Search Destination
Temukan artikel seputar tempat dan aktivitas wisata yang kamu sukai, mulai dari berenang di pantai sampai panjat tebing.

Daerah Wisata


Jenis Wisata


Kata Kunci





SPONSORED



Total Article
1520
Total Member
12604





Home > Article

06 February 2012 | Jawa Tengah | Wisata Kota
Gedung Semut Raksasa di Little Nederland Semarang
Arini Tathagati
Explorer
Rate
Share  

1. Semarang
     Jalan Imam Bonjol No.180
     Ruko Imam Bonjol Blok C-D, RT05/RW03
     Telp : 024-3584041 (Hunting)
     Fax  : 024-3584042

 

2.  Kudus
     Jl. A. Yani No. 128 A
     Telp : 0291-441442 
     Fax  : 0291-444390

 

3. Pati
     Jl. Dr. Susanto No. 56 A Pati, Rt.3/1, 
     Kota Pati Propinsi Jateng - 59119
     Telp : 0295-386400
     Fax  : 0295-382546

 

4. Tegal
     Jl. Jend. Sudirman No. 23 / 25 RT.01 RW.04
     Telp : 0283-322383
     Fax  : 0283-320714

 

5. Pekalongan
     Jl. KH Mansur 108 Kel Bendan  Pekalongan
     Telp : 0285-422008
     Fax  : 0285-431095

 

6.  Purwokerto
     Komplek Ruko Satria Plaza Blok BC - 3-4,
     Jl.  Jendral Sudirman
     Telp : 0281-626028
     Fax  : 0281-626030

 

7. Solo
     Jl. Raya Solo Permai JA No. 7-9
     Solo Baru
     Telp : 0271-626626
     Fax  : 0271-626623

 

8.  Klaten
     Jl. Pemuda Utara No 113
     Telp : 0272-322561
     Fax  : 0272-322546

 

9.  Yogyakarta
     Jl.  H.O.S. Cokroaminoto No. 221 Rt. 10/04
     Telp : 0274 - 555007
     FaX : 0274 - 555062

 

10. Magelang
      Jl. Ahmad Yani No. 40
      Telp : 0293-363109
      Fax  : 0293-361246


Siang itu saya sedang menelusuri Kawasan Kota Tua Semarang, ketika supir rental yang membawa saya menunjukkan bangunan dengan hiasan patung semut raksasa di atasnya. Saya semula hanya berniat memotret bagian depannya saja, namun karena melihat pintu terbuka, saya pun melongok ke dalam, dan melihat sebuah aula bergaya ja-dul berlantai kayu dengan tirai biru di bagian belakang. Saat itu salah seorang penjaga gedung melihat saya, dan mempersilakan saya untuk melihat-lihat ke dalam.

 

Pak Rus, penjaga gedung yang saya temui mulai menjelaskan mengenai sejarah bangunan yang saya masuki, yang bernama resmi Marabunta Gedung Multiguna (MGM). Bangunan ini terletak di Jl. Cendrawasih 23, Semarang, di jantung Kawasan Kota Tua Semarang yang dikenal juga sebagai Little Nederland. Nama "Marabunta" diberikan karena ciri unik berupa dua buah patung Marabunta atau semut merah raksasa di atapnya. Pengambilan nama Marabunta sebagai nama gedung mencerminkan sifat semut yang saling bekerjasama. Gedung dengan nama asli Komedi Stadschouwburg ini diperkirakan berdiri sejak tahun 1854, berfungsi sebagai gedung pertunjukan tempat pementasan drama, tari dan musik yang dilaksanakan sebulan sekali.

 

Pada awal masa kemerdekaan, gedung ini tak lagi digunakan sebagai tempat pertunjukan. Tahun 1956, Yayasan Empat Lima memperbaiki bangunan ini, dan kemudian dijadikan kantor Yayasan Empat Lima. Tahun 1994,  gedung seluas 3000 meter persegi ini roboh. Setelah roboh, bangunan tersebut kemudian dijual kepada Kodam, dan dikelola Yayasan Rumpun Diponegoro.


Bangunan yang ada sekarang merupakan bangunan replika yang dibangun Yayasan Rumpun Diponegoro sejak tahun 1995. Replika ini dibangun pada lahan di sisi selatan gedung Komedi Stadschouwburg yang asli. Namun karena keterbatasan lahan, luas gedung yang baru lebih kecil dibandingkan bangunan aslinya, hanya sekitar 999 meter persegi.  Dalam proses rekonstruksi, Gedung Marabunta dibelah menjadi 2 bagian. Bagian belakang dijadikan kantor pengelola, sedangkan bagian depan dipertahankan tetap seperti bentuk aslinya.  Interior yang digunakan di dalam aula sebagian besar menggunakan interior asli gedung Komedi Stadschouwburg, mulai dari atap hingga tiang. Hanya bagian depan yang merupakan desain baru. Tahun 2006, replika Gedung Marabunta kembali berdiri, dan digunakan sebagai tempat acara-acara seperti konser musik atau pesta pernikahan.

 

Jika diperhatikan, bangunan ini memiliki tiang-tiang penyangga yang langsing, yang terletak di sisi kiri dan kanan ruangan. Di bagian jendela terdapat kaca mozaik dengan beberapa gambar. Di pintu masuk terdapat kaca mozaik yang menggambarkan kisah Putri Salju dan para kurcaci, sedangkan di 12 buah jendela samping terdapat kaca mozaik Dewi Matahari sedang menari. Di bagian depan, terdapat sisa panggung pertunjukan yang asli. Di sisi kanan pintu masuk terdapat bar berbentuk kapal lengkap dengan hiasan jala dan jaring. Bar ini bukan merupakan bagian asli dari gedung Marabunta, namun merupakan tambahan.

 

Pak Rus menunjukkan bagian paling istimewa dari Gedung Marabunta, yaitu langit-langit yang (katanya) merupakan lambung kapal yang dibalik. Langit-langit dan tiang-tiang penyangga ini dipertahankan seperti bentuk aslinya. Di bagian langit-langit, terdapat beberapa kipas angin bergaya kuno, sehingga suasana ja-dul semakin terasa kental.  Tak hanya langit-langit yang terbuat kayu, lantai aula pun terbuat dari kayu. Sebenarnya lantai gedung yang asli terbuat dari marmer, namun ketika proses replikasi, lantai ini sengaja dibuat dari kayu, agar serasi dengan langit-langit bangunan. Saya merasakan sendiri, memasuki aula ini seperti memasuki lorong waktu, seolah kita diajak kembali ke awal abad 20, ketika gedung ini masih berfungsi sebagai gedung pertunjukan.

 

Gedung cantik ini menjadi terkenal karena konon pernah menjadi tempat pementasan Mata Hari, nama panggung dari Margaretha Geertruida Zelle. Mata Hari adalah seorang penari eksotik yang menjadi terkenal karena dituduh menjadi mata-mata Jerman pada Perang Dunia I. Margaretha lahir di Leeuwarden, Belanda pada tahun 1876. Tahun 1895, ia menikah dengan Rudolf MacLeod, seorang perwira Angkatan Darat Hindia Belanda. Setelah menikah, mereka tinggal di Ambarawa. Tahun 1897, Margaretha bergabung dengan sebuah grup tari lokal dan mengambil nama Mata Hari sebagai nama panggungnya. Tahun 1903, Mata Hari pindah ke Paris dan menjadi penari eksotis bergaya oriental. Selama Perang Dunia I, Negara Belanda bersikap netral, sehingga Mata Hari dapat keluar masuk perbatasan antar Negara dengan bebas. Tahun 1916, ia ditangkap di kapal yang berangkat dari Spanyol ketika sedang berlabuh di Falmouth. Tahun 1917, Mata Hari dihukum tembak di Perancis. Jika ingin melihat seperti apa wajah Mata Hari, anda bisa melihatnya pada foto yang terpasang di kantor pengelola Gedung Marabunta.


Labels: marabunta , MGM , semarang , kota tua



Artikel Menarik Lainnya

2 Day trip ke Martapura (Kalimantan Selatan )
 
Menyambangi Keanggunan Barak Militer Bantir
 
#BudayaNegeriku Wisata Marathon di Kota Pelajar
 
#Budaya Negeriku - Jember Fashion Carnival, Budaya Modern masa kini
 
#BudayaNegeriku - Menengok Seni Berbalas Pantun Dalam Pernikahan Adat Melayu Karimun
 
1 Komentar Tampilkan

Silvian Handy Surya   16 February 2012 19:22:39
Indonesia perlu sekali mempertahankan haritage. karena itu investasi tiada tara, salah satu eksistensi negara adalah bagaimana kita mampu mempertahankan benda bersejarah dan mengelolanya menjadi lokasi yang bermanfaat
Balas  Laporkan 

Pertama   Sebelumnya   Selanjutnya   Terakhir  
User name
Password