Search Destination
Temukan artikel seputar tempat dan aktivitas wisata yang kamu sukai, mulai dari berenang di pantai sampai panjat tebing.

Daerah Wisata


Jenis Wisata


Kata Kunci





SPONSORED



Total Article
1521
Total Member
14533





Home > Article

10 November 2011 | Nusa Tenggara Timur | Wisata Kota
Flores : Keindahan Indonesia yang tak tawar menawar
Hananto Maryan Wiguna
Walker
Rate
Share  

1.  Kupang
     Jl. Irian Jaya No. 1 A
     Telp : 0380-828822
     Fax  : 0380-824422

 

2.  Flores
     Jl. Anggrek No 18 Maumere Sikka Flores
     Telp : 0382 - 22187
     Fax  : 0382 - 22524

Keinginan untuk dapat mengunjungi Pulau Flores yang sudah lama saya rencanakan akhirnya dapat terwujudkan. Sebagai mahasiswa, musim liburan sangat saya gunakan semaksimal mungkin untuk bisa mewujudkan kegiatan yang tidak ditekuni didunia kampus, salah satunya petualangan. Berkunjung ketempat baru dan menikmati alamnya adalah sebuah kepuasan tersendiri meskipun untuk bisa mewujudkannya dibutuhkan banyak persiapan dan tak sedikit pengorbanan, begitu juga ketika saya mengunjung Flores.
Keindahan pulau Flores sebenarnya tidak diragukan lagi, banyak sekali informasi yang selalu menyebutkan keindahan-keindahan alam Flores. Dua hal yang tidak bisa lepas dari keindahan Flores dan mendunia adalah Taman Nasional Komodo dan Taman Nasional Kelimutu. Keduanya terletak berjauhan, Taman Nasional Komodo berada di Kabupaten Manggarai Barat (Flores bagian barat) dan Taman Nasional Kelimutu berada di Kabupaten Ende (Flores bagian timur).
Perjalanan menuju Flores adalah perjalanan terberat saya selama ini. Berangkat dari Yogyakarta dengan memilih jalur darat (agar menghemat juga ^--^) membuat tubuh sangat terasa capek. Rute saya mulai dari Jogja-solo, Solo-Bima, Bima-pelabuhan Sape, dan terakhir menyeberang 8 jam dengan menggunakan Ferry dari pelabuhan Sape menuju Labuan Bajo. Penyeberangan dari Sape-Labuan Bajo hanya ada satu kali dalam sehari yaitu pukul 8 pagi, maka jika kita ingin ikut kapal dan sebelumnya menginap di Kota Bima, kita harus berangkat dari Bima pagi-pagi sekali menuju pelabuhan Sape yang memakan waktu tempuh sekitar 1,5 jam.
Labuan Bajo merupakan pintu gerbang paling barat dari pulau Flores. Kota ini juga merupakan satu-satunya pintu gerbang jika kita ingin berkunjung ke Taman Nasional Komodo. Trip pertama saya di Flores adalah Taman Nasional Komodo.
1. Taman Nasional Komodo
Pagi-pagi sekali saya sudah bersiap menuju pelabuhan dimana saya sudah berjanji dengan pak Zainudin dari semalam untuk bersama berangkat ke Pulau Komodo. Pak Zainudin adalah salah satu pemilik kapal yang sekaligus menjadi nakhoda kapalnya untuk perjalanan wisata ke Taman Nasional Komodo. Untuk ke Pulau Komodo kita harus berangkat pagi-pagi sekali agar mempunyai waktu banyak ketika berada di Pulau Komodo. Perjalanan akan memakan waktu sekitar 4 jam dari Labuan Bajo.
Lantunan lagu rege kesukaan pak Zainudin dan segelas kopi Flores menemani perjalanan saya menuju Pulau Komodo. Pemandangan sepanjang perjalanan amat indah, gugusan pulau-pulau batuan karang menonjol ke permukaan laut dan berwarna kuning keemasan. ketika itu musim kemarau, jadi rumput yang tumbuh dominan terlihat mulai menguning, kontras dengan biru dan beningnya laut yang kami tembus. Sepanjang perjalanan sebisa mungkin kita selalu siap memegang kamera kerena akan ada saja pertunjukan alam yang amat langka ditemui. disepanjang perjalanan menuju Pulau Komodo saya beberapa kali menemui kelompok lumba-lumba melompat keudara seolah memberi ucapan selamat datang di surganya alam Indonesia itu, di permukaan laut beberapa kali terlihat penyu mengapung dan kembali menyelam karena terganggu dengan riak kapal yang saya tumpangi.
Mendekati pintu masuk Pulau Komodo, kita akan melewati lautan yang airnya terlihat sangat jernih dengan bukit dan tebing-tebing batuan yang sangat indah. Beberapa pantai dengan pasir putih sangat sering kita jumpai di teluk-teluk kecil diantara bukit-bukit karang yang menjulang.
Pulau Komodo semakin terasa dekat ketika saya diminta untuk berpegang pada badan kapal oleh pak Zainudin karena menurut beliau kita akan melawan arus yang amat kencang. Belakangan saya baru tau kalau arus disana memang deras karena celah dari penyempitan laut yang relatif kecil. Saya bingung didepan lokasi yang ber-arus deras itu justru terdapat beberapa kapal wisatawan yang menambatkan jangkar mereka. Semakin kedepan, saya begitu terpana melihat sebuah teluk kecil dengan pantai yang sangat indah dan berpasir berwarna merah muda. Pak Zainudin berteriak pada saya “ itu Pink Beach, kita kesana ketika pulang dari pulau saja”, kira-kira begitu beliau berkata pada saya dan saya menjawab dengan acungan jempol pada beliau.
Merapat di dermaga Pulau Komodo adalah sebuah hal yang sangat unik dan menarik. Begitu sampai di dermaga, saya sudah disambut oleh sebuah bangunan memanjang dari beton bertuliskan “Komodo National Park World Heritage Site”, sebuah penyambutan yang amat membakar jiwa nasionalis dan selalu terngiang bahwa saya ketika itu masih berada di Negara kita, ya saya masih di Indonesia.
Keindahan Pulau Komodo benar-benar membuat lelah perjalanan panjang saya terobati. Alam yang sangat eksotis dan pertemuan dengan binatang purba Komodo adalah sebuah pengalaman yang tak ternilai, kita masih bisa melihat langsung binatang yang sudah hidup sejak jutaan tahun lalu di habitat aslinya yang amat terjaga. Disini komodo pertama yang saya temui berada di sekitar Hutan Asam, berjarak sekitar 300 meter dari pintu masuk pulau Komodo.
Tidak lama saya berada dipulau Komodo, hanya sekitar 2,5 jam saja dan sisanya saya habiskan di Pantai Merah (Pink Beach). Untuk mencapai Pantai Merah dari dermaga Komodo tidaklah memakan waktu lama, mungkin hanya sekitar 30 menit saja. Di pantai ini, setiap kapal pengunjung tidak boleh sembarangan parkir alias melempar jangkar karena ditakutkan akan merusak ekosistem laut dan karangnya.  Sejak diatas kapal, saya sudah terkagum-kagum dengan pemandangan alam bawah laut Pantai Merah, airnya yang sangat jernih dan karangnya yang begitu indah sudah bisa dinikmati sejak kita masih diatas kapal. Alhasil, snorkeling adalah pilihan paling tepat untuk menikmati kekayaan keindahan alam ini. Saya juga menyempatkan untuk mendarat ke bibir Pantai Merah, pasirnya sangat halus dan warna merah ternyata disebabkan karena adanya pecahan halus karang yang berwarna merah. Oleh karena itulah pasir di pantai ini terlihat berwarna putih kemerahan.
Perjalanan menuju pulau Komodo saya tutup dengan menikmati sunset yang begitu menawan dari atas kapal. Sambil mengeringkan badan, perjalanan pulang menyuguhkan sunset terbaik yang pernah saya nikmati. Permukaan laut memantulkan cahaya jingga matahari senja, meninbulkan efek keemasan. Sore itu saya dan beberapa teman menikmati sunset dengan lantunan “Tanah Air Beta” yang kami nyanyikan diatas kapal, Indonesia tertanam dalam jiwa.
2. Pulau Bidadari
Pulau bidadari adalah salah satu pulau indah yang dimiliki pemerintah Manggarai Barat. Sayangnya pulau ini dikelola oleh salah satu investor asing sehingga untuk wisatawan yang tidak ikut dalam paket wisata pengelola tidak dapat menikmati keindahan alam Pulau Bidadari secara penuh. Sayang sekali rasanya jika kita membayangkan betapa keindahan alam dinegeri sendiri tidak bisa kita nikmati karena pemerintah kita tidak mampu mengelola kekayaan alam itu dengan maksimal, begitulah kira-kira yang kita rasakan ketika menginjakkan kaki di Pulau Bidadari.
Pulau bidadari memiliki pasir putih dan pemandangan bawah laut yang tak kalah indahnya. Bersama beberapa orang teman, kami berbaur bersama menikmati keindahan bawah laut Pulau Bidadati melalui kacamata snorkeling. Perjalanan murah meriah menuju pulau Bidadari membuat saya percaya bahwa masih banyak pulau-pulau lain di Indonesia yang pasti tak kalah indah. Dipulau Bidadari, tak banyak hal yang bisa saya lakukan selain bermain di pantai dan lautnya. Pemilik kapal melarang saya untuk keliling pulau karena khawatir akan ditangkap oleh petugas resort. Huuuuh, begitulah istilah “Negara dalam Negara” juga ada di beberapa pulau-pulau indah milik kita.
3. Cunca Wulang dan Hutan Mbeliling
Melanjutkan perjalanan kearah timur, keindahan alam yang bisa saya nikmati semakin beragam. Nama air terjun Cunca Wulang mungkin masih asing dibeberapa orang pecinta petualangan, sebuah kawasan yang memiliki keindahan alam luar biasa namun masih sangat sedikit dikunjungi wisatawan. Wajar saja namanya tidak begitu besar.
Dengan menumpang Oto Colt (truk penumpang) saya melanjutkan perjalanan ke Air Terjun Cunca Wulang bersama teman-teman.  Angan-angan tentang pulau Flores yang gersang dan kering benar-benar terpatahkan dalam perjalanan menuju Cunca Wulang.
Alam yang sangat hijau terhampar disepanjang kawasan Hutan Mbeliling. Cunca Wulang menawarkan sebuah suasana alam yang masih sangat virgin. Hutan-hutan lebat sangat terjaga disepanjang jalur tracking menuju Cunca Wulang. Oh ya, dari tempat terakhir yang bisa dicapai oleh kendaraan, kita harus berjalan kaki lagi sekitar 1 jam.
Sampai di Air Terjun Cunca Wulang, kita disuguhkan sebuah pemandangan yang tak ternilai indahnya. Batu-batu bersusun-susun, air mengalir diantara celah-celah bebatuan tersebut. Gemuruh air terjun sudah bisa terdengar, namun saya sama sekali tidak bisa melihat dimana letak air terjun tersebut.
Dari atas tebing batuan, kita dapat melompat langsung ke air yang sangat jernih untuk mandi dan menyelam. Hutan yang asri juga membuat suasana di lokasi menjadi sangat teduh, air mengalir dengan amat perlahan membuat enggan sekali ingin naik ke daratan.
Dengan berteman seorang anak kecil yang mandi bersama saya di sungai, saya menaiki sebuah bukit melalui jalan setapak terjal. Anak ini adalah masyarakat local disekitar Cunca Wulang dan melalui dia pula saya mendapat informasi bahwa dari atas bukit pemandangan sangat bagus. Terang saja, dari atas bukit terhampat air yang jatuh dari sebuah sungai melewati beberapa celah bebatuan. Subhanallah, Indonesia memang indah kawan.
4. Danau Sano Nggoang dan Cunca Rami
Belum hilang bayangan keindahan dan kekaguman akan alam Taman Nasional Komodo, Pulau Bidadari, dan Cunca wulang, kembali saya disuguhkan kebesaran pencipta yang amat luar biasa. Melanjutkan perjalanan dengan suasana pedalaman Flores yang amat eksotis, Oto Colt yang saya tumpangi sesekali terjebab dalam lubang dalam jalanan batu menuju Kecamatan Werang. Jalanan batu beraspal membelah lebatnya hutan kemiri masyarakat yang hidup dikawasan hutan Mbeliling, meliuk-liuk meniti tepian bukit yang berujung pada sebuah lembah dan dikenal masyarakat dengan nama Werang. Werang merupakan ibukota kecamatan Sano Nggoang yang merupakan salah satu kecamatan terluas di Manggarai Barat.
Sampai di Werang, saya menggunakan ojek untuk bisa sampai ke desa yang hendak saya tuju, Desa Wae sano, tepatnya dusun Nunang. Menuju dusun Nunang, jalanan semakin memprihatinkan. Jalanan  hanya berupa jalan batu yang berada di pinggiran bukit. Senyum ramah masyarakat pedalaman Flores tak terlupa sampai sekarang. Perjalanan panjang terobati kembali dengan sebuah suguhan berupa mankok raksasa yang berisi air kehijauan. Dari celah-celah dedaunan bambu saya sudah bisa melihat Danau Sano Nggoang dengan samar-samar, semakin mendekat semakin jelas.
Dusun Nunang adalah pintu masuk dan tujuan wisatawan yang hendak menikmati alam danau Sano Nggoang. Di dusun ini masyarakat hidup sangat berdampingan dengan alam, rumah didirikan diantara kebun-kebun yang dibuat menyerupai komposisi hutan dan pekarangan yang hijau tertata rapi. Suhu di dusun ini cukup dingin, sehingga udara terasa sangat segar. Dusun ini terletak persis ditepi danau Sano Nggoang.
Danau Sano Nggoang adalah danau vulkanik terbesar di NTT. Keindahan danau ini hanya sebagian kecil orang saja yang mengetahui, beruntung sekali saya bisa sampai di lokasi ini.
Sampai di dusun Nunang, saya diterima secara adat “kapu” oleh masyarakat setempat. Upacara adat kapu memiliki beberapa ritual yang secara garis besar berisi penyambutan dan selamat datang pada tiap tamu yang berkunjung dan disampaikan oleh seorang “tua golo” (ketua adat) dan dilanjutkan dengan penyerahan ayam berwarna putih bersih untuk ditukarkan dengan pemberian dari kita seikhlasnya. Setelah diterima secara adat, kita sudah dianggap sebagai bagian dari keluarga yang ada disana, baru setelah itu saya diantar menuju sebuah rumah yang akan saya tumpangi beberapa hari kedepan, tepatnya rumah papa Step Juma.
Dusun Nunang tidak ada listrik, signal handpone, dan jauh sekali dengan gangguan keramaian. Malam di dusun Nunang adalah malam yang paling indah buat saya. Sambil menikmati kopi Flores yang disuguhkan Mama Sin, saya melongok keluar rumah yang gelap. Indahnya langit malam itu, bulan dan bintang tak ada satupun yang terluhat samar, semua terlihat begitu jelas dan terasa amat dekat. Ini mungkin disebabkan karena tidak ada polusi cahaya dan polusi diudara dusun Nunang sehingga langit yang cerah benar-benar terlihat indah. Saya ajak mama dan papa dirumah tumpangan saya untuk keluar bersama bens (seorang anak mama usia 9 tahun), diluar kami lanjutkan bercerita sambil melingkar di bara yang saya buat.
Pagi di Nunag tak kalah mengasyikkan, langit pagi sangat bersih dan biru. Burung berkicauan di pohon-pohon yang ada dipekarangan rumah dan kebun. Memang Danau Sano Nggoang merupakan salah satu daerah tujuan bagi mereka yang amat suka mengamati burung. Burung di dusun Nunang sangat banyak dan hidup di sekitar pemukiman masyarakat. Sebuah pola yang amat nyaman yang disediakan alam jika kita benar-benar bisa menjaga kelestarian alam.
Setelah minum kopi dan sarapan pagi, saya dan papa (sebutan untuk orang tua laki-laki di sana) memulai wisata dengan mendaki sebuah puncak sebagai Savana. Dari savana, seluruh bagian danau dapat terlihat. Bak mangkok raksasa dipagari hutan yang menghijau, danau ini sangatlah indah dan danau dengan alam terbaik yang pernah saya lihat. Tak lama kami di puncak savana dan segera turun untuk bisa berkeliling di pinggiran danau.
Spot pertama dipinggir danau yang ditawarkan adalah sumber air hangat. Di danau Sano Nggoang terdapat beberapa sumber mata air hangat namun yang dimanfaatkan hanya satu lokasi saja. Dilokasi yang bernama Wae Ndu itu, air hangat di kelola dengan sederhana yaitu dengan cara dialirkan melalui dua batang bambu yang telah dibelah sehingga membentuk dua buah pancuran dan biasa digunakan untuk mandi. Di bagian lain, terdapat dua buah sumur air hangat yang berdiameter sekitar setengah meter. Suhu di keduanya berbeda, yang paling panas sekitar 80 derajat celcius dan yang satu lagi sekitar 30 derajat Celsius.
Puas di sumber air hangat, saya berjalan mengikuti pinggiran danau. Pohon-pohon beringin dan beragam jenis lain tumbuh baik disekeliling danau, namun di air danau tidak ada yang bisa hidup karena kandungan belerang yang sangat tinggi. Meskipun tidak sempat keliling danau, saya sudah cukup puas dengan perjalanan panjang yang diakhiri dengan melihat aula paroki dan sebuah gereja tua yang ada dipinggir danau, gereja ini merupakan gereja pertama yang ada di sana dan dahulu masyarakat dari Werang menjalankan misa setiap minggu ke geraja itu.
Perjalanan harus saya akhiri dengan berat hati untuk pamit ke keluarga baru di dusun Nunang. Sebuah keakraban dan jiwa persaudaraan yang amat kuat telah ditunjukkan oleh masyarakat Nunang pada saya, dalam hati saya sangat ingin kembali kedaerah ini jika ada kesempatan suatu saat nanti. Selamat tinggal Nunang, sampai jumpa dan aku selalu mencatat dalam hidupku betapa alam sangat hidup dalam kehidupan masyarakatmu.
Saya beristirahat di Werang, keadaan di Werang lebih ramai daripada Nunang. Dari Werang, akses menuju Cunca Rami dimulai. Cunca Rami adalah sebuah air terjun yang tak kalah indah. Masih dengan alam yang amat asri, lebih dekat dengan puncak Mbeliling yang berdiri menghitam dari kejauhan. Cunca rami menutup perjalanan saya di Kabupaten Manggarai Barat.
5. Taman Nasional Kelimutu
Beranjak kearah timur, dengan keadaan yang sudah serba terbatas saya tetap memaksakan ingin mengunjungi Taman Nasional Kelimutu. Dengan menggunakan Oto Colt, saya melanjutkan perjalanan menuju Ende. Perjalanan yang unik, saya alami dalam perjalanan menuju Ende ini. Dari Labuan bajo, saya tidak menyiapkan apa-apa untuk persiapan menghadapi berbagai macam perubahan cuaca, akibatnya ketika sampai didaerah Ruteng yang memiliki suhu yang amat dingin ini tubuh langsung menggigil. Lewat daerah ruteng, suhu yang panas kembali menyerang dan dingin datang lagi ketika sampai di Bejawa. Begitu seterusnya hingga saya sampai di Ende.
Di Ende saya hanya transit sebentar dan melanjutkan perjalanan menuju Kelimutu. Taman Nasional Kelimutu memiliki iklim dan suasana yang hampir mirip dengan beberapa gunung-gunung dipulau Jawa. Tidak berlama-lama diperjalanan, saya begitu tidak sabar ingin melihat danau tiga warna yang melegenda itu.
Dari lokasi parkir kendaraan, saya percepat langkah kaki menuju kawah tiga warna Kelimutu. Jalan yang menanjak rasanya tidak berujung karena badan sudah sangat letih. Barulah sekitar 20 menit berjalan kaki, saya sampai di pertigaan yang menunjukkan arah ke dua buah kawah. Saya bergegas mengikuti anak tangga yang sudah ada. Inilah karunia tuhan yang saya lihat sejak dahulu dan baru bisa saya nikmati setelah hidup beberapa puluh tahun didunia. Yang saya ingat dan terbayangkan ketika berdiri dibibir kawah Kelimutu adalah kedua orang tua saya di pedalaman propinsi Jambi. Dari kecil dengan bangga, ibu dan bapak sangat sering bercerita tentang danau tiga warna yang ada di dalam uang pecahan 5000 rupiah milik mereka. Aku terkesima betul dengan apa yang ada didepan mata ketika itu. Ibuku ternyata tidak hanya berdongeng, namun ceritanya betul meskipun aku tau beliau tidak pernah sampai ke Kelimutu yang sebenarnya. Aku melihat alam Indonesia yang menjadi kebanggaan kedua orang tuaku, ya itulah Kelimutu.
Udara sudah mulai panas rasanya ketika itu aku mulai mendaki kembali untuk bisa mencapai puncak Kelimutu. Dari puncak, kita dapat memandang hamparan alam yang menghijau. Yang paling menarik adalah ketiga kawah berbeda warna terhampar didepan mata. Danau tiga warna Kelimutu berupa kawah-kawah bekas letusan gunung berapi yang terisi oleh air dan akibat proses kimia terjadilah perubahan warna permukaan air pada waktu-waktu tertentu. Untuk ku, aku sangat bangga bisa sampai di Kelimutu karena kedua orang tuaku sangat membanggakan danau tiga warna ini.

Perjalanan di Pulau Flores saya akhiri cukup sampai di Taman Nasional Kelimutu. Perjalanan bermodal nekat dan niat yang kuat untuk bisa sampai di tanah timur negeri itu akhirnya terselasikan. Saya kembali ke Yogyakarta dengan melewati rute yang sama dengan ketika berangkat. Hanya saja menyempatkan singgah dibeberapa lokasi lagi yang ada disepanjang perjalanan pulang menuju arah barat.
Dalam hati saya berbisik bahwa saya harus kembali ke Flores suatu saat nanti. Entah untuk mengunjung jejeran lumba-lumba di laut Taman Nasional Komodo, menikati sepi dan lembutnya pantai-pantai di pulau Bidadari, keramahan masyarakat dan alam Wae Sano, atau mengajak kedua orang tua saya untuk bisa menikmati langsung alam Indonesia yang menjadi kebanggaan mereka : Kelimutu. Saya hanya bisa berharap itu bisa terwujud. Hal yang bisa saya perbuat dan saya dapatkan adalah sekecil apapun perbuatan untuk melestarikan ekosistem dan lingkungan harus kita mulai dari diri sendiri. Tidak ada hal yang bisa menjanjikan kelestarian alam Flores dan Indonesia secara umum tanpa ada tindakan yang pro pada pelestarian dari diri kita, dan itu beum terlambat jika kita mulai dari sekarang untuk seterusnya kita lakukan. Enjoy Indonesia.


Labels: komodo , cunca wulang , cunca rami , danau sano nggoang , kelimutu



Artikel Menarik Lainnya

2 Day trip ke Martapura (Kalimantan Selatan )
 
#BudayaNegeriku Wisata Marathon di Kota Pelajar
 
#Budaya Negeriku - Jember Fashion Carnival, Budaya Modern masa kini
 
#BudayaNegeriku - Menengok Seni Berbalas Pantun Dalam Pernikahan Adat Melayu Karimun
 
#BudayaNegeriku Mengabadikan Eksotisme Keraton Ratu Boko di atas Prangko
 
2 Komentar Tampilkan

Hananto Maryan Wiguna   12 November 2011 14:09:34
Balas  Laporkan 
jose andisaputra   12 November 2011 10:04:02
Balas  Laporkan 

Pertama   Sebelumnya   Selanjutnya   Terakhir  
User name
Password