Pagi hari sekali X-Team sudah bangun dan mulai bersiap melanjutkan perjalanan. Pasalnya, hari ini kami harus sudah sampai kota Bima sebagai kota terakhir di pulau NTB ini. Dari Sumbawa Besar tempat kami menginap memang sangat jauh sekali untuk sampai Bima. Waktu tempunya kira - kira 7 - 8 jam perjalanan darat. Selepas dari Sumbawa Besar jalan masih sangat bagus dan banyak di jumpai rumah penduduk. Namun 10 km kearah timur kondisi jalan mulai agak berlubang dan di kanan kirinya banyak ditanami padi.
Jalan trans Sumbawa yang kami lewati ini pada dasarnya lumayan besar dan bagus. Hanya saja pada beberapa bagian jalan yang sedang dilakukan pelebaran dan perbaikan. Selama perjalanan kami menyisir bagian Utara pulau Sumbawa yang membentuk teluk Saleh. Melewati Lape, Plampang, Empang dan Dompu. Pemandangan yang indah selalu kami jumpai saat jalan menanjak dan mencapai puncak saat di tikungan. Dari pinggir jalan, perpaduan warna hijau dan biru laut terlihat sangat indah.
Asiknya lagi, saat melewati desa Santong, kami menjumpai sekawanan kuda liar yang sedang bermain dan mencari makan. Kuda - kuda yang jumlahnya puluhan itu seolah - olah sangat kompak sekali mengikuti salah satu kuda yang berlari palig depan. Mulai dari tengah pematang sawah sampai ke pinggir jalan utama yang kami lewati. Buat masyarakat Sumbawa pada umumnya memang sengaja melepas kuda liar ternaknya itu mencari makan sendiri. Namun anehnya, setelah senja tiba mereka akan kembali lagi pada sang penggembala di tanah lapang yang ditentkan.
Suatu pemandangan yang unik dan menarik deh Foilovers. Pasalnya, dari sekumpulan kuda liar itu ada yang bentuk tubuhnya besar dan kecil. Namun sang ibunya selalu mendampingi kuda kecil yang gerakannya tak kalah lincah dengan kuda yang ukurannya lebih besar. Tak jauh dari tempat kami bertemu dengan sekawanan kuda itu ternyata terdapat penangkaran tradisional milik masyarakat. Namun berhubung lokasi agak jauh masuk ke dalam desa akhirnya kami urungkan niat untuk mendatanginya.
Puas mengambil gambar dan menikmati pemandangan layaknya iklan salah satu rokok asal negeri Paman Sam itu kami pun melanjutkan perjalanan kembali. Hampir disepanjang jalan kami banyak menemui sekawanan kuda dalam kelompok yang agak kecil. Nah, kali ini ada pemandangan yang cukup asing buat kami loh. Di depan sekumpulan kuda itu ternyata ada pengembalanya naik motor berboncengan. Yang satu mengendari motor dan satunya lagi menarik tali salah satu kuda yang sepertinya pemimpin kelompoknya. Karena dari belakang beberapa kuda yang tanpa di ikat mengikuti dengan tertib dibelakangnya. Hehehhehhehe, lucu juga sih tapi sunguh menarik perhatian kami.
Hhhmmmm… seru loh Foilovers, pastikan yah kalau kalian datang ke Sumbawa untuk datang ke daerah yang sangat banyak sekali kudanya ini. berhubung hari semakin siang menjelang sore, akhirnya kami pun tancap gas menuju desa berikutnya Plampang dan Empang. Selepas dari desa ini kondisi jalan agak rusak karena sedang di perbaiki. Banyak juga terdapat jalan tanah yang berlubang. Memang ada beberapa jalan yang kami lalui kondisi cukup parah. Ternyata di beberapa tempat di daerah ini untuk melebarkan jalan harus mengikis tebing kapur.
Alhasil, beberapa kali kami harus mengurangi kecepatan karena banyak terdapat kendaraan alat berat untuk menggali dan meratakan tanah. Dan tentunya di setiap daerah yang sedang diperbaiki juga dipenuhi dengan truk tanah yang siap mengangkut sisa dari membabat tebing. Hal ini sedikit membuat kendaran yang datang dari arah berlawanan harus mengantri untuk berjalan. Di beberapa tempat yang sudah diratakan juga ternyata kami harus mengurangi laju kendaraan. Pasalnya, ada beberapa jalan yang aspalnya masih basah sehingga saat dilewati aspal itu menempel di ban dan menimbulkan suara berisik pada bagian kolong roda.
Jalan yang cukup lengang dan tidak terlalu ramai di beberapa jalur luar desa membuat kami bisa menambah kecepatan. Tak terasa sudah hampir delapan jam tim berjalan. Beberapa kilometer memasuki kota Bima kami menyempatkan diri untuk minum es kelapa. Asiknya, semua kelapa yang disajikan terasa sangat segar seperti baru dipetik dari pohon. Dan betul saja, ternyata kelapa muda di tempat ini tak pernah ada buah yang lebih dari 3 hari setelah di petik. Jadi otomatis kesegaran air dan daging dalamnya sangat terasa sekali. Oh ya, disamping itu harganya juga tidak terlalu mahal loh Foilovers. Untuk satu buah kelapa bulat, kalian tinggal merogoh kocek Rp 5000 saja. Pokoknya dijamin puas dan menyegarkan tenggorokan deh. Usai melepas dahaga akhirnya kami pun melanjutkan perjalanan yang tinggal beberapa menit lagi ke kota Bima.