sehingga pesawat tampak seperti harus melakukan pengereman mendadak, sebelum berujung pada tebing-tebing gunung yang bisa menjadi “emergency safety” setiap saat. Walah, pantas saja mobil pemadam kebakaran pun siap menyelamatkan kita.

Saking kecilnya lintasan bandara, shuttle bus yang kita tumpangi ketika turun dari pesawat dan menuju ke dalam gedung bandara (yang kecilnya tak lebih besar dari ukuran 1 kolam renang), kita harus berbagi jalan dan berada di belakang iringan gerobak motor yang membawa koper-koper kita.
 

Dan pantas pula ketika mendarat kita langsung disambut jepretan wartawan lokal serta diberikan jamuan selamat datang. Mungkin karena kita telah berhasil melewati “jamuan” selamat datang ala Kalimarau.


Asumsi saya mengenai pendeknya landasan bandara Kalimarau tersebut benar adanya. Ketika kita hendak meninggalkan kota Berau dan bandara Kalimarau, pesawat harus berputar-putar sekurangnya 2 kali untuk memanaskan mesin dan menambah kecepatan pesawat di tengah pendeknya lintasan pesawat!!!!
Sekali lagi, tebing-tebing gunung siap menjadi “emergency safety” landasan tersebut, alamak!
 

Life is a journey
www.ranggayudhika.multiply.com
Backpacking makes your destination closer


Labels: berau , remarkable Indonesia , backpack



Artikel Menarik Lainnya

2 Day trip ke Martapura (Kalimantan Selatan )
 
#BudayaNegeriku Wisata Marathon di Kota Pelajar
 
#Budaya Negeriku - Jember Fashion Carnival, Budaya Modern masa kini
 
#BudayaNegeriku - Menengok Seni Berbalas Pantun Dalam Pernikahan Adat Melayu Karimun
 
#BudayaNegeriku Mengabadikan Eksotisme Keraton Ratu Boko di atas Prangko
 
5 Komentar Tampilkan

asmadi sugianto   23 November 2011 22:56:25
@rangga waahh keren nihh anak2 berau... kenalin saya anak Samarinda niihh
Balas  Laporkan 
Rangga Yudhika   22 September 2011 03:58:30
@Okta,namun terbayar lunas begitu tiba di Berau :) hehe..nice experience...butuh nyali ya untuk kesana..^_^

Balas  Laporkan 
Rangga Yudhika   22 September 2011 03:57:53
@Agni, betul sekali. deg2an banget. tapi terbayar lunas untuk pengalaman hidup :)
pejalanannya menegangkan sekali :O. tidak terbayang deg-degan nya

Balas  Laporkan 
oktavina febianti   06 September 2011 14:49:03
hehe..nice experience...
butuh nyali ya untuk kesana..^_^
Balas  Laporkan 
Agni Pratistha Kuswardono   23 August 2011 20:59:05
pejalanannya menegangkan sekali :O. tidak terbayang deg-degan nya
Balas  Laporkan 

Pertama   Sebelumnya   Selanjutnya   Terakhir  
User name
Password