![]() |
|
1. Semarang
Jalan Imam Bonjol No.180
Ruko Imam Bonjol Blok C-D, RT05/RW03
Telp : 024-3584041 (Hunting)
Fax : 024-3584042
2. Kudus
Jl. A. Yani No. 128 A
Telp : 0291-441442
Fax : 0291-444390
3. Pati
Jl. Dr. Susanto No. 56 A Pati, Rt.3/1,
Kota Pati Propinsi Jateng - 59119
Telp : 0295-386400
Fax : 0295-382546
4. Tegal
Jl. Jend. Sudirman No. 23 / 25 RT.01 RW.04
Telp : 0283-322383
Fax : 0283-320714
5. Pekalongan
Jl. KH Mansur 108 Kel Bendan Pekalongan
Telp : 0285-422008
Fax : 0285-431095
6. Purwokerto
Komplek Ruko Satria Plaza Blok BC - 3-4,
Jl. Jendral Sudirman
Telp : 0281-626028
Fax : 0281-626030
7. Solo
Jl. Raya Solo Permai JA No. 7-9
Solo Baru
Telp : 0271-626626
Fax : 0271-626623
8. Klaten
Jl. Pemuda Utara No 113
Telp : 0272-322561
Fax : 0272-322546
9. Yogyakarta
Jl. H.O.S. Cokroaminoto No. 221 Rt. 10/04
Telp : 0274 - 555007
FaX : 0274 - 555062
10. Magelang
Jl. Ahmad Yani No. 40
Telp : 0293-363109
Fax : 0293-361246
Indonesia sebagai negara yang dilalui lintasan gunung api, menjadi tanah yang eksotis kerena menjadi bagian dalam cincin api dunia. Kemegahan Indonesia tidak hanya dari gunung-gunung berapi saja, tetapi gunung-gunung yang sudah tidak aktif tetap menjadi kekayaan tanah Nusantara. Salah satu gunung yang menarik adalah gunung Andong yang berketinggian 1736mdpl. Gunung yang secara admistratif masuk dalam Kabupaten Magelang, kali ini mencoba untuk ditelusuri tiap jengkal lekuk tubuhnya.
Perjalanan di awali dari Kecamatan Ngablak, sekitar 20Km arah timur dari Magelang atau 18Km ke barat dari Kota Salatiga. Ngablak adalah sebuah kecamatan dengan ketinggian sekitar 1500mdpl, dengan udara sejuk khas pegunungan. Disisi barat membentang dan berdiri kokoh Gunung Merbabu 3142mdpl dan sisi timur lau berdiri Gunung Telomoyo 1825mdpl. Ngablak sebagai salah satu kecamatan, sungguh beruntung karena diapit oleh 3 gunung sehingga pemandangan nampak indah. Dari pasar tradisional Ngablak, titik awal perjalan dimulai menuju arah utara dusun Sawit desa Girirejo.
Berjalan melintasi aspal sekitar 3-4km dengan senyum ramah penduduk yang tak henti-hentinya mengucapkan salam untuk sekedar mampir sebentar. Disebuah tikungan jalan, nampak sekelompok penduduk desa dengan cangkul dan sabit nampak sibuk di pinggir jalan. Mereka beramai-ramai memperbaiki jalan desa yang rusak dan selokan yang tersumbat akibat tanah longsor. Sebuah budaya di Nusantara yang mulai pudar, namun di sini masih ditemui, dimana "guyup" kebersamaan dalam kerukunan. Sebuah kearifan lokal yang patut ditularkan pada masarakat yang telah mengalami erosi kemanusiaan.
Setelah berjalan sekitar 90 menit sampai juga di kaki gunung Andong. Dusun Sawit, menjadi titik awal perjalanan. Gunung yang sebenarnya tidak terlalu tinggi bagi para penggiat alam bebas yang sudah melalanglang buana, namun dari sisi keindahan tak kalah dengan gunung-gunung yang lain. Bentuk penggungan, atau pelanan kuda yang curam dan timpis adalah daya tariknya. Jalan setapak menuju puncak, tak seperti bentuknya yang curam, tetapi sangat landai dan sudah berundak-undak. Bagi pendaki pemula atau yang mereka yang belum pernah melakukan pendakian, disinilah tempat yang cocok untuk mengapresiasikan diri dengan tingkat kesulitan yang tidak begitu tinggi.
Jalan berliku, namun tak begitu menanjak tak membuat lelah bagi mereka yang tak terbiasa dengan medan berat. Bagi mereka yang biasa melahap medan berat, jalur ini adalah track yang mengasyikan karena bisa memacu kecepatan langkah kaki. Hutan pinus menyambut kedatangan langkah kaki dengan semerbak harum terpentin yang khas. Nampak lumut kerak atau Lichens menempel menghiasi batang-batang Pinus yang kokoh menjadi indikator bahwa udara disana bebas polusi. Lichens yang rentan terhadap pencemaran udara adalah sebuah anugerah jika masih kita temui saat tumbuhan ini masih subur disana. Begitu juga dengan tanaman pioner lain seperti lumut yang nampak hijau segar dibebatuan dan pepohonan.
Kaki melangkah semakin ke atas dan seolah rasa lelah ini hilang oleh suguhan pemandangan indah. Sebuah pancuran air yang terletak di tengah jarak antara puncak seolah menjadi pelepas dahaga. Nikmati air gunung langsung dari mata airnya adalah sensasi yang jarang kita dapatkan dihutan beton. Disela-sela rerumputan tumbuh bunga-bunga liar yang jarang kita temui di bawah sana. Salah satu yang menarik mata untuk sekedar melihat dari dekat adalah famili Orchidaceae. Anggrek hutan berwarna kekuningan yang mekar nampak mempesona di sela-sela rumput liar. Hanya sebuah harapan kiranya tanaman cantik ini tetap ada ditempatnya tanpa ada tangan jahil yang mengusiknya.
Setelah hampir 2 jam, sampai juga di pertinggaan puncak. Disis kiri ada sebuah bangunan yang diperuntukan untuk makam yang dikeramatkan. Untuk menuju puncak harus sedikit mendaki ke arah kanan. Dari puncak sisi kanan, ada 3 puncak yang bisa kita daki. Jalur berupa punggungan yang curam adalah daya tariknya. Jalur yang tidak ada di gunung lain, dan ini menjadi ciri khas Gunung Andong. Berjalan diantara 2 lembah yang curam adalah sensasi sendiri, disaat hempasan angin membelai tubuh yang tak terjaga. Akhirnya sampai di puncak tertinggi dan mata ini bebas dan leluasan memandang apa yang ada di depan sana. Di bawah nampak dusun-dusun dengan jarak yang salin berjauhan dengan dihubungkan jalan-jalan dan pancangan tiang. Gunung Andong, kami datang dan suatu saat pasti kembali dengan teman-teman untuk menjamah setiap jengkal lekukan tubuhmu. Jalur yang landai dan aman, sangat direkomendasikan bagi pemula atau siapa saja yang ingin sekedar berjalan-jalan dengan sedikit bumbu petualangan. Selamat bertualang dan jaga bumi kitas satu, satu bumi kita dan mari bersatu menjaga bumi kita.
Labels: gunung andong
Artikel Menarik Lainnya
| 0 Komentar | Tampilkan |
Tidak ada komentar.










