![]() |
|
Kedatangan anda menggunakan kereta api disaat anda turun di Stasiun Tugu Jogjakarta tepat sore atau petang hari, lelah akan terobati apabila anda menyempatkan untuk rehat dan duduk sejenak di Angkringan Kopi Joss Lek Man atau juga disebut Angkringan Tugu disingkat dengan bahasa gaul AngTu. Tidak sulit untuk menemukan lokasi angkringan tersebut saat anda berada di Malioboro atau turun dari kereta api di Stasiun Tugu. Tukang becak, ojek, loper Koran dan jasa porter pasti dengan senang hati akan menunjukkan lokasi angkringan tersebut.
Dari Stasiun Tugu anda cukup keluar melalui pintu utara dan menyisir jalan keluar arah timur kemudian belok ke kiri ( utara ) anda akan menjumpai tempat tongkrongan favorit wong Jogja. Jangan salah pilih untuk menikmati kopijoss asli, carilah kopi joss yang ada spanduk bertuliskan Kopi Joss Lek Man dan Kopi Joss Lek No. Cukup pilihlah satu diantara keduanya, yang menjadi favorit adalah kopijoss Lek Man, sedang Lek No adalah saudara Lek Man yang menyusul membuka usaha angkringan dilokasi tersebut, setelah Lek Man lebih dari 10 tahun Jualan.
Kopijoss adalah jenis kopi tumbuk yang diolah sendiri secara tradisional kemudian saat diseduh dicampur arang yang membara. Menurut Sobar anak mantu Lek Man yang juga bergantian berjualan bahwa untuk mempertahankan cita rasa, Sobar harus mencari kopi didesa yang membuat kopi tumbuk secara tradisional, sobar tidak menyebutkan dimana desa tersebut. Selain itu arang yang digunakan untuk memberikan campuran adalah jenis arang yang betul-betul kering dan tidak basah.
Angkringan kopijoss Lek Man adalah angkringan generasi pertama di Jogja, sebelum banyak menjamur penjual angkringan di pelosok kota Jogjakarta. Menurut Yu Sumi, anak sulung dari Lek Man yang sekarang mengganti Lek Man berjualan bersama Sobar dan Alex menceritakan bahwa usaha ini pertama di buka tahun 1958 oleh Mbah Pairo ayah dari Lek Man, kemudian diawal 70an Mbah Pairo diganti Lek Man berjualan angkringan kopijoss, Lek man sendiri pensiun berjualan belum lama yaitu di tahun 2007, kemudian angkringan bergilir di jaga oleh Yu Sumi, Kang Sobar dan Alex dengan pergantian setiap 2 minggu sekali.
Begitu legendarisnya angkringan ini sering banyak dikunjungi pelancong dari luar kota, jangan kaget kalau anda cukup membayar 2.000 untuk kopijoss dan 1.500 untuk nasi kucingnya, kalau anda ingin menambah dengan lauk pauknya atau gorengan cukup 500 rupiah saja. Setiap sore angkringan ini sering buat berkumpul para komunitas, dari penarik becak, tukang ojek, mahasiswa, guru dan dosen, pegawai Bank, hingga para seniman yang ada di Jogjakarta. Sering pula angkringan ini dijadikan sebagai setting film atau iklan.
Dinas Pariwisata Jogjakarta telah memberikan situs kuliner Angkringan kopijoss Lek Man sebagai simbol aneka kuliner Jogjakarta. Sangat disayangkan apabila datang ke Jogja tidak menikmati suasana Angkringan legendaris ini yang diminati berbagai macam komunitas.
Labels:
Artikel Menarik Lainnya
| 0 Komentar | Tampilkan |
Tidak ada komentar.
















