Sambil berkeliling di Kampung Tua Bena, Kecamatan Jerebu’u Kabupaten Ngada, NTT ini, kami juga melihat para ibu – ibu di depan teras rumahnya sedang duduk sambil menenun kain. Dan hampir rata – rata di setiap teras rumah di desa ini menggantungkan hasil kain yang telah selesai di buat. Masyarakat disini memajangkan kain hasil kerajinannya ini di depan rumahnya untuk lebih menarik para wisatawan untuk melihat dan membelinya.
Adapun motif yang menghiasi kain tenun biasanya, berasal dari lingkungan dimana mereka tinggal, seperti jaring laba-laba, sarang burungatau bendungan yang dibuat oleh berang-berang. Sementara bahan yang digunakan dari kulitkayu, kulit binatang, serat, dedaunan serta akar tumbuhan-tumbuhan. Hiasan lainnya berupagaris-garis geometris sebagai warisan bangsa Dongson yang pada tahap perkembangannyaberpadu dengan motif flora dan fauna manusia prasejarah asal Indonesia.
Pada umumnya ada tiga motif dasar asli desa Bena yang sampai sekarang masih digunakan. Seperti motif Kuda, Ayam dan Bunga. Sedang warna benang dasarnya adalah hitam. Saat ini juga sudah banyak yang menggunakan warna benang yang lebih beragam. Mulai dari kuning, merah, hijau dan biru sebagai warna dasar. Selain lebih bernuansa dan kaya akan warna, dipercaya setiap warna akan membawa kebaikan untuk yang memakainya.
Untuk pengerjaannya ternyata masih sangat sederhana loh Foilovers. Saat kami mengunjungi salah satu rumah, ternyata sang pembuat kain itu masih menggunakan alat tenun istilah daerah ini adalah Gedokan. Alat tenun ini sangat berbeda dengan Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM). Bentuknya sangat sederhana dan terkesan lebih mudah dari ATBM. Tenun gedokan tidak mengoperasikan kaki yang biasanya dilakukan pada ATBM pada umumnya. Namun ternyata yang kami pikir lebih sederhana mungkin lebih mudah ternyata tingkat kesulitannya hampir sama. Ibu Elena
Untuk menenun selembar kain, pengrajin kain harus mengurai 500 - 3000 helai benang untuk kain tergantung ukuran. Benang itu kemudian dimasukan satu persatu persatu kedalam alat yang menjadi pengikat saat penenunan. Namun, jika dalam pengerjaan ATBM sekitar 3000 helai benang dilakukan 2 kali kedalam Gun lobang dengan kamran yang memisahkan motif dan dasar, di alat tenun ini tidak. Namun tetap saja, dalam membuat coraknya harus mengurai kembali benang yang akan dibuat sebagai motif. Sebelum ditenun, helai-helai benang dibungkus (diikat) dengan tali plastik sesuai dengancorak atau pola hias yang diingini. Ketika dicelup, bagian benang yang diikat dengan taliplastik tidak akan terwarnai.
Menurut ibu Elena, penenun kain di desa Bena ini, untuk pengerjaan satu lembar kain ukuran 30 cm dengan panjang 1,5 meter dibutuhkan waktu 3 – 5 hari. Nah, untuk kain yang besar seperti ukuran sarung biasanya dihabiskan dengan waktu 1-2 minggu untuk menghasilkan selembar kain tenun. Dengan tingkat kesulitan yang tinggidalam menenunnya menjadikan pengerjaannya yang lumayan lama dalam menghasilkan selembar kain. Jadi kalau kami bilang sih sangat wajar saja bila harga harga kain tenun bisa mahal.
Namun Foilovers enggak usah khawatir loh jika ingin membawa pulang kain tenun asal desa Bena ini. harga yang ditawarkan ternyata tidak terlalu mahal kok. Untuk yang seukuran selendang di banderol dengan harga Rp 150 ribu dengan beragam motif dan warna. Sedang untuk ukuran yang lebih besar lagi harganya bisa mencapai Rp 500 ribuan. Harga yang sangat pantas lah bila dilihat dari pengerjaan dan kesabaran sang pengrajin dalam membuat selmbar kain. Selain itu, dengan membelinya kita dapat membantu perekonomian desa itu juga kok.
Berhubung desa ini sering di kunjungi wisatawan manca Negara, kain yang ukuran besar biasanya banyak di borong oleh turis itu. Satu orang saja bisa beli 3 sampai 4 lembar kain. Dan biasanya yang banyak membeli itu adalah wisatawan dari Eropa. Mereka sangat antusias sekali melihat pengerjaan dan hasil kain yang dihasilkan. Malahan ada juga yang menunggu pembuatannya sampai berhari – hari karena ingin dibuatkan nama pada kainnya. Nah kalau sudah begitu pastinya harganya berbeda dengan yang biasanya loh. Para turis itu sangat senang melihat budaya desa Bena ini sambil menunggu pengerjaan kain selesai.
Apa yang dilakukan oleh para ibu – ibu desa Bena itu adalah suatu cara mempertahankan warisan budaya yang sampai kapan pun harus tetap berlangsung. Biasanya mereka akan menurunkan keahliannya itu kepada anak perempuannya dikemudian hari kelak. Warisan Budaya serta Adat memang harus di utamakan dan di pertahankan agar anak cucu kita nantinya bisa tau tentang sejarahnya. Nah, biar gak penasaran dan gak kalah sama orang Eropa, kami juga membeli kain tenun hasil dari para ibu – ibu desa Bena ini yang memang sangat indah baik corak dan motifnya.