26 April 2012 | Jawa Barat | Wisata Kota
|
1. Bekasi
Ruko Grand Mall Blok C 20,
Jl. Jend. Sudirman No. 1
Telp : 021 - 89119761
2. Bekasi
Jl. Gatot Subroto No. 36 - 38,
Kp. Pilar RT 02 / RW08
Telp : 021 - 89119761
Fax : 021 - 89119765
3. Depok
Jl. Margonda Raya No 88 A-C
Telp : 021-77204222
Fax : 021-77200022
4. Bogor
Jl. Raya Tajur No. 162 D
Telp : 0251-378862
Fax : 0251-310543
5. Bandung
Jl. Terusan Pasir Koja No. 98 Rt 011 / 08
Jamika - Bojong Loa Kaler - Bandung
Telp : 022-6041945
Fax : 022-6041947
6. Sumedang
Jl. Mayor Abdurachman No 103
Telp : 0261 - 208258
Fax : 0261-208256
7. Subang
Jl. Letjen.Suprapto No. 3
Telp : 0260-421172
Fax : 0260-421167
8. Karawang
Jl. Sorokunto No 52, RT 01 / RW 08
Telp : 0264-304703
9. Tasikmalaya
Komp. Ruko TST
Jl. Ir. H. Juanda No 18 Rt.01/04
Telp : 0265-327525
Fax : 0265-327528
10. Garut
Jl. Cikuray No. 38 Rt. 001 / Rw. 006
Telp : 0262-240969
Fax : 0262-243307
11. Banjar
Jl. Mayjend. Didi Kartasasmita 3, 5, 6
Telp : 0265-744336
Fax : 0265-745290
12. Cirebon
Jl. Dr. Wahidin No. 63
Telp : 0231-230750
Fax : 0231-232481
13. Indramayu
Jl. Raya Bangkaloa Ilir No. 25
Telp : 0234-352919
Fax : 0234-353300
14. Sukabumi
Jl. Pabuaran No. 12 Rt. 005 / Rw. 002
Telp : 0266-215366
Fax : 0266-217203
15. Cianjur
Jl. IR. H. Juanda No. 19, RT 01 / RW 13
Telp : 0263-282723
Fax : 0263-282726
Dibandingkan museum atau gedung bersejarah lain di kota Bandung, Museum Pos Indonesia yang beralamat di Jl. Cilaki No. 73 ini terletak agak tersembunyi. Namun sebenarnya tak sulit menemukan museum ini, karena lokasinya tepat di sayap timur Gedung Sate, bersebelahan dengan Kantor Pusat PT Pos Indonesia. Museum Pos Indonesia buka pada hari Senin sampai dengan Jum’at, pukul 09.00-16.00 WIB. Untuk masuk ke museum ini, tidak dipungut uang tiket, hanya perlu mengisi buku tamu.
Museum ini merupakan salah satu museum tertua di Bandung, berdiri sejak tahun 1933 dengan nama Museum PTT (Post Telegraf en Telefon), yang digunakan sebagai tempat koleksi perangko dari berbagai negara. Bangunan tempat museum ini berada dibangun pada tahun 1920 dengan luas 706 m2, dirancang oleh arsitek Ir. J. Berger dari Landsgebouwendienst (Jawatan Gedung-Gedung Negara) dengan gaya arsitektur Italia masa Renaissance.
Pada masa pendudukan Jepang, gedung ini dikuasai oleh Jepang dan diberi nama Tsuushin Shokyoku. Setelah proklamasi kemerdekaan, Jepang tidak bersedia menyerahkan gedung ini. Akhirnya para pegawai tinggi Djawatan PTT sudah hilang kesabaran, dan pada tanggal 27 September 1945, di bawah pimpinan Mas Soeharto, para pekerja Djawatan PTT melakukan aksi perebutan kekuasaan terhadap gedung ini, dan Mas Soeharto diangkat menjadi Kepala Djawatan PTT Republik Indonesia.
Selama masa pendudukan Jepang dan masa kemerdekaan, dapat dikatakan museum ini terabaikan, banyak koleksinya yang hilang, bahkan keberadaannya pun nyaris terlupakan. Tahun 1980, Direksi PT Pos & Giro membentuk suatu kepanitiaan untuk menghidupkan kembali keberadaan Museum PTT. Bertepatan dengan Hari Bakti Postel tanggal 27 September 1983, museum ini secara resmi dibuka kembali dan diberi nama Museum Pos dan Giro. Seiring perubahan status Perum Pos dan Giro menjadi PT Pos Indonesia, maka pada tanggal 20 Juni 1995 nama museum ini berubah menjadi Museum Pos Indonesia.
Museum Pos Indonesia terdiri atas dua lantai, yaitu lantai dasar dan lantai bawah tanah. Di lantai dasar, terdapat Kantor Pos Cilaki, sehingga pengunjung bisa melihat aktivitas kantor pos secara nyata. Area Museum yang sesungguhnya berada di lantai bawah tanah, tepatnya di sisi kiri Kantor Pos Cilaki. Ruang museum yang tidak terlalu besar ini menyimpan tiga jenis benda koleksi, yaitu koleksi sejarah, peralatan, dan filateli.
Menuruni tangga untuk memasuki museum, di dinding terdapat bingkai yang berisi profil Museum Pos Indonesia. Memasuki ruangan museum, benda pertama yang akan ditemui adalah koleksi bis surat dari berbagai masa. Bis surat pertama kali digunakan di Hindia Belanda pada tahun 1829 di kantor pos Batavia, sedangkan penggunaan bis surat untuk umum disediakan di Semarang pada tahun 1850 dan Surabaya pada tahun 1864. Bis surat kuno dengan tulisan Brievenbus yang dipajang di museum ini dibuat dari pelat besi dengan berat kurang lebih 400 kg, dan digunakan pada tahun 1911.
Di sisi lain ruangan terdapat beragam peralatan pos dari masa ke masa, termasuk sepeda petugas pos, timbangan surat, kantong pos, stempel pos, seragam pekerja pos, serta meja sortir. Terdapat juga mesin penjual perangko otomatis modern, sayangnya mesin ini sudah rusak. Satu koleksi yang menarik dan patut dilihat adalah mesin penjual perangko kuno yang digunakan pada awal abad 20 di Hindia Belanda, perangko yang dijual senilai 12,5 sen.
Koleksi utama dan yang terbanyak dari museum ini adalah koleksi perangko dan sampul hari pertama. Bagi para penggila filateli, koleksi museum ini sangat menarik, dengan jumlah mencapai 114.984 buah dan berasal dari 178 negara. Sebagian besar koleksi perangko yang dipajang berasal dari Belanda. Hal ini tidak mengherankan, karena museum ini asal mulanya didirikan oleh perusahaan pos Hindia Belanda. Salah satu koleksi perangko istimewa adalah prangko pertama yang diterbitkan di Indonesia, yaitu perangko bergambar Raja Willem III berwarna merah anggur bernilai 10 sen yang diterbitkan pada 1 April 1864. Perangko ini merupakan hasil rancangan JW Kaiser dari Amsterdam.
Salah satu peragaan yang wajib dilihat adalah lukisan perangko pertama di dunia, “The Penny Black”, yaitu lukisan bergambar kepala Ratu Victoria. Perangko pertama ini diciptakan oleh Sir Rowland Hill, terbit pertama kali pada tanggal 1 Mei 1840 dengan nilai nominal 1 Penny. Di sisi dinding yang bersebelahan dengan lukisan “The Penny Black”, terpasang lukisan Sir Rowland Hill, Bapak Perangko Dunia yang menciptakan “The Penny Black”. Di sudut salah satu ruangan terdapat foto-foto yang menunjukkan proses pembuatan perangko, pencetakannya hingga siap dijual untuk digunakan oleh konsumen.
Museum ini juga menyimpan berbagai memorabilia dari sejarah PTT, termasuk foto-foto Direktur PTT di jaman Belanda, PT Pos dan Giro, sampai dengan masa PT Pos Indonesia saat ini. Salah satu koleksi sejarah dari museum ini adalah Ruang Mini Mas Soeharto, Kepala Jawatan Pos, Telefon dan Telegraf Republik Indonesia yang pertama (1945-1949), yang dikenal sebagai Bapak PTT. Dalam ruang mini tersebut dapat dilihat lukisan foto Mas Soeharto, foto keluarganya, serta perabot dan radio kuno dari ruang kerja Mas Soeharto. Pada masa perang kemerdekaan, Belanda menuduh Mas Soeharto menyalahgunakan pemancar PTT untuk digunakan oleh para pejuang RI. Tanggal 17 Januari 1949 rumah Mas Soeharto di Yogyakarta dikepung pasukan Belanda pimpinan Letnan Kramers, dan dalam keadaan sakit Mas Soeharto dibawa dan disiksa oleh tentara Belanda. Sejak saat itu Mas Soeharto tidak diketahui nasibnya. Sebagai pelengkap koleksi Mas Soeharto, di beranda depan Museum Pos Indonesia dipasang patung dada Mas Soeharto buatan seniman kondang AD Pirous.
Melangkah ke ruangan paling ujung, pengunjung akan menemukan Pameran Surat Emas dan Naskah Nusantara, dalam bentuk poster replika surat-surat kuno dari jaman kerajaan Nusantara. Surat-surat tersebut adalah korespondensi dari penguasa kerajaan di Nusantara kepada raja dan pejabat tinggi Inggris. Surat dan naskah yang asli saat ini menjadi koleksi British Library di London. Surat-surat tersebut ditulis di berbagai media termasuk kertas, daun lontar, kulit kayu, perunggu dan emas. Aksara dan bahasa yang digunakan juga beragam, termasuk aksara dan bahasa Jawa kuno, aksara dan bahasa Arab, serta bahasa Melayu. Saya tak bisa membayangkan, setiap kali kerajaan Inggris menerima salah satu surat tersebut, penerjemahnya harus bekerja keras agar surat tersebut dapat dipahami oleh raja atau ratu Inggris.
Labels: museum , bandung , museum pos , perangko
Artikel Menarik Lainnya
| 0 Komentar | Tampilkan |
Tidak ada komentar.







