12 April 2012 | Sumatera Barat | Wisata Budaya
![]() |
|
1. Padang Barat
Jl. Juanda No 8, RT 001 / RW 003
Telp : 0751 - 443694
2. Solok
Jl. Pandan Ujung No. 41 PPA
Telp : 0755-21038
Fax : 0755-325150
3. Bukittinggi
Jl. Nawawi no.8 Tarok Dipo
Telp : 0752-31796
Fax : 0752-628837
Kalau Anda berkunjung ke Pariaman, dan tinggal beberapa hari di sana, ada baiknya memasang mata dan telinga. Siapa tahu ada pesta adat digelar, misalnya pesta pernikahan. Selain sakral, pesta ini juga unik, dan bisa jadi ajang belajar kearifan lokal.
Saya sempat menyaksikan ritual adat pernikahan di Pariaman beberapa waktu lalu. Mirip keberuntungan, karena bisa mendokumentasikan pernikahan jelang sehari pesta dan paska dua hari pernikahan. Kebetulan calon mempelai perempuan adalah sahabat semasa tinggal di Malaysia.
Pariaman adalah satu dari sedikit daerah di Ranah Minangkabau yang mempertahankan adat ‘membeli lelaki’ dalam pernikahan. Membeli dengan sejumlah uang ini kerap disebut ‘uang jemputan’ yang besarnya ditentukan berdasarkan kesepakatan kedua belah pihak. Adat ini hanya dianut Pariaman dan Padang, sedang di daerah lain seperti Payakumbuh, Bukittinggi, dan Solok, tak menganut adat ini. Uang jemputan ini bukanlah mahar macam pernikahan di India. Tapi bea yang dikeluarkan pihak perempuan untuk membawa lelaki itu tinggal di keluarga perempuan.
Selain uang jemputan, keluarga mempelai pengantin perempuan akan menjemput pengantin lelaki. Dalam perjodohan, pihak mamak (paman) keluarga perempuanlah yang berinisiatif mendekati mamak (paman) pihak lelaki. Dalam hal ini, tampak kuatnya otoritas pihak perempuan dalam kekerabatan matrilineal. Konsep ini saya pahami dalam memaknai ritual adat pernikahan Pariaman.
Sehari menjelang pernikahan, kesibukan di rumah mempelai perempuan sungguh luar biasa. Dinding ruang tamu dihias dengan warna dominan oranye mendekati merah dan benang keemasan. Demikian pula kamar tidur. Warna merah adalah warna orang Pariaman, begitu kata teman. Makanya, salah satu pakaian pengantin juga berwarna merah emas ini.
Di halaman depan, dipasang tenda untuk acara resepsi dan pesta tiga hari tiga malam. Sementara di dapur, para perempuan, baik kerabat dan tetangga, sibuk memasak. Beragam penganan tradisional disiapkan, aneka kue mirip cucur, rengginang, apem-apeman, dan jodah, yaitu kue wajik yang berukuran besar. Piring dan gelas menggunung diletakkan di sudut ruangan lain, yang kelak berfungsi sebagai ruangan makan kaum perempuan kala pesta.
Malam menjelang akad nikah, tangan dan kaki mempelai perempuan dihias dengan malam. Mempelai perempuan juga menjalani semacam pantangan dan kewajiban, misalnya harus makan nasi pertama yang baru dimasak, juga makan sayur dan lauk yang pertama kali. Nasi dan lauk ini dibawakan ke kamar, khusus mempelai perempuan makan. Makna yang terkandung, menjaga kesucian dan kemurnian mempelai perempuan.
Keesokan paginya diadakan akad nikah di rumah mempelai perempuan. Sebelum akad nikan, mempelai lelaki dijemput dulu oleh perwakilan mempelai perempuan. Pada saat akad nikah inilah baru kedua mempelai bertemu. Paska diresmikan sebagai suami istri, mempelai lelaki pulang ke rumahnya, sementara mempelai perempuan sendiri duduk di selayar. Adat melarang mereka duduk berdampingan hingga mempelai lelaki resmi dijemput pihak keluarga mempelai perempuan dalam acara menjalang.
Saya terkesan dengan pesta makan-makan ini. Ratusan piring dikeluarkan, berjajar memenuhi permadani. Aneka menu terhantar di sana. Mulai rendang yang khas Pariaman, sayuran mirip pecel dan mereka sebut rujak, mie, dan macam-macam lagi yang saya tak tahu namanya. Juga aneka penganan dari kue, cucur, penganan tradisional, dan macam lagi. Pesta benar-benar memanjakan perut dan lidah.
Pesta dan acara makan-makan berlangsung sejak usai akad nikah hingga tengah malam, demikian juga keesokan harinya. Mempelai perempuan harus duduk lebih delapan jam mengenakan suntiang –mahkota bertabur mirip emas- yang beratnya lebih dua kilogram itu. Pesta di hari kedua pun dilalui mempelai perempuan dengan duduk sendiri di singgasana pengantin.
Yang agak mengejutkan saya, adalah pengumuman jumlah sumbangan –dalam hal ini uang tunai- jelang acara pesta usai. Nama siapa yang menyumbang berikut besarnya uang sumbangan. Andai menyumbang sedikit, tentu malulah si penyumbang. Hehe..
Pada malam kedua pesta, jelang tengah malam, mempelai perempuan dan keluarganya siap menuju ke rumah mempelai lelaki dalam acara ‘menjalang’. Karena desa mempelai lelaki agak jauh, maka mereka menggunakan kendaraan menuju ke sana. Begitu sampai di rumah mempelai lelaki, acara makan-makan pun digelar. Pengantin perempuan tetap duduk di selayar seorang diri. Sementara mempelai lelaki tak boleh menampakkan batang hidungnya, entah ngumpet di mana.
Acara menjalang ini berlangsung hingga subuh. Paska makan-makan, digelar acara berbalas pantun, dan diakhiri dengan pemberian hadiah oleh keluarga mempelai lelaki kepada mempelai perempuan. Banyak hadiah didapat mempelai perempuan. Saya catat mempelai perempuan mendapat 46 kain panjang, dua pasang baju, sepasang gelang emas, 23 cincin emas, uang tunai beberapa juta, dan masih banyak lagi. Nilainya mungkin setara uang jemputan, bahkan lebih.
Keesokan harinya, barulah mempelai lelaki dijemput dari rumahnya, dan siap tinggal di rumah mempelai perempuan. Mereka pun boleh duduk bersama di selayar. Akhirnya, selesai juga ritual pernikahan adat yang panjang ini!
Labels: pariaman
Artikel Menarik Lainnya
| 0 Komentar | Tampilkan |
Tidak ada komentar.







