![]() |
|
1. Tangerang
Jl. Raya Serpong KM.7 Alam Sutera BSD Tangerang
(Depan Yon ARHANUDRI)
Tel : 021 - 53124550 / 60
Fax : 021-53124557
2. Banten
Jl. Raya Cilegon No. 39 A RT 05/06
Kepandean Serang
Tel : 0254-209810
Fax : 0254-209818
Cina Benteng. Itu sebutan untuk warga keturunan Tionghoa yang berdomisili di wilayah Tangerang dan sekitarnya. Mengapa disebut demikian? Ternyata ada kisahnya, dan saya baru mengetahui kisahnya setelah mengunjungi Benteng Heritage Museum, sebuah museum peranakan Tionghoa pertama di Indonesia, yang didirikan untuk melestarikan budaya peranakan Tionghoa di Indonesia, mengingat jumlah warga Tionghoa di Indonesia adalah yang terbanyak di Asia Tenggara.
Mencari museum ini pertama-tama agak susah, karena terletak di gang sempit di pasar, di antara kedai dan toko kelontong di kompleks pasar lama, Tangerang. Beralamat di jalan Cilame, lokasi museum ini berdekatan dengan kelenteng Boen Tek Bio. Tanyakan saja kepada penduduk sekitar pasar lama Tangerang, pasti mereka tahu, hehe...
Bangunan museum ini dulunya adalah bekas rumah tinggal beberapa keluarga, yang dibeli dan direnovasi oleh pihak kongsi swasta pemilik museum pada tahun 2009, dan diresmikan menjadi Benteng Heritage Museum pada tanggal 11 November 2011 (11-11-11). Dikenakan biaya masuk museum berkisaran 10 - 20 ribu untuk biaya pelestarian museum.
Dan, satu hal yang penting! Di dalam museum ini tidak diperkenankan mengambil foto! Hiks... jadi hanya bisa dilihat saja. Seorang pemandu akan bercerita panjang lebar mengenai museum ini, sambil membawa kita melihat-lihat koleksi jaman 'doeloe' dari budaya peranakan Tionghoa, seperti keramik, guci, meja, kursi, ranjang, pispot, kebaya encim, perhiasan, make-up, sepatu, alat musik, patung-patung dewa, sampai dengan mahjong dan kartu-kartu judi jaman 'doeloe' hihihi...
Yang membuat saya kagum terbengong-bengong adalah ukiran yang sangat detail di lantai 2, bercerita tentang jaman Tiga Kerajaan (Sam Kok). Datang dan lihat sendiri yah :) Hal lain yang unik bagiku adalah koleksi sepatu mungil, berukuran 10 cm, bukti dari trend fashion wanita-wanita bangsawan jaman nenek moyang Tionghoa dahulu, hihi...
Mengunjungi museum ini membuat saya ber-nostalgia kembali teringat akan mendiang nenek saya, hiks... Semasa hidupnya, beliau dalam kesehariannya mengenakan kebaya encim, bersanggul bak wanita Jawa jaman dulu, hehe.. namun tidak mengecilkan kaki (fiuhh..), sehingga saya tidak mempunyai koleksi sepatu mini dari dia, hehe... barang-barang koleksi di dalam museum Benteng Heritage ini juga familiar bagiku seperti ranjang klasik dengan kain kelambu, tusuk konde, peniti dan ikat pinggang kuningannya, setelan kebaya encim dan kain sarung batiknya, serta mahjong dan kartu judi ceki... lalala... senangnya berkunjung dan bernostalgia di Benteng Heritage Museum ini.
Labels:
Artikel Menarik Lainnya
| 0 Komentar | Tampilkan |
Tidak ada komentar.










